New Hope (9): Dari Berburu Berita ke Berburu Sengon


New Hope (9): Dari Berburu Berita ke Berburu Sengon

SAYA melihat gejala baru. Kelilinglah pedesaan Jawa: begitu banyak pohon sengon sekarang ini. Tanpa ada program penghijauan dari pemerintah pun, rakyat sudah terdorong sendiri untuk menanam sengon. Ini karena nilai ekonominya yang sudah terbukti: tiap hektar bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Seleksi alam kelihatannya sudah memutuskan ini: sengon juaranya. Juara di antara tanaman keras. Tentu jangan dibandingkan dengan, misalnya, tanaman buah tropik.
Dulu begitu banyak tanaman keras yang dianjurkan untuk digalakkan: jabon, kemiri sunan, jarak pagar, lamtoro gung, sengon buto dan seterusnya. Hampir semuanya gagal . Karena tidak ada dorongan keuntungan ekonomi. Tidak ada yang terbukti bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan.
Jabon terbukti kalah dari sengon. Harga jualnya sekitar 20% di bawah sengon. Ini karena warna kayu jabon kurang disukai industri meubel di luar negeri. Terlalu putih. Kemiri sunan, mungkin akan bernasib sama dengan jarak: lebih gagal lagi. Bahkan membuat rakyat marah. Jarak yang siap panen dibabat. Satu hektar tanaman jarak memang hanya menghasilkan kurang dari setengah juta rupiah setahun.
Sengon buto, ternyata juga tidak laku. Memiliki terlalu banyak cabang. Kurang laku dijual. Tidak bisa untuk bahan baku industry mebel. Lamtoro gung ternyata membawa penyakit yang menular ke tanaman sekitar.
Sengon tradisionallah yang ternyata mengalahkan semua itu. Maka jelaslah untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong di Jawa, sengon adalah pilihan utama. Jangan kaliandra. Biar saya dulu yang tanam kaliandra. Itu pun di luar Jawa. 
Begitu banyak yang ingin mengikuti saya menanam kaliandra. Biasanya saya tanya dulu: lahannya di mana? Begitu dia menyebut di Jawa, saya langsung tegaskan: jangan! Jangan tanam kaliandra. Jawa terlalu subur untuk kaliandra. Sama-sama menanam pohon, untuk di Jawa, lebih baik sengon. Apalagi kini sudah berdiri banyak sekali pabrik pengolahan kayu sengon. Tidak mungkin lagi tidak ada pasarnya. Bahkan pabrik-pabrik itulah yang kini haus sengon.
Biarlah kaliandra dicoba di daerah-daerah khusus di luar Jawa yang gersang dan  yang tidak memiliki sumber listrik. Saya, bersama tim, baru mulai mencoba di Sumba, Sumbawa, Lingga, Singkep, Kaltim dan Bolaang Mongondow. Kita lihat dulu berhasil atau tidak.
Memang tanaman sengon baru bisa ditebang setelah berumur lima tahun. Tapi, hasilnya sungguh menarik. Dalam lima tahun itu, perhektar, bisa menghasilkan Rp 500 juta. Bersih. Sudah dipotong biaya. Berarti satu tahun Rp 100 juta. Sama dengan gaji pegawai satu bulan Rp 8 juta. Tidak kecil bukan? Dalam jangka panjang pasarnya pun terjamin. Gerakan anti penebangan hutan se dunia membuat industry kayu beralih ke tanaman rakyat.
Apalagi hampir tidak ada hama. Satu-satunya hama adalah karat puru. Itu pun mudah ketahuan. Kanker itu muncul di dahan dalam bentuk benjolan besar. Dahan itu bisa langsung dipotong. Bagian yang terkena penyakit itu harus dikubur. Jangan dibuang begitu saja. Jangan juga dibakar. “Hama” lainnya adalah kebakaran. Tapi ini juga gampang terlihat. Yang tidak mudah terlihat adalah hama yang satu ini: ditebang orang di tengah malam.
Selebihnya tidak ada masalah. Memang, ada yang mengkritik tanaman sengon membuat orang malas: tinggal tunggu hasil selama lima tahun sambil ongkang-ongkang kaki. Tidak perlu bekerja setiap hari seperti menanam padi. Atau menanam  buah tropik. Para penggiat buah tropik pasti benci ini. Anak muda yang gigih seperti Mas Pratomo dari Ungaran tidak akan tergiur sengon. Mas Pratomo sudah membuktikan buah tropik bisa menghasilkan dua kali lipat dari sengon. Juga tidak perlu menunggu lima tahun. “Memangnya perut kosong bisa disuruh menunggu lima tahun?” ujar Mas Pratomo.
Begitu banyak tanaman buah yang jadi pilihan: kelengkeng genjah, buah naga, durian pendek dan tentu saja sirsat. Hanya saja petaninya memang harus berpengetahuan, harus rajin (utun) dan harus berjiwa bisnis. “Kita kan harus membangun masyarakat. Agar rajin dan kerja keras,” ujar Mas Pratomo. “Biar bisa seperti bangsa Korea atau Jepang,” tambahnya.
Ke depan, sengon kelihatannya akan berfungsi sebagai tabungan pedesaan. Bukan sebagai mata pencaharian. Sawahlah mata pencaharian itu. Sedang ladangnya ditanami sengon. Tabungan itu diperlukan karena kelak anaknya minta sepeda motor. Atau meneruskan kuliah ke perguruan tinggi. Atau bagi daerah seperti Wonogiri yang bupatinya sangat getol menggalakkan penanaman singkong, mata pencahariannya adalah singkong itu. Toh juga sukses. Sengon untuk tabungan.
Saya perhatikan Bupati Kepahyang di Bengkulu juga kampnye ini: rakyat yang mau kaya, tanamlah sengon. Demikian juga bupati Aceh Timur. Hanya Kalimantan dan Jambi-Riau yang kelihatannya tidak cocok untuk sengon.
Saya juga punya seorang teman. Mantan wartawan terkemuka Republika di Jakarta. Namanya Guntoro. Prestasinya sebagai wartawan sangat menonjol: gigih dan rajin mengejar berita. Kini dia gigih mengejar sengon. Dia tinggalkan dunia kewartawanan. Yang full stress itu. Dia tinggalkan Jakarta. Yang full ruwet itu. Dia beli tanah yang masih murah di desa di Jabar. Dia tinggal di desa itu. Pekarangan rumah yang dia tinggali sangat luas: tiga hektar. Dari segi luasan pekarangan, orang terkaya di Jakarta pun dia kalahkan. Tidak ada orang kaya di Jakarta yang pekarangan rumahnya 3 hektar.  “Tidak pernah lagi terkena macet,” guraunya. tanahnya.
Selama 8 tahun meninggalkan dunia hiruk-pikuk kewartawanan di Jakarta Guntoro sudah berubah total. Kini dia sudah memiliki tanaman sengon 800 hektar. “Tiap tahun beli tanah sedikit-sedikit mas,” katanya. “Saya ingon jadi raja sengon,” tambahnya.
Hitung sendiri berapa kekayaannya: 800 x Rp 500 juta = Rp 400 miliar! Percayailah separonya. Atau sepertiganya. Tetap saja menitikkan air liur. “Jangankan jadi wartawan. Jadi pemilik koran pun belum akan bisa dapat angka itu,” katanya bergurau.
Begitu banyak pilihan untuk kaya. Begitu luas lahan di Jawa yang dibiarkan terlantar. Dengan sengon, Jawa bisa hijau. Juga warna mata penduduknya.



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Manufacturing Hope 86 Karpet Tak Oneng Hujan Tak Henti
Manufacturing Hope 86 Karpet Tak Oneng Hujan Tak Henti
Senin, 29 Juli 2013 00:44 WIB
Hujan masih terus turun hingga hari ini. Padahal, ini sudah Juli. Padahal, ini sudah tanggal 22. Sudah hampir Agustus. Ada yang senang dengan anomali cuaca ini. Misalnya, petani padi. Mereka bisa panen tiga kali setahun.
Sentimentil Kecil di Kegaduhan Besar
Sentimentil Kecil di Kegaduhan Besar
Kamis, 14 Januari 2016 14:39 WIB
SAYA tidak bisa tidak sentimentil menerima SMS ini Sabtu kemarin. Pengirimnya orang di pedalaman Siak, Riau. Dia mengabarkan, Kota Siak Sri Indrapura, ibu kota Kabupaten Siak, segera terang benderang. Berlistrik.
Manufacturing Hope 65 Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak
Manufacturing Hope 65 Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak
Jum'at, 22 Februari 2013 13:39 WIB
SAMBIL mengambil pisau bedah, Dokter Terawan mulai menyanyikan lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku. Suaranya pelan, tapi sudah memenuhi ruang operasi itu.
Kegundahan Seorang Temperamental
Kegundahan Seorang Temperamental
Senin, 21 Maret 2016 02:08 WIB
KIAN diserang kian menang. "Tidak ada calon presiden yang diserang melebihi saya," ujar Donald Trump. Tidak mempan. Justru dari lima negara bagian yang menyelenggarakan pemungutan suara minggu lalu, Trump hanya kalah di Ohio.