Ritual Mandi Belimau, Dusun Limbung Desa Jada


Ritual Mandi Belimau, Dusun Limbung Desa Jada

Bersihkan Diri Jelang Ramadhan, Diminta Jangan Dianggap Sirik
Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Desa Jada Bahrain, kembali menggelar acara adat Mandi Belimau. Apa dan bagaimana prosesi budaya tersebut? 

SATU persatu warga dari berbagai usia mulai memenuhi lokasi utama, tempat ritual acara mandi belimau. Kegiatan ini memang selalu menjadi pusat perhatian warga Dusun Limbung, Desa Jada, Kabupaten Bangka dan lainnya, setiap memasuki bulan suci ramadhan yang tinggal menghitung hari.
Kebersamaan warga yang penuh dengan kebahagiaan terlihat sepanjang hari hingga menunggu detik-detik ritual diselenggarakan. Empat kapling tenda yang telah disiapkan bagi pengunjung tak mampu menampung antusiasme warga atas ritual penyucian hari itu.
Hingga pada saatnya bertempat di sebuah panggung, dipersiapkan air yang akan diisi kedalam sebuah guci besar dengan bertuliskan kalimat Arab semakin mengentalkan aura ritual keagamaan tersebut. Perlahan lelaki berprawakan besar dengan diselimuti pakaian khusus layaknya pakaian yang digunakan para pahlawan pada zamannya dengan dijaga oleh enam laki-laki berdiri tegap mulai menaburkan beberapa media campuran ke dalam air yang diberi nama "Air Taubat" tersebut.
Tujuh jeruk nipis yang mensyaratkan untuk dapat menguasai ilmu panglima Syaidina Usman dan layaknya kesaktian Akek Pok, tujuh butir pinang yang mensyaratkan kesucian Nabi Muhammad SAW,  dan juga kesucian Batin seorang pendekar Depati Bahrin, tujuh iris bonglai kering yang mensyaratkan keberanian Syaidina Ali dan kesaktian Akek Jok dalam mengusir jin iblis. Tujuh mata kunyit mensyaratkan untuk terus rajin bekerja yang dihiaskan pada sosok Syaidina Umar dan tauladan Akek Sak, mata mukot tujuh jumput dan bawang merah tujuh biji yang mensyaratkan sosok Akek Daek dengan kepribadian penurut serta mendengar dan menerima nasehat serta arang usang yang mensyaratkan agar selalu sabar dan bersatu dalam jihad Fisabilillah sebagaimana Syaidina Abu Bakar dan keteguhan Akek Dung. Dengan perlahan air campuran tersebut diaduk disertai dengan doa yang akhirnya siap untuk disiram kepada seseorang sebagai simbolis kesucian.
Detik-detik pelaksanaan ritual itupun akhirnya digelar. Lautan manusia yang mengelilingi panggung seolah terhenyak dalam rasa penasaran walau harus berdesakan. Beberapa pejabat di lingkungan Pemkab Bangka dan Pemprov Babel pun silih berganti "Dimandikan". Mulai dari Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Babel, Yan Megawandi, Kadinkesos Babel, Sahirman, Rektor STAIN SAS Babel, Imam Malik dan lainnya. 
Tangan, muka, kepala dan kaki dari pejabat itu pun mulai dibasuh satu persatu. Tak hanya pejabat, masyarakat yang hadir juga ikut berebut dan menyiapkan gelas maupun botol, untuk meminta air yang dianggap suci tersebut. Seusai mandi, tanpa dikomando, satu persatu masyarakat mulai meninggalkan lokasi. 
Disisi lain, ratusan orang yang terbagi dalam suatu kelompok tampak lelah usai melaksanakan napak tilas mengarungi apa yang telah diperbuat oleh Depati Bahrin untuk bangsa dengan mengarungi dua belas perbukitan maupun hutan. "Sebagaimana rute yang telah kami lewati ternyata rute yang ditempuh oleh pahlawan kita Depati Bahrin beserta para panglimanya sangat jauh, karena saya pikir di pulau Bangka belum ada yang menjadi pahlawan nasional,"ujar Imelda, salah satu peserta napak tilas dari Desa Namang itu.
Walau masih terlihat terengah-engah, remaja yang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut memberikan pesan yang dinilainya harus diperjuangkan dengan apa yang telah ia ketahui atas perjuangan sang pahlawan. "Saya berpesan, acara ini tetap diselenggarakan setiap tahunnya dan semoga ke depan Depati Bahrin dapat menjadi pahlawan nasional, karena acara seperti inilah yang dapat mengangkat nama Depati Bahrin," harapnya. 
Sementara itu, H. Ilyasa menyebutkan, tujuan dari mandi belimau jangan disalahartikan oleh berbagai pihak. "Tujuan mandi belimau ini hanya bagaimana cara meminta keridhoan Allah,SWT melalui zikir dan kalamnya, selain itu bagaimana kecintaan kita melalui tasbih dan tahmit," ujarnya.
Tidak hanya itu, Ilyasa juga mengatakan tujuan lainnya adalah bagaimana cara mendekatkan diri pada Rasululllah dengan selalu bersalawat. Karena menurut Ilyasa, pada dasarnya keinginan manusia hanya satu yakni agar dikabulkannya doa mereka.
Oleh karena itu ia menjelaskan jika masyarakat berpikir jika ritual tersebut dijadikan sebagai ritual sesembahan dapat diartikan sebagai kemusrikan.  Untuk menghalangi pola pikir tersebut Ilyasa kembali menegaskan kepada para masyarakat untuk selalu dapat berpegang pada ajaran agama yang sebagaimana terdapat dalam Al Quran. "Kita lihat bagaimana keturunan Depati Bahrun yang saat ini berada di Kupang namun tetap dapat hadir, itu menandakan jika melalui mandi belimau ini kerukunan dan silaturahmi kita walau jauh tetap terjaga,"tandasnya.(**)





Berikan Komentar

Features Lainnya
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
MEMAHAMI KONTRAK SEPIHAK DALAM KREDIT PERBANKAN
Jum'at, 19 Oktober 2018 11:29 WIB
Pada umumnya bentuk perjanjian kredit dalam dunia perbankan berbentuk perjanjian standardd, yang mana dalam perjanjian standard syarat-syaranya sudah ditentukan secara
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Gelar Pat Ngiat Pan & Potret 100 Boen Toe
Rabu, 26 September 2018 00:55 WIB
MUNTOK - Bertepatan dengan tradisi sembahyang bulan atau Pat Ngiat Pan, Heritage of Tionghoa Bangka (HETIKA) mengelar Potret Boen
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Detik-detik Bunda Lompat ke Sungai saat Anak Diseret Buaya
Rabu, 11 Juli 2018 07:41 WIB
Rasimah (37), seorang ibu yang nekat terjun ke sungai di malam gelap untuk menyelamatkan buah hatinya dari cengkeraman buaya ganas.
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Agar Masyarakat Tahu Panglima TNI dan Kapolri Kompak
Senin, 09 Juli 2018 12:06 WIB
Kemesraan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian semakin hari kian terlihat jelas. Beberapa foto yang beredar