Kisah Tim Evakuasi Menyelamatkan Pendaki Kelud yang Tersesat, Kabar Darurat Tiba saat Ikut Sidang Paripurna


Kisah Tim Evakuasi Menyelamatkan Pendaki Kelud yang Tersesat, Kabar Darurat Tiba saat Ikut Sidang Paripurna

Masih bercelana pendek, sopir kendaraan operasional BPBD Kabupaten Kediri bergegas ke kantornya. Padahal malam itu, dia tengah menemani istri dan anaknya makan. Namun panggilan tugas lebih utama. Ada pendaki Kelud perlu diselamatkan.

MOH. FIKRI ZULFIKAR

Gelap malam dan dinginnya alam Gunung Kelud tidak menyurutkan niat tim penyelamat gabungan untuk mengevakuasi para pendaki yang tersesat. Melakukan pencarian sejak Senin hingga Selasa dini hari (7/11), tim menuju arah selatan Gunung Sumbing.

Mereka menurunkan para pendaki hingga pagi harinya. Tim gabungan ini pun harus melewati jalur yang ekstrem untuk melakukan penyelamatan. Bagaimana tidak, selain menyusuri dinding-dinding tebing, mereka harus menggendong para pendaki yang sudah lemah.

Itu karena tandu di medan tersebut tidak bisa digunakan.Kendalanya, lantaran sulitnya medan Gunung Kelud. Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, Basarnas, kepolisian, dan TNI layaknya diuji dalam misi kemanusiaan tersebut.

Bagaimana tidak, beberapa rencana awal harus mereka improvisasi saat melewati medan tempat kesembilan pendaki itu tersesat. Seperti para tim yang membawa tandu malah tidak terpakai untuk menurunkan para pendaki yang lemas tidak bertenaga saat kali pertama ditemukan. “Jalannya tidak mulus seperti jalan setapak biasa,” terang Plt Kepala BPBD Kabupaten Kediri Randi Agata Sakaira yang memimpin langsung tim gabungan penyelamatan tersebut.

Selain medan curam melewati dinding tebing, jalur penyelamatan itu hanya bisa dilewati satu orang saja. Selain sempit, jalur tersebut juga merupakan lorong-lorong dampak erupsi Kelud pada 2014 silam.

Sehingga walaupun tim penyelamat membawa tandu yang diharap bisa membawa para pendaki yang lemas itu dengan mudah. Mereka pun harus improvisasi agar tetap bisa menurunkan para pendaki yang selamat itu.

“Karena tandu harus diangkat empat orang. Sedangkan jalan hanya cukup untuk satu orang. Terpaksa kita improve dengan menggendong para pendaki yang tidak kuat jalan ini,” papar pria lulusan IPDN tahun 2009 ini.

Karena beratnya medan, tim pun harus bergantian menggendong para pendaki. Sehingga diperlukan fisik dan mental prima dalam melakukan penyelamatan ini. Walaupun begitu, secara teori maupun praktik tim gabungan ini memang cukup profesional. Bagaimana tidak, pada Sabtu (4/11) dan Minggu (5/11) tim BPBD Kabupaten Kediri dan Basarnas baru saja melakukan latihan bersama di Waduk Siman, Kecamatan Kepung.

“Kita dua hari itu baru saja melakukan latihan vertical rescue dan juga water rescue. Sehingga cukup berguna latihan kita dua hari itu untuk melakukan penyelamatan pendaki Kelud ini,” ujar bapak satu anak.

Selain membawa peralatan lengkap, dalam penyelamatan vertical rescue yang dilakukan di Kelud malam itu. Dengan bantuan tali weaving para penyelamat menerapkan latihan dua hari sebelum penyelamatan sesunggungnya ini dengan baik.

Sehingga para pendaki bisa selamat. Menurut Randi, jika dilihat kasat mata kontur Gunung Kelud terasa hnya gundukan yang rata. Namun saat ditapaki selain dinding curam jalur yang berbatasan dengan jurang pun cukup membuat jalur ini berbahaya untuk pendaki. “Memang cukup sulit jalur ini,” ungkapnya.

Randi masih ingat saat-saat awal pihaknya mendapatkan kabar insiden tersesatnya para pendaki dari luar kota itu. Karena saat dikabari pada malam hari, yaitu Senin malam (6/11) sekitar pukul 20.00 itu Randi sedang mengikuti sidang paripurna di gedung DPRD Kabupaten Kediri.

Tidak hanya itu saja, timnya juga beberapa personel tidak berada di kantor. Ini karena memang bukan jam kantor. “Seperti driver tim kami juga saat itu sedang bersama keluarganya makan pecel di Jl Dhoho, Kota Kediri,” terang pria yang hobinya olah raga dan offroad ini.

Karena tugas menanti, dengan hanya memakai celana pendek sang driver pun langsung ke kantor BPBD Kabupaten Kediri diantar sang istri dan anak-anaknya. Selain itu, beberapa anggota lain selain yang piket pun satu per satu dijemput mobil BPBD dan beberapa personel lain langsung naik ke Gunung Kelud menunggangi motor trailnya.

“Ada pula saat itu satu anggota Basarnas yang sedang di Surabaya juga langsung ke Kediri naik bus untuk membantu penyelamatan,” ungkap pria lulusan SMA Taruna Magelang tahun 2005 ini.

Setelah semua tim gabungan berkumpul, Randi pun membagi sekitar 30 petugas dalam empat regu. Regu pertama bertugas sebagai penyisir atau perintis jalan. Kemudian disusul oleh regu kedua yang bertugas evakuasi. Dan regu ketiga pun bertugas untuk mem-back up regu dua.

Sedangkan untuk regu empat bertugas mem-back up semua regu. Adapun setiap regu beranggotakan lima orang. Dengan rencana yang disusun di titik nol sekitar kawah. Akhirnya tim penyelamat berhasil menemukan para pendaki yang tersesat. “Berkat usaha keras tim gabungan. Alhamdulillah misi penyelamatan kami berhasil,” tegas Randi.
(rk/fiz/die/JPR)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Indira, Mahasiswa Unej Penderita GBS, Butuh 9 Botol Infus Setiap Hari
Indira, Mahasiswa Unej Penderita GBS, Butuh 9 Botol Infus Setiap Hari
Jum'at, 24 November 2017 13:34 WIB
Tak banyak orang tahu tentang penyakit GBS. Memang, penyakit ini sangat kecil untuk mematikan pasiennya. Namun jika kelewat dan pasien
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Selasa, 21 November 2017 00:30 WIB
Jangan pernah meremehkan soto. Sajian berkuah yang menyebar dari Sabang sampai Merauke ini menjadi salah satu suguhan identitas asli Indonesia.
Anak Petani Lulus jadi Taruna AAL, Hanya Modal Rp 10 Ribu
Anak Petani Lulus jadi Taruna AAL, Hanya Modal Rp 10 Ribu
Kamis, 16 November 2017 14:31 WIB
Berbekal semangat dan tekad besar, sejumlah anak muda asal Sumatera Barat (Sumbar) mereka berhasil lulus menjadi taruna Akademi Angkatan Laut
Kisah Tentang Juru Rias dan Pembawa Acara Hajatan Jokowi Mantu, Selalu Puasa Sebelum Merias
Kisah Tentang Juru Rias dan Pembawa Acara Hajatan Jokowi Mantu, Selalu Puasa Sebelum Merias
Kamis, 09 November 2017 11:54 WIB
Harini selalu meminta calon pengantin yang akan dirias untuk menjaga laku, misalnya dengan puasa dan salat Tahajud. Sedangkan Umijatsih, kendati