Kiprah Peneliti-Peneliti Bertabur Paten, Ada yang Sudah Dikomersilkan


Kiprah Peneliti-Peneliti Bertabur Paten, Ada yang Sudah Dikomersilkan

    Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya seabrek peneliti. Total 1.666 orang. Ada yang sangat produktif dan menghasilkan banyak paten.

Hilmi Setiawan, Jakarta

    TURUN dari mobil Toyota Innova hitam, Agus Haryono bergegas menuju ruang kerjanya di Pusat Penelitian (Puslit) Kimia LIPI di Serpong, Tangerang Selatan (12/5). Setelah menaruh tas, dia bergabung dengan beberapa koleganya untuk membahas riset-riset terkini di bidang kimia.

    Agus kini menjabat kepala Puslit Kimia LIPI. Pria kelahiran Pamekasan, 21 Februari 1969, itu adalah satu di antara top five peneliti LIPI dengan paten terbanyak. Hingga saat ini, Agus sudah mengantongi 22 hak paten dari riset yang dilakukannya. ’’Ada juga yang tim bersama teman-teman,’’ kata alumnus SMAN 2 Lumajang, Jawa Timur, tersebut. Putra mantan Bupati Bojonegoro Atlan itu mengawali karir di LIPI dengan berbekal ijazah SMA. Sebagai penerima beasiswa Habibie, Agus mendapat kesempatan kuliah ke luar negeri. Pilihannya Jepang atau Prancis. ’’Alasannya karena tidak terlalu menguasai bahasa Inggris,’’ tuturnya, lantas tertawa.

    Agus lolos seleksi dan kuliah di Waseda University, Jepang. Dia menempuh jurusan kimia. Dari jenjang S-1, dia melanjutkan sampai S-3 di Negeri Sakura. Agus mendapatkan lima paten selama di Jepang. Salah satunya adalah teknologi mereduksi kadar oksigen dalam sel bahan bakar (fuel cell). Teknologi itu mencegah kerusakan pada mesin dan membuat aliran listrik jadi maksimal. Bapak empat putra dan dua putri tersebut pulang ke tanah air pada 2002. Dua tahun kemudian Agus mendapatkan paten untuk sistem pelunak atau pengelastis plastik. ’’Paten saya membuat pelunak atau pelembut plastik dengan bahan dari minyak sawit,’’ jelasnya. Paten itu sudah diuji coba oleh perusahaan. Namun, kurang menguntungkan dari sisi bisnis. Cost-nya lebih besar daripada produk serupa yang berbahan minyak bumi.

    Agus juga menghasilkan paten tentang surfaktan berbahan sawit. Surfaktan adalah zat yang bisa menyatukan minyak dan air. Produk itu sudah diuji Pertamina untuk mengangkat sisa minyak yang menempel di sela-sela bebatuan. Bagi peneliti seperti Agus, paten sangat penting. ’’Untuk melindungi temuan. Perkara dipakai atau tidak oleh industri, itu belakangan,’’ katanya. 

Spesialis Paten Pangan 

    Sosok hebat lainnya adalah Mukhammad Angwar. Dia peneliti senior di Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI di Jogjakarta. Angwar menjadi pegawai LIPI sejak 1979. Pria kelahiran Cirebon, 27 September 1958, itu spesialis riset bahan pangan. Dia memegang 14 paten. Paten pertama suami Cucu Herliani tersebut berkaitan dengan minuman seduh berbahan lidah buaya dan rosela (2005). Dia mengolah lidah buaya atau bunga rosela menjadi serbuk siap seduh. Rosela punya kandungan vitamin C tinggi. Bunga berwarna merah itu memproteksi kristal-kristal kolestrol sehingga tidak menyumbat pembuluh darah.

    Salah satu paten Angwar yang segera diakui internasional adalah teknologi pembuatan biskuit dengan bahan dasar tepung dari tempe. Riset yang sekarang berjalan adalah pengolahan kue pukis kaya serat. Bahan dasarnya mocaf atau tepung singkong yang difermentasi. Pukis kaya serat itu nanti menjadi camilan sehat. Khususnya bagi orang diet. ’’Cocok karena makan sedikit saja sudah cepat merasa kenyang,’’ jelasnya.

    Angwar bahagia ketika riset-risetnya bersinggungan dan dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Minuman siap seduh rosela, misalnya, memacu masyarakat untuk menanam rosela. Sementara itu, teknologi tepung dari tempe dapat meningkatkan derajat konsumsi tempe dari sekadar digoreng atau dikukus.

    Seperti peneliti lainnya, lulusan S-1 Universitas Pasundan dan S-2 UGM itu sulit menghilirkan inovasinya ke dunia industri. Hilirisasi penelitiannya yang paling maju terkait dengan pemanfaatan tempe untuk sari kental manis. ’’Kita sampai sudah siapkan business plan-nya,’’ jelasnya. Namun, pihak industri meminta waktu untuk tes pasar. Jika laku, sangat mungkin diambil. Sebaliknya, jika tak laku, Angwar harus mendekati pelaku usaha lainnya.

    Tipe industri itu memang beda-beda. Ada yang ingin cepat balik modal. Caranya, menjual atau memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang di pasaran. Di sisi lain, ada industri yang nekat memulai dari nol. Baik itu produk yang dijual maupun teknologinya.

Separo Patennya Laku

    Lain lagi cerita Nurul Taufiqu Rochman. Dia telah memiliki 16 paten. Hebatnya, separo dari paten tersebut berhasil dikomersialkan. Salah satunya adalah yang berbasis teknologi nano. Nurul memiliki cara unik dalam mengomersialkan patennya. Yakni, membuat perusahaan pemula (start-up) sendiri. Namanya Nanotech Inovasi Indonesia. Karyawannya muda-muda. Di bawah 30 tahun. ’’Mereka saya rekrut awalnya dengan pemberian beasiswa,’’ ungkapnya. Setelah lulus, diangkat jadi pegawai. Jika kinerja bagus, promosi menjadi direktur. Setelah itu, jika kinerjanya moncer, dipasrahi perusahaan sendiri.

    Nanotech merambah berbagai usaha. Termasuk properti. Dua di kawasan Serpong dan satu di Serang. Nilai usaha Nanotech mencapai Rp 30 miliar. ’’Rekan-rekan mengira saya yang mengerjakan semuanya. Padahal tidak. Peran saya sedikit sekali,’’ kata peraih B.J. Habibie Technology Award 2014 itu.

    Pria kelahiran Malang, 5 Agustus 1970, tersebut mengungkapkan, ada investor yang menanamkan modal Rp 10 miliar. Tidak semua bisnis yang dikelola Nurul sukses. ’’Namanya orang usaha atau bisnis, risiko tidak untung itu selalu ada,’’ ujarnya. Lulusan S-1, S-2, dan S-3 Kagoshima University tersebut mendapatkan banyak ilmu soal komersialisasi hasil riset semasa di Jepang. Saat itu dia bekerja di lembaga riset milik pemerintah Kagoshima yang membidangi hilirisasi hasil riset ke 5.000 unit usaha kecil dan menengah. (*/c10/ca)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Selasa, 21 November 2017 00:30 WIB
Jangan pernah meremehkan soto. Sajian berkuah yang menyebar dari Sabang sampai Merauke ini menjadi salah satu suguhan identitas asli Indonesia.
Anak Petani Lulus jadi Taruna AAL, Hanya Modal Rp 10 Ribu
Anak Petani Lulus jadi Taruna AAL, Hanya Modal Rp 10 Ribu
Kamis, 16 November 2017 14:31 WIB
Berbekal semangat dan tekad besar, sejumlah anak muda asal Sumatera Barat (Sumbar) mereka berhasil lulus menjadi taruna Akademi Angkatan Laut
Kisah Tim Evakuasi Menyelamatkan Pendaki Kelud yang Tersesat, Kabar Darurat Tiba saat Ikut Sidang Paripurna
Kisah Tim Evakuasi Menyelamatkan Pendaki Kelud yang Tersesat, Kabar Darurat Tiba saat Ikut Sidang Paripurna
Jum'at, 10 November 2017 14:24 WIB
Masih bercelana pendek, sopir kendaraan operasional BPBD Kabupaten Kediri bergegas ke kantornya. Padahal malam itu, dia tengah menemani istri dan
Kisah Tentang Juru Rias dan Pembawa Acara Hajatan Jokowi Mantu, Selalu Puasa Sebelum Merias
Kisah Tentang Juru Rias dan Pembawa Acara Hajatan Jokowi Mantu, Selalu Puasa Sebelum Merias
Kamis, 09 November 2017 11:54 WIB
Harini selalu meminta calon pengantin yang akan dirias untuk menjaga laku, misalnya dengan puasa dan salat Tahajud. Sedangkan Umijatsih, kendati