Manufacturing Hope 105 Manajemen dengan Tiga Musuh Baru


Para direksi BUMN kini menghadapi ujian alam: menghadapi gejolak ekonomi. Terutama ketika dolar mencapai Rp 12.000 seperti yang terjadi sejak pekan lalu. Semangat untuk maju yang sudah dibangun menggebu-gebu, kini harus berhadapan dengan jurang.

Risiko-risiko perusahaan kini menganga di depan mata. Dalam menghadapi situasi seperti ini, semangat saja tidak lagi cukup. Antusias dan integritas saja tidak memadai. Harus ada plus plusnya.

Kini fokus direksi tidak hanya bagaimana maju, tapi juga bagaimana tidak berhenti di tempat, tidak mundur, dan lebih-lebih tidak hancur. Kalau fokus di masa normal adalah bagaimana bisa maju, di masa gejolak ekonomi seperti sekarang ini fokusnya bercabang-cabang: efisiensi, kreatif, inovatif, dan siap-siap memotong kegiatan, memotong anggaran, dan memotong perencanaan.

Tugas direksi BUMN lebih berat daripada direksi perusahaan swasta. BUMN mengemban misi untuk ikut menjadi benteng ketahanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan martabat bangsa. Direksi BUMN tidak boleh hanya memikirkan keselamatan perusahaan, tapi juga keselamatan ekonomi secara keseluruhan.

Lebih-lebih lagi gejolak ekonomi ini terjadi pada tahun politik. Tugas direksi menghindari tekanan politik juga harus dikedepankan.

Saya ingat waktu saya masih menjadi CEO perusahaan swasta. Tiga kali saya mengalami krisis. Tapi, saya berprinsip bahwa kita tidak boleh kalah oleh krisis. Tidak boleh menyerah kepada krisis.

Para direksi BUMN yang ada sekarang umumnya belum pernah memimpin perusahaan di masa krisis. Kecuali yang pernah menjadi direksi pada 2008. Maka, saya minta direksi BUMN segera mendiskusikan kondisi perusahaan masing-masing dalam kaitannya dengan gejolak ekonomi sekarang ini. Saya akan mengikuti dari dekat bagaimana setiap direksi menyikapi gejolak ini.

Saya akan memberikan penghargaan khusus kepada direksi yang secara gemilang berhasil mengemudikan perusahaan masing-masing di jalan yang bergelombang ini. Tidak akan ada lagi pelampung bagi kapal yang terbawa gelombang. Tidak akan ada injeksi modal dari negara dengan alasan krisis.

Musuh pertama untuk bisa selamat adalah ketidakkompakan. Dalam suasana seperti sekarang ini direksi harus merupakan satu tim yang solid. Tidak boleh ada direksi yang melobi sana-sini untuk bisa jadi Dirut, misalnya.

Musuh kedua adalah rakus. Direksi tidak boleh menambah-nambah fasilitas untuk diri sendiri. Kalau bisa, justru mengurangi fasilitas. Pada rapat-rapat direksi tidak perlu makanan. Bukan untuk penghematan (tidak seberapa), tapi untuk menciptakan solidaritas kepada seluruh lapisan di perusahaan. Solidaritas diperlukan untuk membina kekompakan.

Musuh ketiga adalah tidak peduli pada detail. Direksi tidak boleh lagi hanya tahu yang besar-besar. Mereka harus tahu persoalan detail hingga tetek bengeknya. Dengan demikian, titik-titik yang menyimpan dan menyembunyikan bahaya bisa segera diketahui. Lebih baik tahu tetek daripada tiba-tiba terkena bengeknya.

Tentu masih banyak musuh lainnya. Tapi, saya percaya direksi BUMN sudah ahli teori manajemen krisis. Krisis ini bukan tidak bisa dilewati dengan gagah. Percayalah, “mendung tidak akan berada di satu tempat terus-menerus”.

Mungkin, dengan gejolak ini ekonomi hanya akan tumbuh 5,6 persen. Tapi, itu jangan diartikan bahwa kita hanya bisa tumbuh 5,6 persen. Ingat: angka 5,6 persen adalah angka rata-rata. Berarti, ada yang tumbuh di atas itu dan ada yang tumbuh di bawah itu. Pasti ada yang minus dan ada yang plus.

Kalau begitu, tinggal tekad kita: pilih tumbuh yang di bawah itu atau yang di atas itu!

Tentu saya tidak bisa menerima sikap direksi yang memilih angka rata-rata, apalagi yang di bawah rata-rata. Lebih lagi yang harus minus. Di tengah krisis pun kita tetap punya kesempatan untuk tumbuh tinggi. Itu yang akan membedakan mana jagoan dan mana pecundang.

Gejolak ekonomi ini sungguh ujian seleksi yang nyata bagi siapa saja. Siapa yang hebat dan siapa yang ternyata biasa-biasa saja. Dalam keadaan normal sering kita tidak bisa membedakan orang-orang yang hebat-hebat itu dari orang-orang yang biasa-biasa saja.

Kini kita akan bisa melihat siapa yang benar-benar hebat!



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Sulitnya (Punya) Anak Superpandai
Sulitnya (Punya) Anak Superpandai
Rabu, 16 Agustus 2017 16:44 WIB
DAHLANISKAN - Umur Audrey baru empat tahun. Saat itu. Tapi pertanyaannya setinggi filosof: Ke mana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?
Sentimentil Kecil di Kegaduhan Besar
Sentimentil Kecil di Kegaduhan Besar
Kamis, 14 Januari 2016 14:39 WIB
SAYA tidak bisa tidak sentimentil menerima SMS ini Sabtu kemarin. Pengirimnya orang di pedalaman Siak, Riau. Dia mengabarkan, Kota Siak Sri Indrapura, ibu kota Kabupaten Siak, segera terang benderang. Berlistrik.
 New Hope 2, Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar
New Hope 2, Menghilang untuk Bisa Banyak Belajar
Kamis, 22 Januari 2015 13:45 WIB
SALAH satu kebebasan yang saya nikmati saat ini adalah bisa kembali belajar dengan leluasa. Belajar apa saja. Dulu, saya mewajibkan diri agar setiap enam bulan sekali "belajar" ke Amerika Serikat: shopping idea, belanja ide.
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Senin, 18 Agustus 2014 12:11 WIB
Lima tahun lalu, Jiwasraya sebenarnya sudah harus dinyatakan bangkrut. Kekayaannya jauh lebih kecil dari kewajibannya kepada para pemegang polis. Selisihnya mencapai Rp 6,7 triliun. Jiwasraya sangat menderita.