Belum Ada Sertifikat Halal Vaksin Difteri


Belum Ada Sertifikat Halal Vaksin Difteri

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi mengatakan MUI belum menerima pendaftaran dan permintaan pemeriksaan kehalalan vaksin difteri dari pihak manapun. "Sehingga MUI belum pernah menerbitkan sertifikasi halal terhadap vaksin tersebut," kata Zainut kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/12).

Menurut telaah MUI, dia mengatakan MUI menyatakan bahwa pada dasarnya hukum imunisasi adalah boleh (mubah) sebagai bentuk upaya mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Namun begitu, vaksin yang digunakan dalam imunisasi harus halal dan suci. Kendati begitu, jika belum ada vaksin halal dan dalam kondisi darurat mengancam jiwa maka diperbolehkan untuk digunakan.

"Setelah ditemukan vaksin yang halal maka pemerintah wajib menggunakan vaksin yang halal," katanya. Kondisi darurat, kata dia, seperti suatu kondisi keterpaksaan yang apabila tidak dilakukan tindakan imunisasi dapat mengancam jiwa manusia (mudarat) atau kondisi hajat yaitu kondisi keterdesakan yang apabila tidak dilakukan tindakan imunisasi maka akan dapat menyebabkan penyakit berat atau kecacatan pada seseorang.

"Ketentuan tersebut di atas harus dipastikan bahwa memang benar-benar belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci dengan didukung keterangan tenaga ahli yang kompeten dan dapat dipercaya," kata dia. Sementara, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman B Pulungan, mengatakan, anak yang sudah mendapatkan imunisasi difteri secara lengkap seharusnya tidak tertular penyakit tersebut.

"Tetap jaminan itu dari Allah. Masalahnya imunisasinya cukup dan lengkap atau tidak," kata Pulungan, dihubungi. Dia mengatakan, satu-satunya cara untuk mencegah penularan difteri adalah melalui imunisasi. Difteri sangat mudah menular melalui udara, yaitu lewat nafas atau batuk penderita. Karena itu, penderita difteri yang dirawat di rumah sakit biasanya diisolasi dan tidak boleh dikunjungi untuk mencegah penularan.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Difteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit itu sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Gejala awal difteri bisa tidak spesifik seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah. Namun, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan bull neck.(ant/rb)




Banner

Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
Tiba-tiba Alissa Wahid Cerita Situasi Genting di Istana, Ada Tangisan
Tiba-tiba Alissa Wahid Cerita Situasi Genting di Istana, Ada Tangisan
Kamis, 28 Mei 2020 16:07 WIB
JAKARTA - Putri Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid, mengungkit peristiwa tentang situasi genting di
Pemerintah akan Berdamai dengan Covid-19, Rocky Gerung: Jadi di Mana Otaknya?
Pemerintah akan Berdamai dengan Covid-19, Rocky Gerung: Jadi di Mana Otaknya?
Kamis, 28 Mei 2020 15:35 WIB
JAKARTA - Anjuran Presiden Joko Widodo untuk berdamai dengan Covid-19 dikritik Rocky Gerung. Pengamat dan filsuf ini menilai pemerintah tidak
Sambut New Normal, MUI Ingatkan Pemerintah jangan Lupakan Masjid
Sambut New Normal, MUI Ingatkan Pemerintah jangan Lupakan Masjid
Kamis, 28 Mei 2020 15:30 WIB
JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah juga melakukan pelonggaran aktivitas di masjid, seperti yang dilakukan terhadap mal dan
38 WNI di Depo Imigrasi Malaysia Positif COVID-19
38 WNI di Depo Imigrasi Malaysia Positif COVID-19
Selasa, 26 Mei 2020 05:14 WIB
KUALA LUMPUR - Kementrian Kesehatan Malaysia (KKM) menyatakan sebanyak 38 warga negara Indonesia (WNI) dari 227 warga negara asing yang