PLTN Harus Perhatikan Geografis & Konstruksi


 PLTN Harus Perhatikan Geografis & Konstruksi

PADANG (radarbangka.co.id)  -  Ketua Tim Ahli Konstruksi dari Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Dr. Eng. Ir. Febrin Anas Ismail, MT mengatakan, untuk membangun PLTN sangat penting untuk memperhatikan aspek geografis lokasi dengan menerapkan budaya konstruksi.

"Secara geografis Bangka Belitung memang relatif aman dari potensi bencana, baik gempa maupun tsunami, namun tetap saja aspek konstruksi PLTN harus mengacu pada pengamanan yang setinggi-tingginya," kata Ketua Pusat Studi Bencana Unand itu.

Ia mengatakan, rencana Indonesia yang akan menerapkan pemanfaatan energi nuklir sebagai pemenuhan sumber energi listrik nasional merupakan rencana yang bagus, ditinjau dari segi manfaat.

Indonesia berencana membangun dua unit PLTN di Bangka Belitung, karena berdasarkan kajian ilmiah BATAN, Babel merupakan daerah dengan potensi bencana rendah dan memiliki kandungan uranium sebagai bahan bakar dasar operasional PLTN.

PLTN yang akan dibangun memiliki kapasitas 10.600 mega watt (MW), sehingga bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera, Jawa dan Bali.

Dari hasil survey direkomendasikan pembangunan dua PLTN berkapasitas 10.600 MW mengambil lokasi di Teluk Inggris Kabupaten Bangka Barat berkapasitas 10.000 MW dan di Permis Kabupaten Bangka Selatan berkapasitas 600 MW.

"BATAN menilai Babel telah memenuhi 17 syarat untuk membangun PLTN, diantaranya kondisi tanah yang baik dan lokasi berada di dekat pantai, struktur tanahnya dengan kedalaman 15 meter masih ada batu granit," kata Pembantu Rektor I Unand itu.

Hal tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari budaya konstruksi dengan mengutamakan faktor keamanan dan kemanfaatan dalam jumlah besar.

Namun, dari segi konstruksi, Indonesia sangat perlu belajar dari negara-negara yang telah lebih dulu memanfaatkan PLTN sebagai suplai energi listrik.

Pada prinsipnya pembangunan konstruksi PLTN harus aman baik pada kondisi normal dan mempertimbangkan aspek pada kondisi abnormal.

Indonesia, katanya, punya banyak potensi baik sumber daya uranium sebagai bahan bakar PLTN dan juga punya banyak tenaga ahli dalam bidang nuklir.

Ia tidak menyangsikan, PLTN di Indonesia dapat menjawab kebutuhan listrik, yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Ia menyarankan, belajar dari kejadian meledaknya reaktor nuklir di Fukushima, Jepang, agaknya Indonesia tidak hanya berfokus pada efisiensi PLTN sebagai sumber energi, namun juga harus memperhatikan aspek keamanan PLTN pada kondisi abnormal dengan standar keamanan konstruksi PLTN yang setinggi-tingginya.

"Maka pengalaman Jepang dan negara lainnya dalam pengembangan nuklir dapat dijadikan pelajaran berharga untuk rencana pembangunan PLTN di Indonesia," katanya.

Sementara Kepala Program Jaringan Internasional Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Prof Dr Herliyani Suharta, mengatakan kecelakaan Fukushima jangan hanya dijadikan pelajaran bahwa PLTN itu berisiko tinggi sehingga tak perlu dibangun di Indonesia. Tapi sebaliknya harus menjadi tantangan mencari di mana lokasi yang teraman.

Dalam seminar "PLTN di Indonesia: Aspek Kesejahteraan dan Keselamatan" di Jakartaitu, ia mengatak Kamis (12/5), Herliyani mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang bebas gempa dan tsunami yang secara geologis sudah terbukti selama ratusan tahun, yang cocok bagi PLTN.

Ketua Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (Himni) Markus Wauran yang juga hadir menjelaskan, sesuai Undang-Undang (UU) no 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), mengamanatkan Indonesia harus sudah memiliki PLTN pada 2016/2017, PLTN seharusnya sudah dibangun sejak dua tahun lalu. 

"Sayangnya sikap pemerintah tidak konsisten dan berubah-ubah, padahal sudah jelas cadangan energi nasional kita tidak lagi bisa bertahan lama," katanya.

Sedangkan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Dr Herman Agustiawan menyayangkan sejumlah kalangan yang menolak nuklir tanpa memberi solusi dalam mengatasi kebutuhan energi yang sangat besar di masa depan.

"Indonesia membutuhkan pasokan energi yang sangat besar dan bisa dipenuhi dalam waktu cepat, 5-15 tahun, maksimum dalam 20 tahun sudah terpenuhi. Apa lagi kalau bukan PLTN yang sekali bangun dalam kapasitas besar," katanya.

Menurut dia, sangat menyedihkan jika Indonesia harus membakar batubara sebanyak 3,5 juta ton per tahun jika menggunakan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) batubara seperti dalam proyek 20 GW tahap I dan II batubara dan betapa besar polusi yang akan dihirup masyarakat Jawa.

Saat ini, lanjut dia, masyarakat Indonesia hanya bisa menikmati listrik 600 kWh per kapita per tahun, sementara Malaysia sampai 3.000 kWh, Jepang 8.000 kWh dan Amerika Serikat 14 ribu kWh per kapita per tahun.

"Sekarang kita mau bangun MRT (Mass Rapid Transit) saja kapasitas listriknya tidak cukup, belum lagi industri-industri baru yang sedang menunggu kebagian jatah listrik. Sekarang saja sudah ’byar-pet’ kalau harus menyala semua, jadi bagaimana mau meningkatkan pembangunan," katanya.

Terpisah, berdasar hasil survei yang dilakukan Guru Besar Universitas Indonesia Bidang Ilmu Komunikasi Politik, Ibnu Hamad, mayoritas masyarakat di pulau Jawa dan Bali menyetujui operasional PLTN di Indonesia.

Ibnu yang dijumpai dalam acara Kuliah Umum Fakultas Ilmu Komunikasi Unisma Bekasi, mengatakan pembangunan PLTN diharapkan menjadi alternatif sumber tenaga listrik di Indonesia menyusul seringnya terjadi pemadaman listrik akibat keterbatasan energi. "Responden menilai PLTN bisa menjadi alternatif sumber energi listrik," katanya.

Hasil jajak pendapat tim independen UI dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang berlangsung akhir November 2010 lalu, kata dia, menunjukkan sekitar 59,7 persen warga di pulau Jawa hingga Bali menginginkan pembangunan PLTN.

"Jajak pendapat tersebut dilakukan terhadap warga di tujuh provinsi, yaitu, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewah Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali," katanya.

Jajak pendapat itu menggunakan metode multistage random sampling. Hasilnya, menunjukkan sebagian besar masyarakat menginkan PLTN beroperasi di Indonesia.

Mengenai dampak negatif sistem nuklir, kata dia, pihaknya telah merekomendasikan teknologi pembangkit nuklir yang canggih dan tidak mudah terbakar. "Kalau dampak negatifnya tinggal bagaimana kita merancang sebuah alat yang canggih namun ramah lingkungan," ujarnya.

Dikatakan Ibnu, PLTN juga bermanfaat dalam meminimalisasi pencemaran karena minim karbon dioksida (CO2). "Sudah ada perangkat yang ramah lingkungan pada teknologi pembangkit PLTN," katanya.

Menurut dia, negara Malaysia berencana membangun PLTN di wilayah perbatasan dengan Indonesia. Jika menimbang risikonya, keberadaan pembangkit milik negara tetangga itu juga berbahaya bagi masyarakat Indonesia.

"Semua tergantung teknologi yang digunakan, sekalipun Indonesia rawan bencana tetapi kalau pembangkitnya bagus resikonya kecil," pungkas Ibnu. (rb/atr)



Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
Akses Internet Desa di Babel Dipastikan Segera Merata
Akses Internet Desa di Babel Dipastikan Segera Merata
Rabu, 27 Januari 2021 00:32 WIB
JAKARTA - Bersama Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi; Staff Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan
Sukses Fuel Card Solar, Pemprov Babel Akan Terapkan Pada LPG 3 Kilogram
Sukses Fuel Card Solar, Pemprov Babel Akan Terapkan Pada LPG 3 Kilogram
Rabu, 27 Januari 2021 00:30 WIB
JAKARTA - Berbekal keberhasilan penerapan sistem fuel card untuk pembelian solar di Babel, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman
Gubernur Erzaldi Siapkan Strategi Pendistribusian BBM di Babel
Gubernur Erzaldi Siapkan Strategi Pendistribusian BBM di Babel
Rabu, 27 Januari 2021 00:23 WIB
JAKARTA - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman membahas 7 poin pendistribusian Bahan Bakar Minyak di Bangka Belitung bersama
Pesawat Sriwijaya Air Hilang Kontak, Tim Basarnas Menuju Lokasi
Pesawat Sriwijaya Air Hilang Kontak, Tim Basarnas Menuju Lokasi
Sabtu, 09 Januari 2021 18:40 WIB
JAKARTA - Basarnas mengirim tim untuk menelusuri pesawat Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak dengan kode penerbangan SJY 182 yang hilang kontak. Tim