SELAMAT DATANG si NOVAC


SELAMAT DATANG si NOVAC

Oleh : Muhammad Yusuf
Wartawan Radar Bangka
 

Kurang lebih satu tahun dunia ini jadi loyo dikarenakan isu Covid-19 atau Corona. Dikatakan isu karena justru isunya itu yang bikin loyo dunia. Corona tidak menjadi termashur tanpa isu. Pedagangan jadi loyo, pendidikan jadi loyo, dunia hiburan jadi loyo. Seandainya dulu isu demam berdarah disebarkan seperti sekarang, mungkin dampaknya sama dengan sekarang (dunia loyo).  Isu virus ini ibarat pesan kepada dunia bahwa "Kematian sedang mengintai manusia". Bagaimana tidak? Sebesar apapun pengamanan kita terhadap virus ini, kita tetap ada kemungkinan mati karenanya. Ahli agama cuma bisa mengatakan "Kita harus berusaha dari pada pasrah".

Memang benar juga kematian itu mengintai kita dan kita harus berusaha supaya kita terhindar. Banyak hal didunia ini yang menyebabkan kematian. Pemain bola dunia justu ada yang meninggal saat main bola karena serangan jantung, bukankah penyakit jantung lebih bahaya? Bukankah DBD lebih berbahaya? Awal-awal Corona lockdown, jalan dimana-mana yang bertujuan menghindari penumpukan kendaraan, akibatnya sudah pasti mengakibatkan penumpukan kendaraan dijalan aternatif. Kegiatan hiburan malam kurangi padahal virus ini ada siang dan malam.

Hemat saya seharusnya Indonesia stop jual beli bahan bakar terhadap masyarakat umum selama satu bulan, mengenai keperluan bahan bakar rumah sakit dan hal-hal yang sifatnya mendesak bisa diatur oleh pemerintahan setempat. Selesai, tidak ada lagi orang keluyuran tanpa tujuan. Hal ini pasti merugikan bisnis perminyakan Negara. Bukankah saat ini entah sampai kapan Negara juga merugi akibat menanggung biaya hidup rakyat berupa BLT dan lain-lain. Mengenai yang mana dari keduanya yang lebih merugi hanya instansi terkait yang bisa menentukan.

Banyak hal yang dianggap orang awam aneh dalam hal penyebaran virus ini. Seolah semua seperti di Sinetronisasi. Berapa banyak manusia yang berkumpul di pasar tradisional tiap harinya? Seharusnya pasar sudah tutup sejak beberapa bulan lalu dikarenakan pedagangnya terpapar virus ini? Banyak ahli kesehatan yang mengerti kebersihan justru terpapapar Virus ini. Seharusnya pasca demo Omnibuslaw sudah barang tentu memperparah penyebaran virus. Adakah data yang menunjukan penambahan padien Corona drastis pasca demo?

Apakah anda termasuk orang yang anti sinetron cengeng? Nyatanya sudah 27.835 orang meninggal saat ini di Indonesia gara-gara virus ini (menurut data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19). Yang menjadi pertayaan, apakah menurut data statistik kematian Indonesia juga menunjukan tingginya peningkatan kematian saat Corona dibanding pra Corona? Sewajarnya sudah lah pasti kematian akan meningkat berlipat ganda setelah kedatangan Corona. Andaikan didapati jumlah statistik kematian tidak ada peningkatan drastis berarti apa yang harus ditakuti selain takdir. Saya sendiri belum pernah membandingkan data statistik itu. Biarlah yang berwenang mencari tahu.

Dalam kebudayaan suku Banjar, Kalimantan Selatan dikenal dengan istilah "kepuhunan". Jika seorang disuruh atau ditawari makan makanan tertentu dan orang tersebut menolak makan atau lupa mencicipi maka dalam perjalanan orang itu akan celaka. Budaya seperti ini berkembang ke luar Kalimantan Selatan. Dikota Balikpapan (Kaltim), kebudayaan seperti ini juga terlestarikan. Sudah tentu itu hanya mitos. Semua orang boleh percaya boleh tidak namun pada prakteknya kebanyakan orang takut untuk melanggar. Kurang lebih seperti itulah si Corona.

Dalam perjalanan Corona yang kurang lebih satu tahun ini nampaknya masyarakat sudah mulai patuh dengan Protokol Kesehatan. Dimana-mana orang sudah pakai masker dan cuci tangan. Kepatuhan ini boleh jadi hanya sekedar mengikuti aturan saja atau lebih jauh lagi akan menjadi trend dimana orang-orang akan tetap berkumpul, membuat acara tapi tetap menjalankan Protokol Kesehatan. Sampai ditahap ini sepertinya orang-orang sudah mulai lelah menahan takut dan berujung hanya kepatuhan menjalankan aturan, pakai masker malah menjadi trendi saat berfoto-foto (selfi).

Mungkin saja kelak saat Corona sudah tidak ada orang sedunia akan tetap memakai masker dikarenakan trend tadi. Dipertengahan pasca Corona sampai saat ini ramai orang melewati tes deteksi virus Corona dari pengecekan suhu tubuh dari Rapid Test Antibodi, Rapid Test Antigen sampai PCR yang intinya cuma satu yaitu untuk mengetahui seseorang sedang terpapar virus atau tidak. Apapun itu tidak juga bisa menyembuhkan pasien, toh pada akhirnya kekebalan tubuhlah yang berperan penting dalam menyembuhkan penderita Corona. Adakah obat penguat imun didunia ini ? Jika ada mengapa tidak ada anjuran untuk dibeli ?

Vaksin Sinovac telah datang dipenghujung tahun. Kedatangannya banyak yang menanti namun banyak juga yang menolak. Seperti awal kedatangan mister Corona banyak hoax tersebar dimana-mana begitu pula dengan kedatangan Sinovac. Andai si Novac ini manusia mungkin dia enggan datang ke Indonesia sayangnya dia hanya vaksin,  si Novac ini tetap datang walaupun dia tahu di Indonesia banyak orang yang anti dengan produk Negerinya.

Tersebar hoax Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tidak mau di suntik vaksin, isu vaksin haram mengandung babi, isu orang mati karena vaksin, isu denda bagi yang menolak divaksin dan lain- lain namun MUI, BPOM IDI menyatakan vaksin ini aman. Saya ini bukan Dokter, bukan ahli Farmasi, bukan pula Ustad jadi otomatis saya percaya dengan MUI, BPOM dan IDI. Siapa lagi yang wajib saya percaya, apakah ada elemen masyarakat yang lebih hebat dan mau bertanggung jawab melebihi ketiga unsur itu ?

Setahun Corona menghantui dunia. Karena Dia bukan menghantui satu Negara saja otomatis segala prosedur penanganannya diatur pula oleh seluruh Negara didunia ini atas kesepakatan yang dihimpun oleh WHO. Artinya bukan hanya rakyat Indonesia yang harus patuh dengan aturan itu tapi Negara pun harus patuh bahkan Negara sebesar Amerika pun harus patuh. Semoga kepatuhan ini dapat mengusir Corona dan membangkitkan yang telah loyo. (*)
 
 







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Mengenal Parese Nervus Fasialis atau Kelumpuhan Saraf Wajah
Mengenal Parese Nervus Fasialis atau Kelumpuhan Saraf Wajah
Senin, 01 Juni 2020 16:11 WIB
Banyak pertanyaan yang terkadang muncul tentang apa itu kelumpuhan saraf wajah? Bagaimana bisa terjadi? Dan siapa saja yang terkena?
 TENTANG GURU YANG MERINDU SISWA DITENGAH PANDEMI COVID-19
TENTANG GURU YANG MERINDU SISWA DITENGAH PANDEMI COVID-19
Kamis, 30 April 2020 20:49 WIB
Setiap Tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan singkatan HARDIKNAS. Hari ini bertepatan dengan
Pentingnya Pelatihan Staf Keuangan Desa dan Pendampingan Akuntan Desa di Bangka Tengah
Pentingnya Pelatihan Staf Keuangan Desa dan Pendampingan Akuntan Desa di Bangka Tengah
Selasa, 24 Desember 2019 04:19 WIB
Menurut UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa diberikan kesempatan yang besar untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri, termasuk pengelolaan
CIDERA DEMOKRASI LOKAL
CIDERA DEMOKRASI LOKAL
Senin, 20 Mei 2019 15:16 WIB
BEBERAPA waktu yang lalu kita dikejutkan dengan aktivitas kekerasan yang sempat mengejutkan publik di bumi Serumpun Sebalai. Berbagai potret, gambar