Istri Meninggal Lakalantas, Bapak 3 Anak Tuntut Keadilan


Istri Meninggal Lakalantas, Bapak 3 Anak Tuntut Keadilan

PARITTIGA - Sungguh miris apa yang dialami Gofarudin, warga Desa Teluk Limau, Kecamatan Parit Tiga, Bangka Barat. Bapak 3 anak ini harus menelan kekecewaan mendalam setelah istri tercinta meninggal akibat lakalantas. Tragisnya lagi, laporan dirinya ke pihak Satlantas Polres Bangkla Barat atas meninggalnya, Zubaidah ditolak oleh pihak kepolisian.

Menurut Gofarudin ketika ditemui Radar Bangka di kediamannya, kejadian lakalantas yang mengakibatkan istrinya meninggal dunia tersebut terjadi pada 25 Juni lalu.

"Kejadiannya akhir Juni lalu di depan rumah kami. Saat itu istri saya hendak belanja ke warung, begitu keluar dari pekarangan rumah kami,  tiba-tiba langsung ditabrak hingga terpental oleh pelaku berinisial B, berstatus pelajar SMP. Melihat itu kami segera membawa istri saya ke RS Bakti Timah, tapi kemudian dirujuk ke RS Provinsi di Air Anyir, namun sayang nyawa istri saya tidak bisa diselamatkan," tutur Gofarudin sembari memeluk ketiga anaknya.

Gofarudin menambahkan, saat itu pihak keluarga pelaku dan keluarganya sudah bertemu untuk melakukan upaya perdamaian, namun menurut Gofarudin, pihak keluarga pelaku yang juga warga Desa Teluk Limau terkesan seperti separuh hati. Hingga membuat Gofarudin ingin melanjutkan masalah ini ke pihaj berwajib.

Namun sayangnya, ketika pihak keluarga mendatangai kantor Satlantas Polres Babar, laporan mereka ditolak pihak kepolisian dari Satlantas Babar.

"Kami bertemu dengan Kasat Lantas, namun laporan kami ditolak dengan alasan sudah lewat masanya. Kami orang bodoh pak, tak mengerti hukum, pelaku memang masih dibawah umur pak, tapi apakah nyawa istri saya tidak ada harganya sama sekali? Kami minta keadilan pak, pelaku sampai sekarang masih berkeliaran mengendari motor keliling kampung. Kami paham pak pelaku masih dibawah umur, tapi masa tidak ada proses sama sekali pak," ujar Sanika, salah seorang keluarga korban.

Hal menarik perhatian Romli selaku ketua LSM Gerakan Barisan Komitmen Konstitusi (Gebrakk) Sriwijaya Babel yang sangat menyayangkan hal itu terjadi. 

"Tidak sepantasnya pihak satlantas menolak laporan keluarga korban kecelakaan lalu lintas. Hanya karena lewat 9 hari dari kejadian. Untuk laka lantas hingga korban meninggal dunia yang ancamannya maksimal 6 tahun maka setahu saya laporan daluarsanya adalah 12 tahun selagi barang buktinya tidak berubah sama sekali baik milik korban maupun tersangka serta ada saksi di sekitar TKP yang masih ingat dan siap memberi kesaksian, maka pihak kepolisian berkewajiban untuk menerima laporan dari pihak keluarga korban terlebih ini korbannya meninggal dunia," ujar Romli.

Dalam UU Lalu Lintas pasal 310 yang mengatur masalah kecelakaan lalu lintas: Kecelakaan berakibat rusak benda - penjara maksimal 6 bulan; luka ringan - penjara maksimal 1 tahun; luka berat–penjara maksimal 5 tahun; meninggal dunia penjara maksimal 6 tahun.

Jadi kalau kecelakaan lalu lintas hanya rusak ringan hingga luka ringan yang diancam pidana 6 bulan s/d 1 tahun, maka daluarsanya adalah enam tahun apalagi kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia maka daluarsanya laporan ke pihak kepolisian adalah 6 tahun.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Babar, AKP John Piter Tampubolon menyangkal apa yang ditudingkan pihak keluarga korban. Diakuinya memang pernah ada datang suami dan keluarga korban yang lainnya ke Polres Babar.

"Saya sudah ketemu sama keluarganya, bukannya kami (Satlantas) menolak laporan. Namun saat terjadi kecelakaan seluruh barang bukti dari kendaraan motor, saksi dan TKP juga sudah tidak ada lagi. Bagaimana kita mau menelusiri atau membuat sketsa kalau TKP nya sudah hilang," ujarnya dihubungi Radar Bangka, Minggu malam (8/7).

Disebutkan John Piter Tampubolon, bahwa pihaknya sebenarnya sudah berkoordinasi sama Jasa Rahardja. "Kami sudah kordinasi sama pihak Jasa Rahardja. Namun lakalantas yang terjadi disana sudah hilang semua barang bukti. Cobalah saat kejadian langsung melapor pasti dapat asuransi jiwa 70  juta. Kalau dilaporkan cepat saat belum meninggal 20 juta, meninggal 50 juta. Kami tidak mau membuat rekayasa, ini duit negara dan bukan membikin sulit," bebernya.

Lebih jauh John Piter Tampubolon menambahkan, bahwa Satlantas Polres Babar tidak pernah mempersulit setiap kejadian lakalantas apapun yang terjdi di wilayah hukumnya. "Abang bisa lihatlah khusus di Bangka Barat kami tidak memungut seperakpun biaya tiap terjadi lakalantas.

Selain itu, hendaknya kami menghimbau pihak Jasa Rahardja mengadakan sosialisasi agar masyarakat yang belum mengerti lebih tahu seperti yang terjadi di Teluk Limau. Bukti visum itu sangat penting apakah benar terjadi lakalantas atau pembunuhan," tandasnya. (cr10)





Berikan Komentar

Kamtibmas Lainnya
Terserempet Oleh Pengendara "Boti", Selvia Tak Sadarkan Diri Saat Dilarikan Ke RS Medika Stania
Terserempet Oleh Pengendara "Boti", Selvia Tak Sadarkan Diri Saat Dilarikan Ke RS Medika Stania
Jum'at, 10 Agustus 2018 23:01 WIB
RIAUSILIP - Pelajar berusia 16 tahun, Selvia Nur Apriyanti terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Medika Stania Sungailiat dalam keadaan
Dicabuli Teman Kerja, Ibu Muda Difoto Nyaris Tanpa Busana
Dicabuli Teman Kerja, Ibu Muda Difoto Nyaris Tanpa Busana
Kamis, 09 Agustus 2018 19:44 WIB
KOTAWARINGIN BARAT - Amir sungguh keterlaluan. Dia nekat mencabuli teman kerjanya, SRY, yang sudah bersuami. Ulah nekatnya itu membuat Amir
Kecelakaan Tunggal di Cambai Dua Korban Luka Berat
Kecelakaan Tunggal di Cambai Dua Korban Luka Berat
Kamis, 09 Agustus 2018 17:58 WIB
NAMANG - Dua korban kecelakaan tunggal terjadi di ruas jalan Desa Cambai Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah pada Kamis (9/8)
Polda Babel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa NTB
Polda Babel Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa NTB
Rabu, 08 Agustus 2018 16:23 WIB
PANGKALPINANG - Usai mengelar shalat ghaib berjamaah, Kapolda Bangka Belitung (Babel), Brigjen Pol Syaiful Zachri beserta jajaran secara resmi melepas