Dahlan Iskan Siap Ikut Konvensi Demokrat, Dari Wartawan Menuju Istana


DITUNGGU banyak kalangan, akhirnya Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan jawaban. Mantan CEO Jawa Pos ini memastikan akan ikut dalam konvensi Demokrat untuk bersaing menjadi calon presiden RI 2014 mendatang.


TEMU kangen Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan dengan almamaternya, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Samarinda, menjadi titik awal politik sang menteri. Di hadapan alumni STAIN yang memenuhi ruang pertemuan Hotel Bumi Senyiur, Selasa (20/8), Dahlan menegaskan ikut penjaringan calon presiden dari perahu Partai Demokrat.
Kepastian itu diucapkan ketika seorang mahasiswa S-2 Fakultas Tarbiyah, STAIN Samarinda, menanyakan proyeksi Dahlan dalam Pemilihan Presiden 2014. Sempat “meliuk-liuk” menjawab pertanyaan, Dahlan yang angkatan 1971 di Fakultas Tarbiyah akhirnya menjawab.
“Tentang 2014, sebenarnya istri saya selalu keberatan jika saya masuk pemerintahan,” cerita Dahlan, memulai penjelasan. Pertama, istrinya, Nafsiah Sabri, khawatir karena sewaktu menjadi direktur utama PLN, dia baru sembuh dari sakit.
“Istri saya juga takut kalau saya korupsi. Kalau ada yang ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi, Red), istri saya ngomong begini, Nanti kamu ditangkap,” lanjutnya.
Menurut Dahlan, setelah sembuh dari sakit, dia tidak ingin mencari uang. Hidup sudah berkecukupan, anak dan cucu sudah ada. “Tetapi saya diberi tambahan umur. Saya ingin bersyukur dengan menggunakan sisa umur untuk bekerja bagi negara bahkan tanpa digaji,” tutur Dahlan yang kemarin merayakan ulang tahun ke-38 pernikahan.
Pria yang pernah menjadi Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia Kaltim ini mengatakan, dirinya tidak memiliki partai untuk maju dalam pilpres. Kemudian, dia juga enggan mendekati partai untuk meminta jabatan maupun mencalonkan diri. “Saya selalu ingat perasaan istri saya,” imbuhnya.
Namun, tambah Dahlan, Partai Demokrat terlihat meminta dia mengikuti konvensi sejak empat bulan lalu. Untuk memastikan keinginan itu, Dahlan mengirim surat kepada Susilo Bambang Yudhoyono selaku ketua umum partai.
“Pak SBY, saya dengar saya mau dicalonkan. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan,” ucap Dahlan menirukan apa yang ditulis kepada SBY.
Masih dalam surat, Dahlan mengatakan tak mau menjadi peserta konvensi jika ada tiga hal. Pertama, dukungan dan rating kepadanya rendah. Kedua, tidak mendapat dukungan dari SBY dalam arti bukan Dahlan yang meminta dicalonkan. Terakhir, tidak ada tokoh yang dia hormati, yang memiliki segala kelebihan darinya, yang juga menjadi peserta konvensi. 
“Perkembangan terakhir, rating saya naik terus. Pak SBY juga meminta. Tinggal apakah tokoh yang saya maksud tadi mendaftar atau tidak. Minggu lalu, tokoh itu berkata kepada saya bahwa dia tidak maju dan mendorong saya yang harus maju,” jelasnya.
Alhasil, Dahlan mengatakan dirinya siap jika Partai Demokrat meminta dia maju dalam konvensi. “Kita lihat 15 September, apakah nama saya tercantum atau tidak,” sebutnya, kemudian berkata, “Kalau tercantum.... Saya tanya istri saya dulu!”
Ditemui setelah Temu Kangen, istri Dahlan, Nafsiah, hanya tersenyum ketika ditanya seputar mendaki RI-1. Sementara Dahlan mengatakan, masih terus menanti perkembangan. “Ya, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya,” jelas dia.
Ketika menjadi “pembawa acara” dadakan Temu Kangen, Dahlan juga sempat menyinggung soal masa depan Indonesia. Utamanya, beberapa pelajaran yang dipetik dari pemerintahan SBY.
Menurut Dahlan, di tengah pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pada rezim sekarang, ada yang harus diwaspadai. Impor Indonesia, terutama bahan bakar minyak dan suku cadang menggila. “Ekonomi tumbuh 6 persen tetapi impor berlebihan bisa membuat defisit dan rupiah merosot. Sebetulnya bisa ekonomi tumbuh dan impor terkendali. BUMN yang harus mengambil peran,” kuncinya.
  Sementara itu, saat ini Majelis Tinggi Partai Demokrat telah mengundang 12 tokoh nasional untuk mengikuti konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat, yang akan digelar pada September mendatang.
Sumber di kalangan Demokrat menyebutkan bahwa ke-12 tokoh itu terdiri atas akademisi, menteri, duta besar, gubernur, pimpinan lembaga negara, bupati, dan mantan pejabat tinggi negara.
“Ketua DPD Irman Gusman diundang. Sedangkan dari kalangan menteri ada dua, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ada juga Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo,” kata sumber itu di Jakarta, Selasa.
Dia menyebutkan, ke-12 nama yang diundang adalah Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Anggota DPR Hayono Isman, dan Ketua DPD Irman Gusman.
Selain itu, juga ada Bupati Kutai Timur Isran Noor, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, Ketua DPR Marzuki Alie, mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. (jpnn/fel/zal/k1)



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Cahaya Mobil Listrik dari Sosok Nur
Cahaya Mobil Listrik dari Sosok Nur
Selasa, 22 Agustus 2017 15:59 WIB
DAHLANISKAN - Pemecah telur kendaraan listrik nasional adalah Surabaya. ITS. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Manufacturing Hope 110 Oleh-oleh dari London untuk Hemat Investasi
Manufacturing Hope 110 Oleh-oleh dari London untuk Hemat Investasi
Senin, 06 Januari 2014 03:32 WIB
Semua penumpang pesawat mengeluh: bukan main lamanya antre terbang di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Teman saya harus berada di dalam pesawat lebih satu jam hanya untuk mendapat giliran take-off. Saya sendiri mengalami hal y
Manufacturing Hope 76 Dua Calon Dirut yang Serba Miripnya
Manufacturing Hope 76 Dua Calon Dirut yang Serba Miripnya
Sabtu, 27 Juli 2013 08:02 WIB
Baru kali ini saya mengalami kesulitan untuk memilih orang: siapa yang akan menjadi direktur utama (Dirut) PT Aneka Tambang (Persero) Tbk menggantikan Alwinsyah Lubis, yang karena sudah dua periode tidak bisa diangkat lagi.
Manufacturing Hope 127 Dari Mitsui Menjadi Milik Anak Negeri
Manufacturing Hope 127 Dari Mitsui Menjadi Milik Anak Negeri
Selasa, 13 Mei 2014 10:21 WIB
SATU lagi perusahaan BUMN yang membeli perusahaan asing.