Dahlan Fokus Energi untuk Negeri


Dahlan Fokus Energi untuk Negeri

JAKARTA - Peserta Konvensi Partai Demokrat, Dahlan Iskan memaparkan visi dan misinya jika nanti terpilih menjadi Presiden 2014. Dalam paparannya, Dahlan menyodorkan tema ’Energi Untuk Negeri’. Pria yang juga Menteri BUMN itu mengatakan, dirinya akan fokus dalam enam kategori energi, yakni BBM, blok migas, gas hulu dan hilir, listrik, batubara dan geothermal.
    "Saya akan fokus mengatasi enam hal tadi, bahwa negara kita harus diselamatkan sektor energinya. Ini untuk kelangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan," papar Dahlan saat memaparkan visi misinya di hadapan tim Komite Konvensi Partai Demokrat di Jakarta, Senin (6/1).
    Menurutnya, energi ibarat kebutuhan yang sangat dibutuhkan masyarakat saban hari. Karenanya Dahlan mengajak semua pihak untuk melakukan penghematan energi. Pasalnya selama ini masyarakat seolah tak sadar pentingnya untuk melakukan penghematan energi termasuk bahan bakar minyak (BBM).
    "Kalau di luar negeri, banyak negara yang sengaja membeli minyak mentah hanya untuk disimpan, tidak langsung mereka gunakan saat itu juga. Mereka biasanya menyimpannya di dalam tanah dan baru akan dipergunakan kalau situasi sudah sangat darurat. Pemikiran itu sangat berbeda dengan pemikiran orang Indonesia kebanyakan," tuturnya.
    Pria asal Magetan ini sadar bahwa ke depan, energi akan menjadi persoalan yang sangat besar jika tidak ditangani dengan baik. "Kita praktis menghadapi persoalan besar di semua sektor energi. Semua harus kita atasi dan kita bangun. Kalau tidak maka ke depan kita tidak akan punya cadangan pasokan gas ataupun BBM," tukasnya.
    Dahlan mengakui upaya itu bukan hal mudah. Namun, mantan Dirut PLN itu optmistis hal itu bisa dilakukan. "Saya percaya bahwa dengan kemajuan ekonomi secara konsisten terjadi selama 10 terakhir ini, sudah saatnya Indonesia melangkah pada tahapan baru untuk menuju kesejahteraan dalam bidang energi. Kita sudah hampir bisa memenuhi kebutuhan hari ini. Kita bukan lagi negara yang masih disibukkan untuk mengatasi persoalan-persoalan hari ini. Kita sudah tiba pada tahap untuk mengatasi persoalan hari esok," yakinnya.
    Dahlan juga mengungkapkan, bahwa tak semua pendukungnya dari berbagai daerah setuju jika dirinya menggunakan atribut Partai Demokrat untuk maju dalam Pemilu 2014. "Saya tahu bahwa pendukung DI, Demi Indonesia, yang berada di dalam maupun yang di luar adalah mereka yang punya prinsip ’Dahlan yes Demokrat no’," ucapnya.
    Tak mau prinsip itu terus tertanam, maka Dahlan menjelaskan kepada para pendukungnya bahwa sikap seperti itu harus diubah. Mantan Dirut PLN ini menekankan bahwa tak ada gunanya jika ribuan relawan mendukungnya, namun dirinya tak mempunyai kendaraan partai. "Hal itu yang jadi pembahasan saya dengan para relawan DI selama sebulan terakhir ini. Saya jelaskan bahwa saya enggak mungkin bisa maju jika tidak punya kendaraan untuk maju. Dan Demokrat mengajak saya untuk ikut konvensi," terang dia.
    Lebih lanjut Dahlan sadar bahwa elektabilitas Partai Demokrat bisa naik jika ribuan pendukung Dahlan di berbagai daerah satu suara mendukung dirinya dan Partai Demokrat. Akhirnya, atas penjelasan itu, para relawan yang tergabung dalam Demi Indonesia setuju dirinya menggunakan atribut partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).    
    "Enggak ada gunanya saya popouler tapi Demokratnya enggak meningkat dan para relawan sudah sepakat untuk itu. Pak SBY juga sudah menjelaskan tidak akan mengistimewakan salah satu peserta konvensi pun yang berasal dari kader Demokrat. Dan Alhamdulillah mereka sekarang sudah satu suara dengan prinsip ’Dahlan yes, Demokrat yes’," tukas Dahlan sembari diiringi riuh tepuk tangan pendukungnya.
    Ditanya tentang strategi mengalahkan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi), mendapat pertanyaan itu, Dahlan langsung membalas dengan senyuman. "Saya kira enggak perlu membicarakan sesuatu yang belum jelas," ucapnya.
    Lebih lanjut Dahaln  menegaskan, dirinya tak mau berkomentar terlampau jauh terhadap sesuatu yang belum pasti. Sebab, kata Dahlan, selama ini PDIP yang menjadi tempat Jokowi berkiprah sebagai politisi juga belum secara resmi mengumumkan akan mencalonkan mantan Wali Kota Surakarta itu.
    "Saya belum tahu apakah Pak Jokowi akan jadi wakilnya dari PDIP untuk menjadi presiden. Saya rasa enggak usah kita bicarakan sesuatu yang masih di balik awan. Nantilah setelah awannya terang baru akan saya jawab," tutupnya.
    Selain Dahlan, peserta konvensi lain Hayono Isman juga ditanyai hal serupa. Hayono mengakui keberhasilan Gubernur DKI Jakarta Jokowi. "Tidak bisa dipungkiri kalau demokrasi di tingkat daerah telah memunculkan kemajuan. Kita lihat ada Jokowi di Jakarta, Ibu Risma di Surabaya, dan Ridwan Kamil di Bandung," ungkap Hayono.
    Menurutnya konsep demokrasi sekarang ini mampu melahirkan pemimpin yang baik bagi negara. Hayono menganalogikan demokrasi tersebut dengan skema konvensi.
    "Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang efektif, oleh karenanya nantinya saya akan membentuk pemerintahan yang solid. Bukan semata-mata pemerintahan yang kuat," imbuh Hayono.
    Hayono juga menjelaskan bahwa pemerintahan yang solid diawaki oleh orang-orang yang kompeten seperti yang ia sebutkan. Sementara pemerintahan yang kuat dimaknai sebagai pemerintahan yang berisi orang-orang pemegang otoritas.
    Peserta Konvensi Capres PD Endriartono Sutarto menyebut fenomena kemonceran Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai hal yang aneh. Kenapa? Sebelumnya salah satu panelis yang merupakan pemimpin redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu menanyakan kesiapan Endriartono menghadapi Jokowi. Endriartono pun blak-blakan mengkritik kemunculan Jokowi.
    "Era sekarang ini memang aneh, orang yang terkenal menjadi salah satu pilihan masyarakat hanya karena sering masuk media. Padahal kan seharusnya yang dilihat itu rekam jejaknya," jawab Endriartono.     Endriartono pun menekankan bahwa dirinya memiliki gagasan yang seharusnya menjadi dasar masyarakat untuk memilihnya. "Saya tidak melihat peserta konvensi sebagai kompetitor. Saya memiliki gagasan yang membumi sehingga biar rakyat yang menilai," imbuh purnawirawan TNI ini.
    Dalam kesempatan ini ia menyindir mengenai praktik politik dinasti. Menurut dia praktik tersebut telah merusak demokrasi. "Ada dinasti yang terbentuk, melahirkan kader partai dan pimpinan daerah yang lebih banyak memanfaatkan pemilihnya untuk kepentingannya," ungkap mantan Panglima TNI berusia 66 tahun ini. (chi/jpnn)



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Penari Langit di Lokasi Steak Tujuh Ons
Penari Langit di Lokasi Steak Tujuh Ons
Senin, 18 April 2016 16:53 WIB
MENGAPA Anda ke Amarillo ini? Jauh-jauh datang dari Indonesia? Itulah pertanyaan yang sulit saya jawab. Kota ini memang kecil sekali. Letaknya pun nun di pedalaman Texas. Maka, saya putuskan untuk menjawabnya dengan seloroh
Hitam dan Keriting Berbahasa Mandarin
Hitam dan Keriting Berbahasa Mandarin
Rabu, 20 September 2017 14:50 WIB
DAHLAN ISKAN - Ini soal membangun kepercayaan. Yang tidak mudah. Dan waktunya tidak bisa singkat. Kalau tahun ini kami bisa mengirim lagi calon mahasiswa sebanyak 360 orang ke Tiongkok
Tidak Ada Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi
Tidak Ada Bayi Tergencet, Akuarium pun Jadi
Kamis, 04 Oktober 2012 06:44 WIB
HARI itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini: Stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiap menjelang Lebaran.
Manufacturing Hope 71 Membuat Pertamina Tidak Diejek-ejek Sepanjang Masa
Manufacturing Hope 71 Membuat Pertamina Tidak Diejek-ejek Sepanjang Masa
Sabtu, 27 Juli 2013 07:59 WIB
Hampir saja saya merasa bahagia yang berkepanjangan. Yakni, ketika mengetahui bahwa laba PT Pertamina (Persero) berhasil mencapai Rp 25 triliun.