Kawasan Tangkap Nelayan Menyempit


Kawasan Tangkap Nelayan Menyempit

PANGKALPINANG (radarbangka.co.id) - Kawasan penangkapan ikan nelayan di Provinsi Bangka Belitung (Babel), semakin menyempit. Akibatnya, secara ekonomis, pendapatan nelayan di sekitar wilayah perairan pengerukan timah mengalami penurunan hingga mencapai 80 persen, dari sekitar Rp 400 ribu per sekali melaut turun kisaran antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per sekali melaut.

"Ikan-ikan pinggiran yang biasa menjadi harapan nelayan menyambung kehidupannya semakin sulit ditemukan, karena menjadi lokasi kapal isap dan tambang timah apung mencari bijih timah," ujar Direktur Eksekutif Walhi Babel, Ratno Budi, Rabu (1/6) lalu.

Dia melanjutkan, "Jika dikalkulasi secara umum, maka angka kerugian kolektif masyarakat nelayan dalam satu tahun bisa mencapai Rp 14,4 miliar hingga Rp 15 miliar. Jika dikalkulasikan hingga awal 2011 ini, tentu angka tersebut sudah jauh bertambah nilai kerugiannya," ujarnya.

Menurut Ratno, daerah lain dan negara-negara maju berjuang memperbaiki terumbu karangnya untuk meningkatkan populasi ikan sebagai tulang punggung sektor perikanan, sementara di Pulau Bangka terjadi hal sebaliknya terjadi perusakan terumbu karang dan ekosistem kelautan. Dengan demikian, nelayan kesulitan menangkap ikan karena populasi ikan berkurang dan lautnya tercemar sebagai dampak limbah pertambangan timah di laut.

Ia menjelaskan, Thailand dan Singapura yang juga memiliki kandungan timah yang besar, namun mengalihkan titik berat ekonominya dari pertambangan timah ke sektor ekonomi jasa, seperti pertanian, pariwisata dan perbankan yang dipandang lebih menyejahterakan rakyatnya.

Menurut dia, hanya Pulau Bangka selama bertahun-tahun tetap mengandalkan pembangunannya pada pertambangan timah. Bahkan, akibat kenaikan harga timah akhir-akhir ini, ekonomi masyarakat tergeser dari pertanian dan perikanan ke penggalian tambang inkonvensional.

"Sekalipun bisnis pertambangan menguntungkan, tetapi lingkungan yang dikorbankan dan masa depan anak-anak menjadi taruhannya," sesal Ratno.

Ia mengatakan, sekarang mungkin dapat mengeruk keuntungan dari penambangan, tetapi bagaimana dengan di masa depan?

"Puluhan nelayan yang sulit mendapatkan ikan akhirnya juga mencari timah dengan memodifikasi perahunya menjadi sarana tambang timah apung," tutupnya. (ant)


Banner

Berikan Komentar

Pangkalpinang Lainnya
 FKPT Babel Ajak Pelajar Bangun Nasionalisme Sejak Dini
FKPT Babel Ajak Pelajar Bangun Nasionalisme Sejak Dini
Kamis, 15 Oktober 2020 19:06 WIB
PANGKALPINANG - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) bidang pemuda dan pendidikan gelar diskusi film dan
FSEI IAIN SAS Babel Gelar Seminar Kewirausahaan
FSEI IAIN SAS Babel Gelar Seminar Kewirausahaan
Senin, 12 Oktober 2020 17:54 WIB
PANGKALPINANG – Mahasiswa KKN FSEI IAIN SAS Bangka Belitung melaksanakan Seminar Kewirauahaan bertempat di Kantor Kelurahan Parit Lalang, Kecamatan Rangkui,
Gubernur Erzaldi Dukung Pengembangan Tanaman Porang Melalui Kultur Jaringan
Gubernur Erzaldi Dukung Pengembangan Tanaman Porang Melalui Kultur Jaringan
Rabu, 07 Oktober 2020 19:23 WIB
PANGKALPINANG - Gubernur Erzaldi dukung pengembangan tanaman porang melalui kultur jaringan. Pengembangan ini menurut Gubernur akan melibatkan siswa SMK di
Pemprov Babel Hadiri Rapat Paripurna Atas Raperda Retribusi Jasa Daerah dan PAD
Pemprov Babel Hadiri Rapat Paripurna Atas Raperda Retribusi Jasa Daerah dan PAD
Rabu, 07 Oktober 2020 19:21 WIB
PANGKALPINANG - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menggelar rapat paripurna terkait pengambilan keputusan raperda perubahan