Luncai dan Anaknya Diamankan Karena Menambang Dilahan Yang Sudah Ditambang Sebelumnya


Luncai dan Anaknya Diamankan Karena Menambang Dilahan Yang Sudah Ditambang Sebelumnya

MUNTOK -- Ada pepatah mengatakan kita yang menanam orang lain memetik hasilnya. Kira-kira pepatah ini dirasakan oleh Koswara alias Luncai (48) tahun warga Sinar Menumbing Pal 2 Muntok Bangka Barat harus meninggal anak istrinya dirumah, karena ia harus berhadapan dengan hukum. 

Pasalnya yakni dianggap telah melakukan tindak pidana illegal mining, dikarenakan Luncai bersama satu orang anaknya bernama Ariski Faisal (20) tahun dan satu orang lagi koleganya Fauzi Hasan (38) tahun melakukan aktivitas penambangan timah di bawah kaki bukit menumbing, yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan Tahura. 

Sebelum ditetapkan sebagai Tahura, Menumbing merupakan kawasan Hutan Konservasi (HK). Karena, didalam menumbing sendiri tersisa peninggakan asset sejarah yakni tempat diasingkanya para pendiri Bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Dari pengakuan Luncai (48) tahun si pemilik alat tambang, mereka bertiga diamankan oleh pihak Sat Pol PP Bangka Barat beberapa waktu yang lalu. Kemudian, kasus tersebut di limpahkan kepada Polres Bangka Barat. Saat ini kasus tersebut ditangani pihak Satreskrim Polres Babar. 

"Di Sat Pol PP itu kami hanya diminta surat pernyataan, tau-taunya sampai ke sini (polres,red), "ungkap Luncai kepada wartawan. Jumat (27/9) siang.

Berdasarkan pengakuannya, lokasi yang mereka tambang tersebut sebelumnya sudah ada aktivitas tambang. Bahkan, dalam skala besar jauh dari yang Luncai cs gunakan sekarang ini. 

"Kami ni ngambik tailing (timah kandungan ringan,red). Lokasi yang kami tambang ini bekas dari tambang besar dulu tahun 2004 lalu," ungkapnya.

Dalam seharinya, pendapatan yang mereka dapatkan dari hasil penambangan biji timah tailing tersebut sebesar 100 ribu per dua hari kerja. 

"Harga tailing lebih murah dari timah bener pak, karena tailing ini ringan jadi di beli per kilo e 45 ribu, rata-rata kami dapat e 8 - 12 kilogram. Jadi setiap dua hari sekali itu hanya 100 ribu bersih untuk kami, itulah untuk menghidupi keluarga dirumah, "ucap Luncai. 

Luncai pun mengaku, bahwa timah tailing yang mereka dapatkan di jual kepada salah satu collector yang beralamat di Dusun Pait Jaya Desa Belo Laut Kecamatan Muntok. Apesnya, selama bekerja dilokasi tersebut, Luncai baru dua kali menjual hasil tambangnya.

"Kami jual tailing ke T, di Pait rumahnya. Baru 2 kali jual, lah ditangkap ke Sat Pol PP. "Jadi, sekarang ini susah e sikok mikir anak bini dirumah pak entah makan entah dak, "ucapnya sembari mengusap air mata.(ray)





Berikan Komentar

Muntok Lainnya
Kajari Babar Musnakan Barang Bukti Dari 95 Perkara Yang Disudah Diputuskan Pengadilan
Kajari Babar Musnakan Barang Bukti Dari 95 Perkara Yang Disudah Diputuskan Pengadilan
Selasa, 15 Oktober 2019 19:15 WIB
MUNTOK -- Kejaksaan Negeri Bangka Barat memusnakan barang bukti (BB) dari total 95 perkara yang sudah di tangani oleh pihak
Mantan Bupati Babar Ditunjuk Sebagai Wakil Ketua BAP Alat Kelengkapan DPD RI 
Mantan Bupati Babar Ditunjuk Sebagai Wakil Ketua BAP Alat Kelengkapan DPD RI 
Kamis, 10 Oktober 2019 19:06 WIB
MUNTOK - Salah satu senator DPD RI dari Provinsi Bangka Belitung Ustadz H Zuhri M Syazali di percaya sebagai Wakil
Beredar Kabar Maraknya Kapal Trawl Diperairan Muntok Kapal Patroli Milik DKP dan Polair Disiagakan
Beredar Kabar Maraknya Kapal Trawl Diperairan Muntok Kapal Patroli Milik DKP dan Polair Disiagakan
Rabu, 09 Oktober 2019 19:38 WIB
MUNTOK - Kapal patroli Elang Laut milik Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung disiagakan. Hari ini saja Rabu
Nelayan Muntok Keluhkan Keberadaan Kapal Trawl Yang Meresahkan
Nelayan Muntok Keluhkan Keberadaan Kapal Trawl Yang Meresahkan
Senin, 30 September 2019 19:27 WIB
MUNTOK -- Sejumlah nelayan di Muntok Bangka Barat meresahkan keberadaan kapal Trawl (pukat harimau,red) yang beroperasi di seputaran perairan laut