Kerajinan Timah Putih TKF. Usaha Keluarga Sejak 1926


Kerajinan Timah Putih TKF. Usaha Keluarga Sejak 1926

PANGKALPINANG - Salah satu hasil kerajinan khas Bangka sebagai daerah penghasil timah adalah kerajinan timah putih . Kendati ada yang menyebutnya kerajinan pewter, ternyata ada perbedaan yang mendasar antara kerajinan timah putih dan pewter. Menurut salah satu perajin timah yang membuat suvenir khas Bangka, Edi Chung atau Edi Saisudin, perbedaannya adalah bila pewter bobot hasilnya lebih berat dan tidak putih benar sedangkan kerajinan timah putih murni hasilnya lebih putih, mengkilap dan ringan.
Meski saat ini bisnis suvenir timah putih tergolong sepi karena sudah cukup banyak perajin timah di Pangkalpinang, Edi menegaskan tidak akan meninggalkan dunia yang dicintainya tersebut. "Sekarang agak sepi karena di sini (Pangkalpinang-red) saja sudah ada lima perajin. Tapi kita tetap akan menekuni kerajinan suvenir ini," tegasnya di Toko Pandai Timah Bangka, TKF, kemarin (3/5).
Edi mengungkapkan, selain masyarakat Bangka Belitung, pembeli yang datang kebanyakan para wisatawan yang dari luar negeri maupun domestik. Begitu juga dengan pesanan, pihaknya telah melayani pesanan suvenir baik dari pemerintahan maupun luar negeri seperti China, Brazil, Malaysia dan sebagainya.
Profesi yang ditekuninya, menurut Edi, merupakan usaha keluarga yang telah dilakoni turun temurun sejak zaman kolonial Belanda pada 1926. Edi yang merupakan generasi kelima bertekad terus melakukan pengembangan berbagai model hasil kerajinan, baik sesuai idenya maupun menyesuaikan pesanan para konsumen. "Kita pernah tahun lalu mengerjakan pesanan kerajinan timah putih berupa kapal isap. Pengerjaannya hampir 3 bulan karena cukup besar dan rumit. Harganya mencapai Rp 40 juta lebih," jelasnya.
Berbagai produk kerajinan timah putih menghiasi lemari pajang di toko TKF, baik itu gantungan kunci, kereta dorong pengangkut timah, vas bunga, kapal layar, miniatur Pulau Bangka dan Provinsi Babel. Harganya pun cukup beragam, ada yang hanya Rp 30 ribu namun ada juga yang mencapai puluhan juta rupiah.
Kendati tidak semua orang yang datang ke tokonya langsung membeli, namun Edi tetap akan serius menekuni usaha keluarganya karena apa yang dilakukannya tersebut telah membuahkan hasil yang akan selalu menjadi kenangan bagi orang-orang yang pernah datang ke Bangka. "Istilahnya kalau sudah datang ke Bangka tapi tidak memberi kerajina timah itu belum lengkap. Karena inilah salah satu ciri khas dari Bangka sebagai kenang-kenangan," tandasnya. (cr41)





Berikan Komentar

Probis Lainnya
Memanfaatkan Undangan Online di Masa Pendemi Jadi Solusi Terbaik
Memanfaatkan Undangan Online di Masa Pendemi Jadi Solusi Terbaik
Minggu, 22 November 2020 08:30 WIB
Pendemi saat ini merubah banyak hal dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah cara menyebarkan undangan. Saat pendemi Covid-19 seperti ini
Kinerja Sembilan Bulan Tahun 2020 Indosat Ooredoo
Kinerja Sembilan Bulan Tahun 2020 Indosat Ooredoo
Selasa, 03 November 2020 21:20 WIB
Jakarta – Indosat Ooredoo (Perusahaan) hari ini Selasa (03/11/2020), mengumumkan laporan kinerja sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2020.
Perbankan dan Dunia Usaha Berbagi Optimisme Hadapi Dampak Pandemi Corona
Perbankan dan Dunia Usaha Berbagi Optimisme Hadapi Dampak Pandemi Corona
Senin, 22 Juni 2020 13:31 WIB
JAKARTA - Banyak pengusaha dari berbagai sektor industri kesulitan memenuhi kewajiban cicilan kredit lantaran bisnisnya sedang sepi terdampak pandemi corona.
Bos Grab Terpaksa PHK 360 Karyawan
Bos Grab Terpaksa PHK 360 Karyawan
Minggu, 21 Juni 2020 15:57 WIB
JAKARTA - CEO dan Co-Founder Grab Anthony Tan memutuskan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 360 karyawan perusahaannya.