Polair Polda Babel Akan Tindak Penambang Perimping


Polair Polda Babel Akan Tindak Penambang Perimping

PANGKALPINANG - Maraknya penambangan pasir timah ilegal di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Perimping Kecamatan Riausilip dan sungai Berok Kecamatan Belinyu di Kabupaten Bangka Induk mendapat tanggapan dari Polair Polda Babel.

Direktur Polair Polda Babel, Kombes Lukas Gunawan SIk melalui Kasi Gakkum, AKBP Irwan Nasution mengatakan dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan razia besar-besaran secara bersama-sama.

"Info yang didapat mereka (para penambang) menambang didalam, kalo sekarang nambangnya diluar kita  belum mendapat info, nanti kita cek. Untuk kedepannya kami akan kordinasi dengan pihak terkait seperti Pol PP, TNI AL dan Polres Bangka agar melakukan razia besar-besaran di tempat dimaksud," janji Kasubdit Gakum Polair Babel.

Dijelaskannya, pihaknya selaku aparat penegak hukum sudah berulang kali melakukan penindakan tegas di kawasan perairan perimping. Bahkan setiap dilakukan penindakan ponton-ponton milik penambang ditarik ke mako Polair hingga rusak tidak diambil pemiliknya.

"Sudah berulang kali kita tindak bukan satu dua kali saja, bahkan ada yang sampai kita tangkap penambangnya. Kalau efek jera jelas sudah dilakukan bahkan sampai disel dan juga perkaranya naik ke pengadilan," ungkapnya sembari menambahkan kalau Polair terdepan dalam pelayanan terhadap nelayan.

Disinggung maraknya tambang di Perimpimping lantaran ada oknum yang membekingi, pria yang menyandang dua melati di pundaknya ini enggan untuk menjawab. "Kalau itu no coment saya," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya,  kegiatan eksploitasi penambangan pasir timah di kedua wilayah tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun namun masih saja tetap beroperasi. Masyarakat terutama nelayan menduga ada beking besar dikedua wilayah tersebut.

Demikian disampaikan Direktur Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Kabupaten Bangka Abu Hanif kepada Radar Bangka saat dihubungi melalui ponselnya Minggu sore (24/6). Dikatakannya, bahwa penambangan dua wilayah tersebut masih tetap beraktivitas seperti biasanya mengeruk timah di perairan setiap harinya.

"Ratusan itu ponton towernya, baik di perairan Perimping dan Berok. Namun yang ngerambah hutan konservasi itu tambang di Perimping kiri-kanan alur sungai, dan di Berok bukan hutan konservasi, namun yang ia rambah hutan bakaunya (mangrove, red) daerah sungai hampir bibir laut," ujar Abu Hanif.

Namun, kata Abu Hanif saat ini tambang yang berada di sungai Berok agak sedikit masuk kedalam dari bibir pantai sehingga dapat dikatakan akan semakin merusak hutan mangrove apabila terus beraktivitas seperti sekarang ini. Kedua wilayah perairan tadi sudah bertahun-tahun dieksploitasi oleh tambang-tambang liar yang tak kunjung jera beraktivitas.

Yang jelas misteri tidak jeranya para penambang untuk beroperasi kendati sudah sering ditertibkan adanya permainan oknum aparat yang diduga telah membekingi aktivitas tambang sehingga terus berlanjut tanpa hentinya. Dugaan tersebut ia katakan lantaran pada dasarnya masyarakat sangat takut akan aturan dan hukum yang menyangkut tentang aktivitas yang mereka geluti dapat dikenakan pasal berlapis, akibat dibekingi membuat masyarakat tidak takut lagi akan aturan dan hukum yang berlaku.

"Sungai kan dak boleh dirusak, hutan konservasi dak boleh, menambang tanpa izin apalagi.Ketika aturan dan hukum tegas tidak ditakuti oleh mereka pasti ada oknum yang membekingi. Kita sulit membacanya, karena mereka bermain pintar dan tidak tampil didepan kan.Ada mereka menertibkan Polres Bangka, terakhir bulan puasa di Perimping, waktu mereka menertibkan ponton-ponton udah pada kabur, bocor informasinya pasti. Namun di Berok pernah ada penertiban satu ponton, bulan puasa juga oleh Polair," bebernya.

Ia menambahkan, kerusakan alam yang terjadi akibat penambangan tersebutnya rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di dua wilayah tadi serta menurun drastisnya hasil tangkapan ikan bagi masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan lantaran limbah tambang dibuang ke sungai.Dampak besarnya pula tercemarnya air laut yang semuanya bermuara ke Teluk Kelabat.

"Jadi dari sungainya dirusak oleh tambang tower di Perimping dan Berok, sedangkan di lautnya dirusak oleh Kapal Isap Produksi (KIP) di Teluk Kelabat Belinyu sebanyak satu unit. Lokasi KIP (Bleessing and Grand) nya di perairan perbatasan Bangka dan Bangka Barat tidak jauh dari alur pelayaran Pelabuhan Tanjung Gudang itu. Itu yang dirasakan oleh nelayan tradisional," tambahnya.

Untuk di sungai Berok, nelayan yang kesehariannya mencari ikan, udang dan kepiting hasil tangkapan mereka sudah sangat menurun hingga mencapai 50 persen.

Apalagi kepiting bakau bisa dipastikan sudah sangat sulit didapat dan dipastikan bakalan punah akibat terkontaminasinya air sungai dan keresahan itu juga turut dirasakan nelayan sungai Perimping.Bisa dibilang, mencari kepiting bagai mencari emas di lautan sankin sulitnya.

Dirinya menilai, situasi tersebut seperti telah terpola adanya pembiaran yang terkoordinir yang berakibat dampak sosialnya masyarakat dan penambang di adu domba.Pemerintah terlihat tidak tegas dalam mengambil tindakan atas apa yang telah terjadi di masyarakat.

"Kita sudah lakukan semua upaya agar dapat menghentikan aktivitas tambang.Dari tingkat bawah kalau di pemerintahan, sampai ke pusat (kementerian). Nah dari aparat pemegak hukim juga sudah dari tingkat bawah sampai ke Mabes Polri, namun tetap saja masih ada.Saya juga harap kapal isapnya juga dihentikan sampai ditetapkannya perda zonasi. Kan lagi dibahas tidak boleh dulu ada aktivitas," ungkapnya.

Dari pemerintahan pula, pihaknya telah menyampaikan secara langsung kepada gubernur Babel Erzaldi Roesman Djohan atas aktivitas tambang di daerah itu, namun tak kunjung selesai permasalahan yang ada disana.

Aparat penegak hukum dari tingkat bawah hingga ke pusat ia datangi agar dapat mengatasinya, bersama satu orang rekannya nelayan sampai mengunjungi Mabes Polri untuk menceritakan apa yang terjadi seperti penambangan ilegal, perusakan hutan dan sungai dil lokasi itu. (don)





Berikan Komentar

Pangkalpinang Lainnya
Chef Martin Rekomendasikan Pemakaian Air Fryer dan Kompor Induksi di Rumah
Chef Martin Rekomendasikan Pemakaian Air Fryer dan Kompor Induksi di Rumah
Kamis, 17 Oktober 2019 18:07 WIB
PANGKALPINANG - Chef di Hotel Soll Marina Bangka, Martin merekomendasikan penggunaan air fryer dan kompor induksi untuk rumah tangga setelah
2020, Kemenaker Tetapkan UMP Naik 8,51 Persen, Begini Tanggapan Ketua DPRD Babel
2020, Kemenaker Tetapkan UMP Naik 8,51 Persen, Begini Tanggapan Ketua DPRD Babel
Kamis, 17 Oktober 2019 15:28 WIB
PANGKALPINANG - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI telah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar
Gerak Babel Desak Kejari Tuntaskan Perkara SPPD Fiktif 13 Dewan Kota, Berikut Tuntutanya
Gerak Babel Desak Kejari Tuntaskan Perkara SPPD Fiktif 13 Dewan Kota, Berikut Tuntutanya
Kamis, 17 Oktober 2019 10:06 WIB
PANGKALPINANG - Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Bangka Belitung (Babel) mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Pangkalpinang, untuk segera menuntaskan perkara tindak pidana
Empat Pimpinan DPRD Babel Resmi Dilantik, Didit Tetap Jadi Ketua
Empat Pimpinan DPRD Babel Resmi Dilantik, Didit Tetap Jadi Ketua
Rabu, 16 Oktober 2019 13:23 WIB
PANGKALPINANG - Empat Pimpinan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masa jabatan 2019-2024 resmi dilantik setelah pengucapan sumpah/janji jabatan di Ruang