Air di Bateng Tak Layak Konsumsi


Air di Bateng Tak Layak Konsumsi

KOBA - Kondisi air di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) sangat memprihatinkan. Ini lantaran terdapat komponen-komponen seperti Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) serta kandungan minyak, yang menyebabkan gatal pada kulit.        

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bateng Ali Imron menjelaskan, kondisi ini mengharuskan air di Bateng hanya untuk mencuci dan sebagian lagi mandi. "Sedangkan untuk di konsumsi tidak diharuskan. Sebagian air pula dapat memicu terjadinya penyakit gatal-gatal ketika digunakan untuk mandi," kata Ali Imron, kepada wartawan, Kamis (8/6)

    Rendahnya kualitas air berdasarkan survei pihaknya ini kata Ali, masuk dalam kelas tiga dan empat. Sehingga, benar-benar tidak bisa untuk dikonsumsi karena akan berdampak tidak baik bagi kondisi tubuh. Dijelaskannya, hanya air dikategori kelas satu yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Sementara, kelas dua merupakan air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air minum dengan pengolahan dahulu atau peruntukkan lain yang mensyarakat gunakan mutu air untuk mencuci.

    "Air yang ada di Bateng kategori kelas tiga merupakan air yang peruntukannya untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, mengairi pertamanan, dan atau peruntukkan lainnya yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Sementara untuk kategori kelas empat yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertamanan dan atau peruntukkan lainnya yang mensyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut," jelasnya.

    Untuk diingat, BOD merupakan suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh
mikroorganisme. Biasanya masuk bakteri untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Sedangkan COD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Kandungan minyak tinggi, COD melebihi dan BOD melebihi jika digunakan ke badan akan berdampak ke kulit.

    "Dari hasil pengecekan di 23 titik, kami merincikan air kategori kelas empat hanya terdapat didaerah Sungai Selan. Sedangkan sisanya merupakan kelas tiga. Buruknya kualitas air ini dipengaruhi aktivitas hulu yang banyak aktivitas tambang, dan permabahan hutan. Aktivitas itu menambah banyak bahan logam yang terurai ke sumber air," tambahnya melihat kondisi saat ini.

    Kendati demikian, kebutuhan akan air yang dirasakan sangat penting membuat masyarakat Bateng berinisiasi menggunakan air dalam kemasan. Selain itu, menggunakan air bawah tanah, sumur dan bor, sedangkan untuk air dari PDAM hanya dimanfaatkan untuk menyuci dan mandi. "Masyarakat banyak menggunakan air kemasan, air tanah, sumur dan bor, kalau air PDAM hanya untuk nyuci dan mandi," pungkasnya.(Cr3)





Berikan Komentar

Koba Lainnya
Pemkab Bateng Secara Masif Sosialiasikan Bahaya COVID-19
Pemkab Bateng Secara Masif Sosialiasikan Bahaya COVID-19
Minggu, 05 April 2020 18:31 WIB
KOBA - Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan sosialisasi bahaya virus corona baru (COVID-19) secara masif kepada
Disperindagkop UKM Bateng Raih Penghargaan Pasar Tertib Ukur
Disperindagkop UKM Bateng Raih Penghargaan Pasar Tertib Ukur
Jum'at, 20 Desember 2019 19:15 WIB
KOBA - Di penghujung tahun 2019 ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) kembali meraih penghargaan melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi,
Dinas Perikanan Bateng Sampaikan Program Unggulan ke Kementerian Kelautan Perikanan
Dinas Perikanan Bateng Sampaikan Program Unggulan ke Kementerian Kelautan Perikanan
Rabu, 18 Desember 2019 15:05 WIB
KOBA - Guna menyampaikan beberapa program unggulan Kabupaten Bangka Tengah (Bateng), maka Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bateng, Taufik bersama beberapa
Kontraktor Siap Bertanggungjawab Perbaiki Pasar Rakyat Koba
Kontraktor Siap Bertanggungjawab Perbaiki Pasar Rakyat Koba
Rabu, 18 Desember 2019 17:30 WIB
KOBA - Pihak Kontraktor Pembangunan Pasar Rakyat Koba tahun 2017, melalui pengawas lapangan yakni Iwang mengaku pihaknya siap bertanggungjawab memperbaiki