Menjadi Santri Kiai Maimoen di Hari Santri


Menjadi Santri Kiai Maimoen di Hari Santri

LIMA hari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Dahlan Iskan menyempatkan diri sowan ke KH Maimoen Zubair di Rembang, Jateng.

****

Usianya sudah 90 tahun, tapi masih aktif mengajar. Suaranya masih lantang. Wajahnya masih segar.

Dan saat mencermati kitab, beliau tidak mengenakan kacamata. Bahkan, seperti di hari Minggu kemarin, mengajarnya tiga kali.

Itulah sosok Kiai Maimoen Zubair, tokoh sentral pondok bintang sembilan Sarang, Rembang, 3 kilometer di sebelah barat perbatasan Jatim-Jateng.

Saya menjadi salah satu santri dadakannya pagi itu. Terselip di antara 15-an santri tetap yang setiap minggu mengikuti jurusan mata pelajaran ini.

Kami semua menyimak kitab yang lagi dibahas. Yang tulisannya menggunakan huruf Arab gundul (tidak ada tanda bacanya).

Para santri itu mengenakan sarung dan duduk bersila di lantai di hadapan kiai. Dengan sebuah kitab tua di pangkuan masing-masing.

Sedangkan saya yang mengenakan sarung duduk di sofa di sebelah Kiai Maimoen mengajar. Tentu juga memangku kitab yang dimaksud.

Meski saya diminta duduk di samping kiai, bukan berarti kemampuan saya di atas para santri itu. Saya pasti kalah. Terutama dalam penguasaan Arab gundulnya.

Saya memang pernah belajar ilmu nahwu shorof balaghah (tata bahasa dan sastra) selama enam tahun, tapi tidak sedalam para santri itu.

Pelajaran yang saya ikuti di pondok Sarang itu adalah filsafat. Pelajaran tertinggi di pondok. Karena itu, yang mengikutinya hanya 15-an santri.

Padahal, jumlah santri di pondok Sarang ini 4.000 orang. Filsafat, atau di situ disebut tasawuf, memang pelajaran terelite di pondok pesantren. Kian tinggi tingkat tasawuf, kian sedikit santrinya.

Dari total 140 santri yang memperdalam ilmu tasawuf, hanya 15 orang itu yang mencapai tingkat tertinggi.

Karena itu, Mbah Moen –begitu panggilan akrab Kiai Maimoen Zubair– sendiri yang mengajarkannya.

Beberapa informasi melegakan juga diselipkan di sela-sela pelajaran itu.

Para santri tasawuf itu, katanya, kini diakui pemerintah setingkat dengan mahasiswa S-1 jurusan filsafat.

”Berarti di sinilah jurusan filsafat yang paling banyak mahasiswanya,” ujar beliau.

Mata pelajaran yang dikaji Kiai Maimoen pagi itu adalah syarah Ihya Ulumuddin. Satu pelajaran filsafat dengan pegangan kitab karya Imam Al Ghazali itu.

Kami pun masing-masing menyimak karya yang ditulis 1.000 tahun yang lalu itu.

Gaya Mbah Moen mengajarkan mata pelajaran itu mengingatkan saya pada apa yang saya alami waktu masih remaja.

Kiai Maimoen membaca syarah itu dalam bahasa Arab, lalu menjelaskan maksudnya dalam bahasa Jawa. Kadang dicampur Arab, Jawa, dan beberapa istilah Inggris.

Bab yang lagi dibahas adalah soal zuhud. Ajaran untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri dari godaan-godaan duniawi.

Termasuk agar bisa melawan kesenangan berhura-hura, gila harta, dan kecintaan pada yang serba kebendaan. Dalam bahasa sekarang: agar tidak mata duitan.

Tata warna, dekorasi, dan pertunjukan adalah salah satu bentuk godaan itu. Lalu tetabuhan seperti alat musik. Lalu suara merdu, bernyanyi.

Lalu gerak tubuh yang kini disebut goyang. Tentu termasuk jenis goyang terbaru seperti goyang ulek-elek sampai goyang grobyak-grobyak.

Semua itu, ujar Kiai Maimoen, boleh saja. Tidak haram. Tapi, seorang tasawuf harus bisa mengendalikan dirinya untuk tidak sampai terlarut di dalamnya.

Kalaupun melakukan itu, tidak boleh sampai berakibat pada timbulnya ketertarikan pada kebendaan.

Itulah pemahaman dan penangkapan saya. Kalau saya salah tangkap, kesalahan itu ada pada saya. Bukan pada kiai utama NU itu.

Bukan pada kiai khos berusia 90 tahun itu. Usia 90 tahun masih aktif mengajar, masih bisa mendengar dengan sangat baik, dan masih belum berkacamata.

Bicaranya masih lancar, ingatannya masih tajam (termasuk saat menceritakan perkembangan Islam sejak abad pertama), dan logika berpikirnya sangat mantik. Alangkah berkahnya. (*)



Berikan Komentar

dahlaniskan Lainnya
Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur
Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur
Senin, 17 Juli 2017 21:37 WIB
Inilah urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara. Sampai dibahas selama dua hari di DPR. Tidak ada sengketa waris keluarga yang sedramatis ini. Melibatkan nyaris seluruh rakyat negara itu. Dalam pro dan kontra.
Setiap Kesulitan Punya Jalan Keluar
Setiap Kesulitan Punya Jalan Keluar
Selasa, 11 Agustus 2015 15:16 WIB
SUDAH satu bulan lamanya ahli ekonomi dunia menunggu dengan harap-harap cemas. Permainan kungfu apa yang akan diperlihatkan Tiongkok untuk mengalahkan musuh ekonominya yang sangat sulit diatasi saat ini: jebakan utang.
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Manufacturing Hope 140, Merdeka Rp 6,7 Triliun di Usia 155 Tahun
Senin, 18 Agustus 2014 12:11 WIB
Lima tahun lalu, Jiwasraya sebenarnya sudah harus dinyatakan bangkrut. Kekayaannya jauh lebih kecil dari kewajibannya kepada para pemegang polis. Selisihnya mencapai Rp 6,7 triliun. Jiwasraya sangat menderita.
Penari Langit di Lokasi Steak Tujuh Ons
Penari Langit di Lokasi Steak Tujuh Ons
Senin, 18 April 2016 16:53 WIB
MENGAPA Anda ke Amarillo ini? Jauh-jauh datang dari Indonesia? Itulah pertanyaan yang sulit saya jawab. Kota ini memang kecil sekali. Letaknya pun nun di pedalaman Texas. Maka, saya putuskan untuk menjawabnya dengan seloroh