Besok Aksi Simpatik 505, Ekspresi Bermunajat kepada Allah SWT


Besok Aksi Simpatik 505, Ekspresi Bermunajat kepada Allah SWT

    JAKARTA - Aksi Simpatik 505 adalah sebuah ekspresi sebagian umat Islam yang merasa terusik keadilannya akibat tuntutan ringan jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan Kasus Penodaan Agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Karenanya, ini adalah aksi untuk mendukung independensi hakim dalam persidangan kasus penodaan agama, untuk menjatuhkan hukum berdasarkan nurani.

    "Kepada hakim yang terhormat dan hakim yang mulia, kami tidak pada posisi untuk menekan sistem peradilan sedikit pun. Kami hanya bermunajat kepada Allah SWT di Masjid Istiqlal dan menyampaikan aspirasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia, dan setelah itu kami serahkan keputusan kepada yang Mulia Majelis Hakim, dan kami bertawakkal kepada Allah SWT Yang Maha Adil," kata KH Bachtiar Nasir dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Kamis (4/5).

    Semua fokus di Istiqlal dan akan ada delegasi yang diterima oleh perwakilan Mahkamah Agung RI. "Perbanyak zikir dan doa, apalagi ini adalah hari jumat, sehingga perbanyaklah membaca Surat al-Kahfi dan Surat al-Mulk. Semoga munajat kita dikabulkan Allah SWT dan Allah turunkan keadilan-Nya untuk Indonesia," tambah dia.

    Bagi kaum muslimin di Jakarta, Bachtiar Nasir mengharapkan mari membantu kaum muslimin yang datang dari Jakarta. "Kita bantu mereka yang tidak punya kendaraan, tempat tinggal, konsumsi, dan medis. Masjid-masjid dan majelis taklim, terima kasih jika telah menyediakan tempat dan konsumsi. Jika semua itu berjalan, itu menjadi indikator kesuksesan kita," ujar dia.

    "Aksi Simpatik 505 adalah ekspresi bermunajat kepada Allah SWT dan Allah pasti kabulkan doa-doa kita, dan kita dimenangkan karena kita memperjuangkan keadilan. Ketahuilah bahwa Allah Maha Adil. Allahu Akbar," pungkas dia. 

    Terpisah Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menilai aksi demo itu sebetulnya ditujukan oleh kelompok masyarakat agar proses peradilan berjalan secara adil dan bijak. "Sehingga tidak ada keberpihakan pada pihak mana pun. Itu saja yang kita harapkan dari majelis hakim," katanya di gedung DPR, Senayan. Dia menjelaskan, jika ada unsur yang dirasakan kurang memenuhi aspek keadilan maka majelis hakim harus memerhatikan aspirasi itu. "Kita harapkan semua semoga Pak Hakim semuanya memenuhi aspek keadilan yang dirasakan dan yang dituntut besok," ujar politikus senior Partai Amanat Nasional itu.

    Dalam era demokrasi ini, lanjut Taufik, siapa pun yang berunjuk rasa harus dihargai. Unjuk rasa boleh saja dilakukan asal tertib aman lancar damai. Sehingga harapan dan dukungan kepada majelis hakim untuk memberikan yang terbaik dan seadil-adilnya sesuai dengan keadilan hukum bisa terpenuhi. Taufik enggan berbicara bahwa demo itu perlu atau tidak. Menurut dia, jika ada masyarakat yang mau demo boleh. Hanya harus memenuhi klausul Undang-undang, perizinan dan tidak boleh anarkis.

    "Kalau kita katakan perlu atau tidak seolah-olah membawa ke tirani yang lama. Kalau dirasakan perlu atau tidak semua dikembalikan ke masyarakat," katanya. Dia yakin jika masyarakat sudah merasa puas, keadilan terpenuhi maka akan mendukung dengan baik penegakan hukum tersebut. Dia menegaskan demo itu bukanlah untuk mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan. "Ya ndak, yang dimaksud intervensi kan tidak ada kekuatan apa pun, kecuali (ini hanya) aspirasi masyarakat," tuntasnya.

    Sementara Polda Metro Jaya meminta massa Aksi 55 tidak menggelar long march dari Masjid Istiqlal ke gedung Mahkamah Agung, Jumat (5/5). Pasalnya, aksi jalan kaki itu bisa menimbulkan gangguan umum dan membuat macet jalanan. "Andainya ada warga yang akan melahirkan, nanti terhambat. Ada orang sakit parah, lewat situ terhambat," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di kantornya, Kamis (4/5).

    Argo mengimbau massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) itu agar melaksanakan ibadah di Masjid Istiqlal. Sebagai gantinya, kata Argo, polisi akan menyediakan bus untuk mengakomodasi delegasi massa ke gedung Mahkamah Agung. "Kami memberikan solusi pada perwakilan untuk menuju ke gedung MA. Kami siapkan kendaraan untuk diantar ke gedung MA. Kami juga bisa pertemukan dengan pihak MA," tandas Argo.(rmn/boy/mg4/jpnn)





Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
Jurnalis Bangka Barat Berkunjung ke Diskominfo Pemkab Bantul
Jurnalis Bangka Barat Berkunjung ke Diskominfo Pemkab Bantul
Selasa, 15 Oktober 2019 13:18 WIB
BANTUL - Dalam rangka meningkatkan kapasitas jurnalis, lima orang wartawan di Bangka Barat yang tergabung di Pokja Wartawan Bangka Barat
Bupati Indramayu Terjaring OTT KPK, Diduga Terkait Proyek PUPR
Bupati Indramayu Terjaring OTT KPK, Diduga Terkait Proyek PUPR
Selasa, 15 Oktober 2019 12:15 WIB
JAKARTA - Bupati Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Jabar), Supendi terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),
Lagi, UU KPK Kembali Digugat ke MK
Lagi, UU KPK Kembali Digugat ke MK
Selasa, 15 Oktober 2019 11:22 WIB
JAKARTA - Meski belum memiliki nomor, Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
PWI Dan Ditjen Imigrasi Akan Gelar Safari Jurnalistik
PWI Dan Ditjen Imigrasi Akan Gelar Safari Jurnalistik
Kamis, 10 Oktober 2019 20:13 WIB
JAKARTA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat sepakat menggelar Safari Jurnalistik bersama Direktorat Jenderal Imigrasi, kesepakatan ini sendiri terjalin saat