Bijak Menanggapi Berita Viral


Bijak Menanggapi Berita Viral

Oleh : Shofiya Laila Alghofariyah*

    BANGSA Indonesia sangat tertarik dengan hal-hal baru. Jika ada hal-hal baru dan unik biasanya cepat menyebar, sehingga menjadi berita popular. Penyebaran tersebut bisa melalui berbagai media, seperti televisi, surat kabar, hingga internet. Media sosial menjadi distributor berita tercepat di Indonesia. Banyaknya pengguna aktif media sosial menjadikan media  sosial sebagai media paling efektif untuk menyebarkan informasi. Baru beberapa menit saja berita diunggah, sudah ada jutaan orang yang mengetahuinya. Dan jika berita tersebut benar-benar unik, maka akan disebarkan lagi oleh pengguna-pengguna lainnya sehingga akan menjadi berita viral di tanah air bahkan hingga luar negeri.

    Salah satu hal unik yang tengah menjadi buah bibir masyarakat tanah air adalah fenomena ‘Om Telolet Om’. Wabah ‘Om Telolet Om’ mulanya berawal dari hobi para pemuda di Jepara, Jawa Tengah kemudian menyebar ke daerah-daerah lainnya di Indonesia. Mereka sangat antusias dengan suara klakson bus yang berbunyi ‘telolet’. Para pemuda tersebut berdiri di pinggir jalan dan menuliskan ‘Om Telolet Om’ di kertas, papan, bahkan spanduk agar menjadi perhatian para sopir sehingga membunyikan klaksonnya. Bunyi klakson tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemburu suara klakson bus.

    Wabah tersebut tidak hanya viral di tanah air, melainkan juga menjadi perbincangan selebritis dunia, walaupun selebritis dunia awalnya bingung dalam mengartikan apa maksud dari istilah ‘Om Telolet Om’. Kepopuleran ini sebagai bukti kekuatan media sosial. Bahkan Presiden Joko Widodo juga angkat bicara tentang fenomena tersebut. Jokowi menilai fenomena tersebut hanyalah cara sederhana rakyat untuk mendapat kebahagiaan, dan menurutnya hal tersebut sangat bagus sebagai hobi.

Akan segera berakhir
    Akan tetapi berita viral tersebut akan segera berakhir karena pihak kepolisian melarang keras bus-bus membunyikan klakson demi hobi tersebut, karena dianggap dapat mengganggu konsentrasi para pengendara sehingga berpotensi terjadi kecelakaan lalu lintas. Ditambah lagi sejumlah warga yang berdiri di sepanjang jalan raya menghalangi bahu jalan sehingga menimbulkan kemacetan. Selain itu, bunyi klakson dianggap mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sepanjang jalan raya, apalagi jika dibunyikan di depan sekolah ataupun rumah sakit, maka akan menimbulkan ketidaknyamanan. Bahkan yang paling bahaya adalah tidak hanya orang dewasa yang berburu suara klakson tetapi juga anak-anak sekolah dasar yang belum bisa menjaga keselamatan diri mereka sendiri di jalan raya. 

    Pihak kepolisian mengeluarkan keputusan tersebut berdasarkan Peraturan Pemerintah Pasal 69 Nomor 55 tahun 2012 tentang Kendaraan. Dalam pasal itu disebutkan suara klakson paling rendah adalah 83 desibel dan paling tinggi 118 desibel. Sejumlah daerah sudah melakukan tindakan tegas terhadap bus yang memasang klakson berbunyi ‘telolet’, seperti di Kediri dan Surabaya. Bus tersebut akan dikenai tilang dan klakson bus akan dicopot secara paksa. Upaya lainnya adalah dengan melarang bengkel-bengkel untuk melayani permintaan pelanggan untuk memasang klakson telolet.

Bijak memilih hobi
    Sudah saatnya pemuda Indonesia bisa memilah dan memilih kegemaran yang dapat memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Fenomena di atas merupakan salah satu contoh masih mudahnya masyarakat tanah air terbawa arus media sosial. Para pemuda dengan bangganya berjejer di pinggir jalan hanya untuk memenuhi kesenangan dan kepuasan. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk kegiatan yang produktif terbuang sia-sia untuk sekedar mengikuti tren supaya tidak dianggap kurang up to date.

    Bagaimana Indonesia bisa menjadi negara maju jika para penerus bangsanya kurang bisa memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu ibarat pedang, jika manusia tidak dapat menggunakannya, maka pedang tersebut yang akan membunuhnya. Alangkah lebih baiknya jika waktu tersebut digunakan untuk belajar, membantu orang tua, melakukan kerja sosial, dan lain sebagainya. Negara-negara maju seperti Jepang, masyarakatnya sangatlah menghargai waktu. Mereka membaca buku ketika menunggu bus di halte serta datang tepat waktu.

Manfaatkan berita viral
    Alangkah lebih baiknya jika masyarakat bijak dalam memanfaatkan berita viral. Karena hobi tersebut sudah sangat populer dan tidak mungkin untuk menghentikannya, maka kesempatan ini dapat digunakan untuk peluang bisnis, seperti menjual souvenir kaos dengan tema ‘Om Telolet Om’. Serta alangkah lebih baiknya bagi pemerintah menggunakan kesempatan ini untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya lebih tertarik untuk naik kendaraan umum. Karena selama ini masyarakat lebih gemar mengendarai kendaraan pribadi untuk mencapai tujuan. Padahal semakin banyak kendaraan pribadi maka resiko kemacetan juga semakin tinggi. Pemerintah juga dapat menggunakan kesempatan ini untuk mensosialisasikan tentang pentingnya menaati peraturan berlalu lintas demi tercapainya keselamatan dalam berkendara. Wallahu a’lamu bi al showab.(**)
    
*Mahasiswa UIN Walisongo Semarang







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Bloomberg, Bank Dunia, Dan JPMorgan
Bloomberg, Bank Dunia, Dan JPMorgan
Kamis, 12 Januari 2017 12:08 WIB
LAPORAN Bloomberg akhir 2016 yang menyajikan kinerja beberapa pemimpin Asia dan Australia sempat menjadi polemik. Polemik
Tahun Baru; Kombinasi Refleksi dan Resolusi
Tahun Baru; Kombinasi Refleksi dan Resolusi
Jum'at, 06 Januari 2017 07:46 WIB
BULAN Desember telah melewati masa penghujungnya, mengisyaratkan bahwa tahun lama digantikan
Kapan Indonesia Bersih Korupsi?
Kapan Indonesia Bersih Korupsi?
Jum'at, 06 Januari 2017 07:39 WIB
KORUPSI bukan lagi menjadi rahasia publik, tetapi sudah menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia.
Ironi Public Health
Ironi Public Health
Senin, 19 Desember 2016 09:38 WIB
MEMBICARAKAN tentang public health atau biasa kita kenal dengan kesehatan masyarakat mungkin