ICDX, Diantara Pro dan Kontra


ICDX, Diantara Pro dan Kontra

Oleh : Hairul, S.Sos | Wartawan Radar Bangka (Jawa Pos Group)

Meski sudah ada sejak 2013, keberadaan Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange/ ICDX) ternyata masih menuai pro dan kontra sampai saat ini.

Terbaru, masih hangat di telinga kita semua, keinginan Gubernur Provinsi Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman, yang meminta Presiden RI Joko Widodo mengevaluasi bahkan membubarkan ICDX. Dinilai Erzaldi, ICDX sampai saat ini belum memberikan kontribusi maksimal untuk tata kelola pertimahan.

Serupa, jauh sebelum Erzaldi, Gubernur Babel sebelumnya Rustam Effendi dan juga para legislator menilai ICDX perlu dilakukan evaluasi bagi pemerintah pusat. Pertanyaannya, benarkah ICDX belum memberikan kontribusi bagi tata kelola pertimahan dan juga Babel?

Diketahui, potensi timah di Indonesia sekitar 99% berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sisanya, tersebar di wilayah Riau, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Timah di Babel sendiri telah ditambang sekurang-kurangnya pada abad ke-4, yakni ketika Palembang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Karena timahlah, orang-orang seperti dari Inggris, Belanda datang ke Pulau Bangka dan Belitung untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Wajar saja, cadangan timah Indonesia disebut-sebut menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Cina. Menurut data dari USGS, cadangan timah Indonesia sebesar 800.000 ton, dimana dengan asumsi produksi rata-rata timah 60.000 ton per tahun maka timah Indonesia dapat diusahakan hingga 13 tahun ke depan. Cadangan timah ini, tersebar dalam bentangan wilayah sejauh lebih dari 800 kilometer, yang disebut The Indonesian Tin Belt. Bentangan ini merupakan bagian dari The Southeast Asia Tin Belt, membujur sejauh kurang lebih 3.000 km dari daratan Asia ke arah Thailand, Semenanjung Malaysia hingga Indonesia.

Di Indonesia sendiri, wilayah cadangan timah mencakup Pulau Karimun, Kundur, Singkep, dan sebagian di daratan Sumatera (Bangkinang) di utara terus ke arah selatan yaitu Pulau Bangka, Belitung, dan Karimata hingga ke daerah sebelah barat Kalimantan. Jumlah sumberdaya timah dalam bentuk bijih sebesar 3.483.785.508 ton dan dalam bentuk logam sebesar 1.062.903 ton. Sedangkan jumlah cadangan timah dalam bentuk bijih sebesar 1.592.208.743 ton dan dalam bentuk logam sebesar 572.349 ton.

Dari sejumlah pulau penghasil timah itu, Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Pulau Bangka yang luasnya mencapai 1.294.050 ha, seluas 27,56% daratannya merupakan area Kuasa Penambangan (KP) timah.

Area penambangan terbesar di pulau ini dikuasai oleh BUMN yaitu PT Timah, Tbk. Selain itu terdapat sejumlah perusahaan pertambangan swasta lain dan para penambang tradisional yang sering disebut tambang inkonvensional (pertambangan rakyat) yang menambang tersebar di darat dan laut Bangka Belitung.

Namun, meski praktek pertambangan di Babel sudah lama dilakukan, harus kita akui dan sadari, perdagangan timah di Indonesia belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapat timah ilegal yang diperdagangkan dan pasir timah masih ada yang ditambang dari wilayah yang tidak semestinya mengikuti kaidah clean and clear (Cnc). 

Data Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Babel misalkan, ekspor yang dilakukan PT Timah sebesar 49.240 metrik ton atau sekitar 41,13% dari total ekspor timah Provinsi Bangka Belitung yang dihasilkan dari wilayah usaha pertambangan. Berikutnya PT Koba Tin mengekspor sebanyak 7.400 metrik ton dengan luas WUP 41.680 ha atau 8% dari seluruh WUP di Bangka Belitung. Sementara itu, perusahaan timah gabungan swasta yang disinyalir sekitar 30-an jumlahnya, justru mengekspor 63.071 MT atau sekitar 52,69% dari total ekspor timah dari Bangka Belitung.

Padahal WUPnya hanya seluas 16.884 ha atau 3% saja dari total wilayah usaha pertambangan yang ada di Provinsi Bangka Belitung. Diduga perusahaan gabungan swasta tersebut membeli timah hasil ilegal mining.

Nah, dengan hadirnya ICDX seakan memberikan setitik asa ditengah gelap dan semrawutnya tata kelola pertimahan. Lewat ICDX, ternyata ekspor timah batangan semakin transparan dan fair. Disamping itu, data terkait ekspor, harga acuan harian, pembeli dan penjual timah semakin transparan. Hal ini tentu saja menjadi satu kemudahan bagi pemerintah dalam melakukan pemantauan.

Alhasil, dari ketransparanan dan fair tersebut, para pelaku timah semakin merasa nyaman dan akhirnya berlomba-lomba meningkatkan target produksi timah. Korporasi tambang milik negara, PT Timah (Persero) Tbk, dalam laporan tahunan yang dirilis, emiten berkode saham TINS itu menargetkan produksi timah sebesar 35.550 ton pada 2017. Kondisi ini meningkat 49,45% dibandingkan dengan 23.756 ton pada 2016. 

Direktur Utama Timah Mochtar Riza Pahlevi Tabrani dalam satu kesempatan sempat memaparkan harga komoditas timah diprediksi akan terus menguat pada 2017 sebagai kelanjutan penguatan harga 2016. Pada 2016, harga rata-rata timah sebesar US$18.408 per Mton atau naik 14% dibandingkan dengan US$16.186/Mton. Riza memaparkan tingginya permintaan komoditas timah dunia sejalan dengan menggeliatnya industri elektronik, manufaktur dan produk kimia. Permintaan timah dalam jumlah besar berasal dari negara Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

“Dengan tren harga yang masih akan meningkat pada tahun 2017, perseroan tertantang untuk memanfaatkan peluang tersebut. Salah satu caranya, yakni menambah kapal isap untuk mendongkrak produksi agar kekurangan pasokan bahan baku pasir timah seperti tahun 2015 tidak terjadi lagi,” paparnya.

Ya, memang, di tahun-tahun sebelumnya kondisi volume ekspor Indonesia sempat menurun. Macquarie Research dalam publikasinya menyampaikan, meski harga timah berhasil meningkat signifikan pada tahun sebelumnya, namun harus diakui kondisi pasokan dari Asia menjadi bercampur. Indonesia, sebagai eksportir terbesar di dunia, diestimasi memangkas produksi hingga 13% yoy menjadi 61.000 ton pada 2016.

Penyebab turunnya suplai ialah penutupan sejumlah tambang sejak awal tahun menyusul anjloknya harga pada 2015 sebesar 24,97% yoy menuju US$14.555 per ton. Fenomena ini, meneruskan tren 2014 dimana harga merosot 13,2% yoy menjadi US$19.400 per ton. Di sisi lain, pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan pembatasan kuota ekspor untuk menekan penambangan ilegal. Jumlah ekspor timah dari Indonesia pun turun 9% yoy sepanjang 2016 menjadi 63.600 ton.

Menurut kelompok studi timah International Tin Research Institute (ITRI), kenaikan suplai lebih banyak berasal dari persediaan yang sudah ada dibandingkan produksi baru. Eksplorasi tambang di Myanmar pun semakin bergerak ke dalam tanah dan nilai kadar logam yang ditemukan sudah menurun. Oleh karena itu, pertumbuhan produksi timah di Myanmar cenderung melambat mulai 2017 dan seterusnya.

Adapun di China, produksi timah mulai terpengaruh sejak Juli 2016 setelah pemerintah penegakkan peraturan untuk menutup sejumlah kegiatan eksplorasi terkait dengan isu lingkungan. Data pada Oktober 2016 menyiratkan pemulihan nyata karena volume produksi timah di Negeri Panda menjadi 14.000 ton per bulan. Berdasarkan data Bank Dunia pada 2014, tiga negara produsen timah terbesar ialah China sebanyak 146.600 ton, Indonesia 68.400 ton, dan Myanmar 24.000 ton.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? ternyata, sisi penting dari hadirnya harga acuan timah di Indonesia membuat negeri ini diperhitungkan sebagai negara produsen dengan volume ekspor sekitar 70.000 ton per tahun.

Tak kalah penting lagi, kehadiran ICDX juga membuat ekspor timah langsung kepada negara pengguna. Seperti Belanda, Jepang, Amerika, Italia, India dan lainnya. Kondisi ini jauh berbeda dengan pada tahun-tahun sebelumnya dimana saat ICDX belum berdiri, ekspor timah, 90 persennya ditujukan ke Singapura. Wallahu A'lam Bishawab.(**)







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Senin, 21 Agustus 2017 04:18 WIB
BEBERAPA bulan terakhir, Indonesia ditimpa oleh berbagai masalah krusial, yang membuat pemerintah belum dapat mengantarkan negara ini ke arah yang
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Jum'at, 11 Agustus 2017 01:53 WIB
TIGA perkembangan mengemuka seiring dengan perjalanan ASEAN memasuki dasawarsa kelima. Selain mengemukakan konfigurasi aktual, ketiganya mengetengahkan tantangan yang tidak mudah.
Negara Maritim, tapi Garam Langka
Negara Maritim, tapi Garam Langka
Kamis, 03 Agustus 2017 03:26 WIB
BEBERAPA pekan ini kita dibuat kebingungan dengan adanya pemberitaan garam yang langka dan harga melonjak. Kondisi tersebut terjadi di semua
​Negara Maritim, tapi Garam Langka
​Negara Maritim, tapi Garam Langka
Rabu, 02 Agustus 2017 19:28 WIB
BEBERAPA pekan ini kita dibuat kebingungan dengan adanya pemberitaan garam yang langka dan harga melonjak. Kondisi tersebut terjadi di semua