Berita
Ekspor Timah Turun 45%
Rabu, 02 November 2011 10:30 WIB | Dibaca 141 kali
Babel Surplus 103,8 Juta Dollar AS

PANGKALPINANG – Meski penghentian sementara atau moratorium ekspor timah baru diterapkan pada Oktober, namun nilai ekspor timah Babel sudah menurun satu bulan sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (Babel), ekspor timah pada bulan September turun sekitar 45 persen dibanding periode Agustus. Pada bulan Agustus, ekspor timah Babel masih diangka 180, 4 juta dollar AS. Sementara pada September, berkurang hampir setengahnya yakni 81,3 juta dollar AS ke angka 99,1 dollar AS.   “Meski moratorium ekspor timah baru terjadi di bulan Oktober, tapi pengurangan volume ekspor timah sudah terjadi saat harga timah dunia mengalami penurunan. Saat itu sudah terasa dampaknya,” ujar Kepala BPS Babel, Teguh Pramono dalam jumpa pers, Selasa (1/11) kemarin.
    
Penurunan ekspor timah juga diikuti ekspor non timah. Pada bulan Agustus 2011 ekspor non timah mencapai 53,8 juta dollar AS, namun pada bulan September 2011 hanya mencatat nilai sebesar 16,7 dollar AS. Meski turun, secara umum neraca perdagangan Babel  sepanjang bulan September 2011 masih mengalami surplus sebesar 103,8 juta dollar AS.   September ini ekspor Babel senilai 115,8 juta dollar AS. Sementara impor  senilai 12,0 juta dollar AS.
   
Meski surplus, juga terjadi penurunan perdagangan Babel dibanding bulan Agustus yang mencapai surplus 201,6  juta dollar AS. Pada Agustus lalu, nilai ekspor Babel mencapai 209,1 juta dollar AS, dengan timah masih yang terbesar  mencapai US$180,4 juta dan non timah sebesar US$28,6 juta. Sementara impor Babel pada Agustus hanya 7,5 juta dollar AS.  Dijelaskan Teguh Pramono,  nilai ekspor Babel selama September yang mencapai 115,8 juta dollar AS masih didominasi ekspor timah sebesar 99,1 dollar AS dan non timah sebesar 16,7 juta dollar AS.
  
Sebaliknya, impor Babel di bulan yang sama mencapai 12,0 juta dollar atau naik 59,5 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 7,5 juta dollar AS.  Ekspor timah berdasarkan negara tujuan, tercatat negara Singapura menyumbang nilai terbesar diantara negara lain seperti Malaysia, Taiwán, Jepang dan Belanda dengan nilai 60,6 juta dollar AS.  “Malaysia menyumbang nilai 13,6 juta dollar AS, Taiwán 6,9 juta dollar AS, Jepang 5,2 juta dollar AS dan Belanda menyumbang nilai 4,4 juta dollar AS. Singapura menjadi negara tujuan ekspor terbesar karena negara tersebut menjadi pintu penyebaran timah yang diekspor Babel ke negara-negara lain. Sama halnya Belanda yang menjadi pintu penyebaran ke negara-negara eropa,” terangnya.
   
Sedangkan nilai impor Babel yang dibedakan menjadi migas dan non migas, pada September 2011 juga mengalami kenaikan. Impor sektor migas pada Agustus 2011 tercatat senilai 2,1 juta dollar AS tapi pada September 2011 naik menjadi 5,6 juta dollar AS. “Sektor non migas Babel pada Agustus senilai 5,4 juta dollar AS, Namun pada September 2011 meningkat menjadi 6,4 juta dollar AS,” paparnya.  Tak berbeda dengan ekspor, impor Babel menurut negara asal mencatat Singapura mengungguli negara-negara lanilla seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan Jepang dengan nilai 4,6 juta dollar AS. “Malaysia memberi nilai 3,5 juta dollar AS, Thailand 2,3 juta dollar AS, Vietnam 1,3 juta dollar AS dan Jepang senilai 0,2 juta dollar AS,” pungkasnya. (dry)





comments powered by Disqus
EPaper Facebook twitter RSS
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
PANGKALPINANG - Ingin membuat hari pernikahan Anda berkesan istimewa? Paket pernikahan Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dapat menjadi pilihan tepat Anda dalam merencanakan pernikahan.
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
VALENCIA - Bukan kalah atau menang yang menjadi target timnas senior Indonesia selama menjalani rangkaian tur Spanyol. Alfred Riedl selaku pelatih timnas senior hanya ingin melakukan evaluasi dalam laga uji coba di Negeri Matador tersebut.
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah - Siti Aisyah Pulungan (8) mencium ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (54) yang dirawat di RS Pirngadi pada hari pertama ia kembali bersekolah di Medan, Sumut, Jumat (21/3). Sejak setahun terakhir Aisyah tidak ke sekolah karena merawat ayahnya yang sakit di atas becak. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Mitra Radar