Negara Maritim, tapi Garam Langka


Negara Maritim, tapi Garam Langka

BEBERAPA pekan ini kita dibuat kebingungan dengan adanya pemberitaan garam yang langka dan harga melonjak. Kondisi tersebut terjadi di semua wilayah. 

Bahkan, di Probolinggo sebagai salah satu wilayah penghasil garam, harga garam mencapai Rp 3.200 hingga Rp 4.000 per kg (Radar Bromo, Jawa Pos: 20/7).

Ditengarai, menurunnya produksi garam disebabkan pengaruh fenomena La Nina pada musim lalu (Jawa Pos, 4/5). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis bahwa produksi garam 2016 hanya 144 ribu ton dari target 3 juta ton. Padahal, kebutuhan garam untuk industri dan konsumsi adalah 2,6 juta ton sehingga terdapat defisit yang sangat besar.


Kendala Produksi

Terdapat beberapa kendala produksi garam nasional yang saling mengait. Pertama, ketergantungan kepada kondisi alam sehingga produksi senantiasa diliputi risiko dan ketidakpastian. Produksi umumnya menggunakan metode solar evaporation sehingga sangat bergantung kepada iklim dan cuaca. 

Produksi garam juga perlu syarat khusus, misalnya air laut dengan kadar garam tinggi dan bebas unsur penggangu, saluran yang baik, bebas gangguan tanaman dan ternak, serta kekhususan struktur morfologi tanah, topografi, dan sifat fisik tanah.

Dengan demikian, meski Indonesia memiliki garis pantai terpanjang nomor 2 dunia (99.093 km), tidak semua bisa dimanfaatkan sebagai pegaraman. Tercatat luas pegaraman nasional hanya 25.830 hektare di antara luas lahan nominatif 30.969 hektare dan 60 peresen berada di Madura.

Kedua, rendahnya teknologi serta sumber daya pegaram sehingga terjadi inefisiensi produksi. Peralatan produksi masih tradisional dengan model madurese dan portugese. 

Metode madurese biasa dilakukan pegaram rakyat, dengan mengalirkan air laut dari boezem, peminihan, dan dipungut di meja kristalisasi dengan masa produksi 1,5-2 hari. Sementara itu, metode portugese memerlukan waktu lebih lama karena memungut garam di atas garam.

Berbicara pelaku pegaraman nasional, maka berbicara pegaram rakyat sebagai pelaku pegaraman dominan. Human capital pegaram rakyat masih rendah mengakibatkan proses adopsi inovasi lambat. Bahkan, struktur pelaku produksi garam didominasi penggarap (mantong) yang tidak memiliki kuasa penuh atas lahan.

Ketiga, kelembagaan pemasaran yang tidak berpihak kepada pegaram rakyat sehingga mengerdilkan motivasi berproduksi. Itu erat berkaitan dengan periode masuknya garam impor dan penentuan kualitas yang sering dianggap tidak fair. 

Struktur pasar yang cenderung monopsoni memperparah fluktuasi harga. Selain itu, problem mendasar yang dihadapi pegaram adalah beroperasinya sistem kapitalisme yang mengantarkan kepada kondisi termarginalkan (Rochwulaningsih, 2009). Banyak pegaram mengandalkan tengkulak yang berperan sebagai pemberi modal usaha, kemudian mengikatnya.

Peningkatan Produksi
Upaya menyikapi ketergantungan kepada cuaca diperlukan informasi iklim dan cuaca yang up-to-date serta tersosialisasi dengan baik, agar dapat diantisipasi oleh pegaram. 

Selain itu, diperlukan percepatan pengkristalan garam sebagaimana pernah ada penemuan ramsol, namun tidak diketahui kelanjutannya. 

Penyikapan terhadap kondisi iklim dan cuaca juga bisa dilakukan dengan teknologi salt house sebagaimana yang telah dilakukan pegaram rakyat Pamekasan. Teknologi tersebut dilakukan dengan menempatkan air tua pada wadah-wadah di ruang dengan atap plastik sehingga tidak terpengaruh hujan.

Inti prosedur pembuatan garam ialah mengaliran air laut menjadi air tua sehingga mengkristal di meja kristalisasi. Upaya paling sederhana bisa dilakukan dengan resource sharing air tua. Dengan demikian, setiap pegaram rakyat hanya menyediakan peminihan dan meja kristalisasi. 

Selama ini pengusahaan masih dilakukan secara parsial, meski lahan yang dimiliki tidak luas.

Padahal, paparan Ihsannudin (2016) menyatakan, setiap pegaram setidaknya perlu lahan = 3 hektare untuk dapat memperoleh hasil optimal. Dengan demikian, konsolidasi tanah lahan pegaraman sangat penting. Aplikasi geo membran di meja kristalisasi perlu diperluas. Terbukti teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi sekitar 7,56 kg/hari/m2 (Arwiyah, dkk. 2015).

Kelembagaan tataniaga garam juga perlu dikuatkan sebagai insentif harga sehingga menjadikan pull motivation pegaram. Ketentuan harga garam sebenarnya telah diatur SK Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nomor 02/DAGLU/PER/5/2011. Dinyatakan bahwa harga garam kualitas produksi (KP) 1 Rp 750.000/ton dan KP 2 sebesar Rp 550.000 per ton.

Terkait suplai garam nasional, selain penggunaan data stoknas garam yang terpadu dan konsisten, pemerintah perlu meninjau Permendag 125/2015 karena beberapa item justru terkesan mempermudah garam impor jika dibandingkan dengan Permendag sebelumnya (58/2012). Langkah selanjutnya adalah pengawasan perembesan garam industri menjadi garam konsumsi juga sangat penting.

Penguatan kelompok pegaram, termasuk mantong, perlu juga disentuh agar memiliki nilai tawar tinggi dan mandiri. Program pemberdayaan usaha garam rakyat (pugar) yang telah dilaksanakan pemerintah perlu dievaluasi agar lebih berfokus kepada tujuan program.

Akhirnya, perlu menghilangkan ego-sektoral kementerian serta pemerintah daerah. Saatnya bergandengan dan tidak gegabah terjebak pada kebijakan impor yang justru menjadi bumerang. (*)







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Senin, 21 Agustus 2017 04:18 WIB
BEBERAPA bulan terakhir, Indonesia ditimpa oleh berbagai masalah krusial, yang membuat pemerintah belum dapat mengantarkan negara ini ke arah yang
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Jum'at, 11 Agustus 2017 01:53 WIB
TIGA perkembangan mengemuka seiring dengan perjalanan ASEAN memasuki dasawarsa kelima. Selain mengemukakan konfigurasi aktual, ketiganya mengetengahkan tantangan yang tidak mudah.
​Negara Maritim, tapi Garam Langka
​Negara Maritim, tapi Garam Langka
Rabu, 02 Agustus 2017 19:28 WIB
BEBERAPA pekan ini kita dibuat kebingungan dengan adanya pemberitaan garam yang langka dan harga melonjak. Kondisi tersebut terjadi di semua
Warisan Erzaldi untuk Ibnu
Warisan Erzaldi untuk Ibnu
Jum'at, 28 Juli 2017 16:33 WIB
TERPILIHNYA Bupati Bangka Tengah Erzaldi menjadi Gubernur Kepuluan Bangka Belitung ternyata meninggalkan sejumlah warisan prestasi