Rayakan Natal, 175 Napi Bebas, Negara Hemat Anggaran Rp 3,8 M


Rayakan Natal, 175 Napi Bebas, Negara Hemat Anggaran Rp 3,8 M

PEMERINTAH - melalui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) memberikan remisi (pengurangan masa hukuman) kepada 9.333 narapidana (napi). Dari jumlah sebanyak itu terdapat juta 175 napi yang bebas ketika merayakan natal 2017 pada Senin (25/12). Semuanya merupakan napi yang beragama Kristen dan Katolik.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly menyatakan, pengurangan hukuman itu harus dimaknai sebagai penghargaan bagi napi. Setidaknya, mereka dinilai mencapai penyadaran diri yang tecermin dalam sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma agama dan sosial.

"Mereka yang memperoleh remisi sepatutnya bersyukur. Sebab, remisi merupakan hikmah yang layak narapidana terima karena telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif yang ditetapkan," terangnya kemarin (23/12).

Sesuai dengan ketentuan, remisi diberikan selama 15 hari hingga 2 bulan, bergantung berapa lama napi menjalani pidana.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkum HAM Sri Puguh Budi Utami menambahkan, napi yang mendapat remisi itu telah berkelakuan baik selama 6 bulan. Mereka juga aktif dalam kegiatan pembinaan yang selalu diadakan di lapas dan rutan.

Selain menekan angka overkapasitas, bebasnya 175 tahanan itu bisa menghemat biaya makan. Hitungan Ditjen Pas, negara hemat Rp 3,8 miliar seiring dengan penghematan 260.760 hari tinggal dikalikan biaya makan per napi per hari Rp 14.000. "Selain reward, remisi juga bisa menghemat anggaran negara," ungkapnya.

Utami menjelaskan, selain dari remisi, penghematan anggaran dari biaya makan napi juga dilakukan dari program pembebasan bersyarat (PB), cuti bersyarat (CB), dan cuti menjelang bebas (CMB). Sampai akhir Oktober, ada 23.653 napi yang PB, 32.351 CB, dan 604 CMB. Bebasnya puluhan ribu napi itu menekan biaya makan hingga Rp 174,3 miliar.

Potensi penghematan itu merupakan bagian dari program PB, CB, dan CMB yang dikalikan dengan biaya makan napi atau tahanan per hari sebesar Rp 14 ribu. Potensi penghematan negara dari program tersebut diperoleh setelah mengalkulasi 360 hari dikalikan Rp 14.000 atau Rp 5.040.000. Biaya tersebut merupakan jatah makan napi dan tahanan dalam setahun.

Meski begitu, lanjut dia, tidak mudah mendapatkan pemotongan lewat program PB, CB, dan CMB. Sebab, setiap napi harus berkelakuan baik selama berada dalam lapas. Mereka juga harus mengikuti program pembinaan dengan hasil baik. "Jika seorang narapidana dipidana tiga tahun, bisa mendapat PB dan hanya menjalani masa pidana dua pertiga dari tiga tahun pidana." (tyo/c19/c10/oki)




Banner

Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
Bantuan Plossa Eucalyptus Bagi Masyarakat Untuk Menjalani New Normal
Bantuan Plossa Eucalyptus Bagi Masyarakat Untuk Menjalani New Normal
Selasa, 02 Juni 2020 15:33 WIB
JAKARTA - Enesis Group selaku produsen Plossa Eucalyptus melalui Yayasan Enesis Indonesia, memberikan bantuan berupa 20.000 buah Plossa Press &
Pemerintah Putuskan Ibadah Haji Tahun Ini Batal
Pemerintah Putuskan Ibadah Haji Tahun Ini Batal
Selasa, 02 Juni 2020 12:36 WIB
JAKARTA - Menteri Agama Fachrul Razi memastikan keberangkatan Jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji 1441H/2020M dibatalkan. Kebijakan ini diambil karena
OTG Reaktif Covid-19 Kabur Takut Diisolasi
OTG Reaktif Covid-19 Kabur Takut Diisolasi
Senin, 01 Juni 2020 11:58 WIB
CIANJUR - Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menjalani rapid tes di RSUD Cimacan, Cianjur, dinyatakan positif dan bereaktif Covid-19.
Tiba-tiba Alissa Wahid Cerita Situasi Genting di Istana, Ada Tangisan
Tiba-tiba Alissa Wahid Cerita Situasi Genting di Istana, Ada Tangisan
Kamis, 28 Mei 2020 16:07 WIB
JAKARTA - Putri Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid, mengungkit peristiwa tentang situasi genting di