Sastra dalam Pusaran Pilpres 2019


Sastra dalam Pusaran Pilpres 2019
Foto : Ilustrasi (Jurnas.com)


Oleh : Iis Siti Salamah Azzahra, S.Pd
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
IKIP Siliwangi Bandung.

Selalu ada hal menarik dan unik setiap penyelenggaraan pesta demokrasi di Indonesia, apalagi sekarang selain pemilihan calon wakil rakyat yang bakal duduk sebagai anggota dewan juga kita akan memilih Presiden dan wakil Presiden untuk lima tahun mendatang. Banyak hal yang menarik terjadi selama masa kampanye atau menjelang hari pencoblosan, saling adu gagasan dan program dalam setiap kesempatan, saling sindir satu sama lainnya hingga bersastra dalam kontestasi kali ini.

Sastra memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bangsa dan negara, ragam bentuk dan cara orang bersastra. Saling berbalas pantun bagi orang minang adalah hal yang sangat biasa, saling berbalas pantun bagi adat betawi dalam acara pernikahan juga satu hal yang sulit dipisahkan, rasanya menjadi sebuah kewajiban. Dalam berkampanye kali ini, selain ada gagasan dan saling kritik, ternyata dua kelompok kandidat calon presiden dan wakil presiden kita sering adu sastra.

“Bukan pedang sembarang pedang, pedang dibawa dari Sukaramai. Bukan datang sembarang datang, datang ku karena cinta kepada orang Dumai" sebuah pantun yang diucapkan Jokowi mengawali kampanye di Dumai beberapa waktu yang lalu yang disambut tepuk tanggan pendukungnya. “Sudah lama langsatnya condong, burung ketitik hinggap di dahan, sudah lama hajat dikandung, baru kini bisa kesampaian” bunyi pantun yang dibacakan Prabowo di Pekanbaru yang disambut tepuk tangan pula belum lama ini.

Seperti kita ketahui bersama bahwa pantun adalah bagian dari sastra yang biasanya terdiri dari 4 baris yang digunakan untuk mengungkapkan rasa oleh pembuatnya, baik rasa bahagia, sedih bahkan untuk mengungkapkan kekecewaan.

Tidak berselang lama, Sandiga Uno, Calon Wakil Presiden penantang petahana juga berpantun yang cukup keras. “Anak kucing burung gereja, makannya anggur di atas meja, Orang asing dikasih kerja, rakyat nganggur kok cuek aja” pantun Sandi yang bernada sindirian. Pantun ini lantas dijawab oleh salah satu anggota TKN, Ace Hasan. "Di Istana Bogor banyak rusa. Lari cepat mengejar kita," balasan pantun yang disampaikan Ace seolah mengingatkan kubu Prabowo Sandi untuk segera mengejar ketertinggalan, bila menilik pada hasil surver sejumlah lembaga surver memang kubu Prabowo Sandi masih kalah.

Bahkan, jauh hari sebelum masa kampenya terbuka dimulai, Bambang Soesatyo yang berasal dari Golkar menyampaikan pantun yang berbunyi "Pak Prabowo Ketua Gerindra, sering terima tamu di Kertanegara. Publik mengira akan tunjuk ulama, ternyata wakil yang tak tersangka". Pantun itu disampaikannya saat menutup sidang di Senayan tahun lalu.

Selain pantun, salah satu bentuk sastra yang sering digunakan sebagai alat untuk berkampanye dan saling mengkritisi satu sama lainnya adalah puisi. Bahkan, sastra puisi yang digunakan dalam kontestasi pemilihan presiden kali ini lebih ramai diperdebatkan publik.

Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah puisi yang dibacakan oleh Neno Warisman beberapa waktu yang lalu, begitu pula dengan puisi yang sering disampaikan oleh Anggota DPR Fadli Zon. Berbalas Puisi sama hebatnya dengan berbalas pantun, masih ingat juga tentang puisi Fadli Zon yang berjudul “Ada Genderuwo di Istana” yang dibalas oleh politisi PPP Arsul Sani dengan judul “Ada Genderuwo di Senayan” muncul jauh hari sebelum ramai masa pemilihan presiden digelar.

Fadli Zon memang sering terdengar menyampaikan apa yang ada dalam benaknya melalui puisi, selain beradu dengan Arsul Sani, Politisi Partai Gerindra ini juga tercatat pernah beradu puisi dengan  Irma Suryani Chaniago dari Partai Nasdem.

Pantun dan puisi dalam pusaran pilpres tahun ini ternyata bukan hanya digunakan untuk saling sindir dan saling kritik, tidak sedikit puisi yang dibaca saat kampanye oleh pendukung masing-masing calon, bedanya puisinya berisi semangat dan memberikan dukungan.

Selain diucapkan secara lisan, puisi dan pantun tidak sedikit pula yang tersebar dalam banyak baligo capres dan caleg yang terpasang di tepi jalan, begitu pula dengan meme-meme yang bertebaran banyak di dunia maya juga tidak sedikit yang menggunakan sastra sebagai isi dari meme yang dibuat.

Penggunaan pantun serta puisi, atau lebih luas lagi sastra memang tidak ada yang melarang, namun tentu perlu aturan dan kaidah yang benar sehingga berkampanye tidak hanya mengenalkan calon dan program-programnya tetapi mengenalkan banyak jenis sastra sebagai salah satu budaya bangsa yang sebenarnya begitu indah.

“Jalan dituntun tak harus menoleh, Jalan beruntun tak boleh berlari, Berpantun dalam Kampanye itu Boleh, Asal tetap santun dan nyaman dihati”.(*)







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
CIDERA DEMOKRASI LOKAL
CIDERA DEMOKRASI LOKAL
Senin, 20 Mei 2019 15:16 WIB
BEBERAPA waktu yang lalu kita dikejutkan dengan aktivitas kekerasan yang sempat mengejutkan publik di bumi Serumpun Sebalai. Berbagai potret, gambar
Cawako Perempuan Turunkan Angka Golput
Cawako Perempuan Turunkan Angka Golput
Senin, 09 Juli 2018 12:28 WIB
PEMILIHAN Walikota Pangkalpinang periode 2018-2023 yang digelar pada 27 Juli 2018 sudah berlalu. Pilkada serentak yang diselenggarakan di 171 daerah
Impeachment atau Pemakzulan Kepala Daerah
Impeachment atau Pemakzulan Kepala Daerah
Selasa, 27 Maret 2018 00:40 WIB
PENYELENGARAAN pemerintahan daerah sejatinya tunduk pada UU No. 32 Tahun 2004. Undang-Undang Pemerintahan Daerah ini dari hari waktu ke waktu
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
Senin, 21 Agustus 2017 07:27 WIB
Meski sudah ada sejak 2013, keberadaan Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange/ ICDX) ternyata masih menuai