Berita
Pemda Kurang Seriusi Persoalan Ketenagakerjaan
Kamis, 21 Juli 2011 09:31 WIB | Dibaca 295 kali
JAKARTA (radarbangka.co.id) - Perhatian pemerintah daerah (pemda) di Indonesia tehadap pembangunan sektor ketenagakerjaan dinilai masih rendah. Dari hasil pengukuran indeks pembangunan ketenagakerjaan tingkat provinsi, rata-rata secara nasional hanya mencapai nilai 49.
Minimnya perhatian pemda-pemda terhadap sektor ketenagakerjaan tercermin dari kurangnya kualitas dan kuantitas pegawai di bidang ketenagakerjaan, minimnya dukungan anggaran APBD serta terbatasnya sarana dan prasarana kerja. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan, ke depan nilai indeks pembangunan ketenagakerjaan tingkat provinsi harus naik menjadi rata-rata 50-55.
"Sehingga dapat mendorong terciptanya situasi ketenagakerjaan yang kondusif di daerah-daerah. Masalah pengawasan ketenagakerjaan dan pola hubungan industrial menjadi penyebab utama rendahnya  nilai indeks pembangunan ketenagakerjaan di seluruh pemda di Indonesia," ungkap Muhaimin di Jakarta, Rabu (20/7).
Muhaimin  mengaku telah menyusun indeks Pembangunan Ketenagakerjaan daerah dengan memperhatikan 28 indikator ketenagakerjaan. Di antaranya meliputi perencanaan tenaga kerja, penduduk dan tenaga kerja, kesempatan kerja, pelatihan dan kompetensi kerja. Selain itu indikator lainnya upaya peningkatan produktivitas tenaga kerja, pola hubungan industrial, kondisi lingkungan kerja, pengupahan dan kesejahteraan tenaga kerja dan jaminan sosial tenaga kerja.
“Penilaian Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan merupakan  acuan dasar untuk mengukur tingkat keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan di daerah, bahan  evaluasi kebijakan dan program ketenagakerjaan daerah serta sarana pemicu (trigger) agar melaksanakan pembangunan ketenagakerjaan secara optimal,“ kata Muhaimin.
Untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan sektor ketenagakerjaan di Indonesia, pemerintah daerah dan instansi pembina sektor terkait juga diwajibkan menyusun perencanaan tenaga Kerja sebagai dasar penyusunan kebijakan, strategi dan program ketenagakerjaan yang berkesinambungan untuk mendukung Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah ( RPJMD) dan RPJM Nasional.
“Perencanaan tenaga kerja di tingkat pusat dan daerah harus dilakukan dengan serius, konsisten dan tepat sasaran. Dengan perencanaan yang baik maka akan tersedia tenaga kerja yang mampu melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja di daerah setempat," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengukuran indeks Pembangunan Ketenagakerjaan di 33 provinsi seluruh Indonesia, Provinsi DKI Jakarta mendapat nilai terbaik dengan nilai 61,04. Posisi DKI diikuti Provinsi Kepulauan Riau dengan nilai indeks 60,08, sedangkan posisi ketiga ditempati Provinsi Kalimantan Timur dengan nilai indeks  58,17.
Sedangkan Provinsi Sulawesi Barat, Maluku Utara dan Sulawesi Selatan merupakan provinsi yang  menempati tiga urutan terbawah. Provinsi Sulawesi Selatan mendapat nilai indeks 41,58,  Maluku Utara mendapat nilai indeks 32,30, Sulawesi Barat dengan nilai  indeks 31,08. Namun kondisi ini bisa dimaklumi dikarenakan kedua provinsi terakhir merupakan provinsi baru yang masih belum maksimal dalam hal pernbanqunan khususnya pembangunan ketenagakerjaan. (Cha/jpnn)



comments powered by Disqus
EPaper Facebook twitter RSS
Jaya Abadi CCTV Hadir Sebagai Master Dealer Cp Plus
Jaya Abadi CCTV Hadir Sebagai Master Dealer Cp Plus
PANGKALPINANG-Jaya Abadi CCTV terhitung Jumat (17/10) lalu hadir di Bangka-Belitung (Babel) sebagai master dealer Cp Plus CCTV. "Kami hadir sebagai master dealer produk CCTV Cp Plus khusus untuk wilayah Bangka-Belitung,"ujar owner Jaya Abadi CCTV, Heles kepada RB.
Ronaldo Jadi Atlet Pertama Punya 100 Juta Fans di Facebook
Ronaldo Jadi Atlet Pertama Punya 100 Juta Fans di Facebook
MADRID - Cristiano Ronaldo tak henti-hentinya membuat rekor. Kali ini, megabintang Real Madrid itu membukukan rekor di luar lapangan. Ronaldo menjadi atlet pertama yang memiliki 100 juta fans di Facebook.
Usul Revitalisasi Makna Sumpah Pemuda
Usul Revitalisasi Makna Sumpah Pemuda
JAKARTA - Rektor Universitas Muhammadiyah Profesor Doktor Buya Hamka (Uhamka) Soeyatno memandang perlu makna sumpah pemuda direvitalisasi dan tidak sekadar formalitas saja.
Mitra Radar