Persepktif
Suara Azan
Oleh Masrizal Al HusyainiSabtu, 05 Mei 2012 03:05 WIB | Dibaca 189 kali
Suara Azan
Ketika Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya membangun Masjid Nabawi di Madinah, ketika itu pembangunan masjid belum selesai, namun ketika itu waktu salat sudah masuk. Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah untuk segera mengumandangkan azan sebagai tanda waktu salat sudah tiba. Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘’Adalah orang muslim pada ketika sampai di Madinah dan berkumpul ketika itu masuk waktu salat, mereka tidak tahu cara-cara memanggil orang salat.
Pada suatu hari mereka bermusyawarah, sebahagian mereka mengusulkan agar dipakai saja naqus (lonceng) seperti lonceng umat Nasrani. Lalu, sebagian mereka ada juga yang mengusulkan supaya memakai bauq (serupa tanduk yang dipakai orang Yahudi). Maka Nabi SAW bersabda kepada Bilal bin Rabah: ‘’Hai Bilal bangunlah panggilah orang untuk bersembahyang.’’ (HR Muslim). Bilal pun menerima perintah Nabi SAW lalu mencari tempat yang tinggi agar suaranya didengar umat Islam di Madinah.
Sejak saat itu, azan dikumandangkan muazin atau Bilal di tempat yang tinggi agar suaranya bergema. Beberapa masa berganti dinasti ke khalifahan silih berganti dari zaman khalifah Ar Rasyidin, sampai dinasti Bani Ummayyah di Timur (Damaskus). Pada masa inilah dibuat menara masjid, termasuk Masjid Nabawi. Muazin berkumandang azan dari atas menara agar suaranya bisa bergema ke seluruh penjuru kota dan didengar oleh umat Islam.
Hari ini seiring dengan perkembangan teknologi maka hadirlah speaker (pengeras suara), melalui alat pengeras suara sang muazin tentunya tidak perlu lagi naik ke atas menara masjid untuk mengumandangkan azan dari atas menara. Sang muazin cukup melantunkan azan melalui pengeras suara tersebut, dan gemanya pasti bisa menyebar luas. Pertanyaan buat kita bersama, bagaimana bila kumandang azan disuarakan dengan sayup-sayup semampai? Akankah gemanya didengar oleh umat Islam dari jarak yang jauh?
Itulah sebuah pertanyaan-pertanyaan yang akan kita jawab dengan hati kita saja yang jernih. Asumsi penulis tanpa bantuan speaker dapat dipastikan gema azan yang berkumandang tak dapat menggema secara luas. Dengan keterbatasan suara manusia, mungkin kumandang azan tanpa pengeras suara hanya bisa didengar sekitar tiga atau dua rumah saja, itupun dengan catatan muazin naik di atas menara untuk mengumandangkan azan. Jika itupun tidak ada yang mendengar, hanya malaikat, jin, jamaah yang aktif datang ke masjid dan lainnya.

Suara Adzan

Polemik pengeras suara azan di masjid ini muncul ketika orang nomor dua di republik ini memberikan kata sambutan di Mukhtamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI) 27 April 2007 di Pondok Gede Jakarta Timur. Saat itu Wakil Presiden (Wapres) Boediono meminta DMI kiranya dapat mulai membahas tentang pengaturan penggunaan pengeras suara azan di masjid-masjid.
Suara azan yang terdengar sayup-sayup akan lebih merasuk ke sanubari, jika dibandingkan denagan suara yang terlalu keras dan menyentak telinga kita (Riau Pos, 1 Mei 2012, hlm 3). Benarkah suara azan akan mengganggu? Rasanya itu pandangan yang berlebihan, bagaimana mungkin umat Islam mengetahui waktu salat telah tiba, jika ia berada di lembah berpeluh di sawah, remaja asyik di depan komputer dan pedagang tengah asyik menjajakan dagangannya. Negara yang mayoritas penduduknya muslim ini termasuk Wapres sudah selayaknya mendorong penyiaran agama ini demi kemajuan Islam.
Penulis yakin mungkin ini hanya selayang pandang pribadi, yang kebetulan ia menjabat orang nomor dua di negara ini, karena posisinya itu, pernyataaanya menjadi multi tafsir. Pengaturan pengeras suara tentu baik. Dan selama ini pengaturan suara untuk azan itu sudah dilakukan dengan baik oleh pengurus masjid yaitu hanya lima kali sehari ketika waktu salat tiba. Wapres pun tentu tahu akan hal ini. Kita tidak bisa menebak apa maksud pernyataannya itu. Mungkin saja secara substansi bukan dari suara azan, melainkan pengaturan suara-suara yang ada di luar yaitu di jalan raya, khususnya di luar waktu salat. Wallahu alam. (**)


comments powered by Disqus


EPaper Facebook twitter RSS
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
PANGKALPINANG - Untuk memudahkan nasabah yang ingin beribadah haji tahun ini, Bank Sumsel Babel siap melayani penukaran uang Riyal, baik pecahan 1, 5, 10, 20, 100, 200 maupun 500 real.
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
LIVERPOOL-Brendan Rodgers berencana mengapresiasi performa Raheem Sterling dengan kenaikan nilai kontrak di awal musim Premier League musim ini. Namun, manajer The Reds itu menyatakan harus berhati-hati membuat klausul kontrak agar pas dengan usia Sterling.
Bateng Kekurangan Buku Paket
"Jumlah buku paket untuk guru dan siswa masih kurang dari Kementerian Pendidikan Nasional dan kami diperbolehkan untuk memperbanyak,"
Mitra Radar