Hitam dan Keriting Berbahasa Mandarin


Hitam dan Keriting Berbahasa Mandarin

DAHLAN ISKAN - Ini soal membangun kepercayaan. Yang tidak mudah. Dan waktunya tidak bisa singkat. Kalau tahun ini kami bisa mengirim lagi calon mahasiswa sebanyak 360 orang ke Tiongkok, itu bagian dari kerja keras yang panjang tersebut. Juga sejumlah pengorbanan.

Awalnya hanyalah ide kebudayaan. Bagaimana masyarakat Tionghoa kian memahami budaya pribumi dan pribumi kian memahami budaya Tionghoa. Lalu berkembang ke bahasa.

Bahasalah alat penting untuk memahami budaya. Karena yang Tionghoa umumnya sudah biasa berbahasa lokal, maka bagaimana yang pribumi bisa lebih mengenal bahasa Mandarin. Dibukalah kursus bahasa Mandarin. Dengan guru tanpa dibayar.

Suatu hari saya bersama Pemred Jawa Pos saat itu, Dhimam Abror, dan guru-guru Mandarin seperti Lily Yoshica bincang-bincang santai. Maka, lahirlah Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC). Lily yang jadi ketuanya. Tanpa bayaran.

Sejak itu, perjuangan mencarikan beasiswa dimulai. Agar kian banyak anak muda Indonesia yang kuliah di Tiongkok.

Ternyata, ada dua kesulitan: Yang mau memberi beasiswa tidak ada dan mencari yang mau menerima beasiswa juga tidak berhasil.

Tapi, Lily pantang mundur. Alumnus Universitas Widya Mandala Surabaya itu memang pendiam, tapi otaknya jalan terus.

Lily lahir di Madiun. Tamat SD Santa Maria, SMP Santo Yusuf, SMA Bonaventura Madiun. Orangnya sabar dan tekun. Tidak gampang menyerah.

 

Lima tahun kemudian, setelah saya transplantasi hati di Tianjin, mulai ada hasilnya. Tahun itu ada sembilan universitas di Tiongkok yang mau menyediakan beasiswa terbatas. Bebas biaya kuliah, tapi tempat tinggal dan makan bayar sendiri.

Mula-mula hanya 50 calon mahasiswa yang memanfaatkan. Tahun berikutnya meningkat sedikit. Kian lama kian populer.

Ada yang kaget. Untuk kuliah sampai lulus di kedokteran, hanya akan habis Rp 280 juta. Itu biaya selama lima tahun. Makannya di kantin universitas dan tidurnya di asrama kampus.

Tahun-tahun berikutnya, peminatnya naik drastis. Naik jadi 120 orang. Naik jadi 160. Tahun lalu 350 orang. Tahun ini 360 orang.

Bidang studi yang dipilih pun kian beragam. Mulai kedokteran, bisnis, pertanian, sampai jurusan ilmu kereta api.

Semula, calon mahasiswa memang lebih banyak dari Jawa Timur. Lama-lama sampai Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Saya kaget ketika ikut menari bersama anak-anak muda berkulit hitam dan berambut keriting itu. Mereka nyambung saat saya ajak berbahasa Mandarin.

Andre Soe yang belakangan bergabung ke ITCC seperti kitiran saja: tidak pernah berhenti keliling daerah. Ke perbatasan-perbatasan. Bahkan, tahun ini calon mahasiswa terbanyak berasal dari provinsi baru, Kalimantan Utara. Sebanyak 68 orang.

 

Gubernurnya sendiri, Irianto Lambrie, ikut mengantar mereka ke Surabaya. Beberapa orang berasal dari suku Dayak di perbatasan dengan Sabah dan Sarawak. Atau dari Pulau Nunukan dan Sebatik yang belahan utara pulau itu masuk wilayah Malaysia.

Yang meningkat drastis juga calon mahasiswa dari pesantren. Mulai Amanatul Ummah Mojokerto, Nurul Jadid Probolinggo, Bumi Sholawat Sidoarjo, hingga yang fenomenal dari SMA NU 1 Gresik.

Tahun ini ada bintang baru: Sambas (Kalbar). Bupatinya bernama H. Atbah Romin Suhaili. Bupati Suhaili sangat antusias untuk mengirim putra daerahnya kuliah di Tiongkok.

Biar masa depan Sambas cemerlang, katanya. Pak Bupati ini lulusan pesantren, kuliah S-1 nya di Madinah, Arab Saudi, dan satu-satunya bupati di Indonesia yang hafal Alquran.

Tapi, begitu antusiasnya bupati ini, sampai dia sendiri yang mengantarkan calon-calon mahasiswa dari Sambas itu ke Surabaya.

Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pun dengan bersemangat ikut hadir di acara pemberangkatan mereka pekan lalu.

Maka, beliau pun berkomentar saat makan malam di rumah saya setelah acara itu, ”Jangan kaget kalau kelak ke pesantren atau ketemu orang Papua bicaranya Mandarin.” (*)



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Prestasi Baru setelah Azra Pimpin UI Negeri
Prestasi Baru setelah Azra Pimpin UI Negeri
Kamis, 26 November 2015 09:53 WIB
KIAN banyak institut agama Islam negeri (IAIN) yang berubah menjadi universitas Islam negeri (UIN). Yang memulai adalah IAIN Jakarta. Lebih dari sepuluh tahun lalu. Disusul IAIN kota besar lainnya.
Trump Duluan, Kondom Kemudian
Trump Duluan, Kondom Kemudian
Selasa, 27 Maret 2018 04:09 WIB
Ini gara-gara Trump resmi memulai perang dagang. Niat saya meneruskan tulisan tentang kondom kalah aktual. Maka, wahai para penggemar kondom tertipis, marahlah pada Trump.
Telah Lahir: Sang Penari Langit Nasional.
Telah Lahir: Sang Penari Langit Nasional.
Senin, 13 Oktober 2014 12:47 WIB
"Suami saya sudah hilang," celetuk sang istri. "Hilang di Sumba," jawab sang suami. Ricky Elson, sang suami, kini memang tiga strip lebih hitam dibanding saat tinggal di Jepang dulu. Begitu lama Ricky tinggal di pedalaman
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Senin, 18 Agustus 2014 12:11 WIB
Lima tahun lalu, Jiwasraya sebenarnya sudah harus dinyatakan bangkrut. Kekayaannya jauh lebih kecil dari kewajibannya kepada para pemegang polis. Selisihnya mencapai Rp 6,7 triliun. Jiwasraya sangat menderita.