Mewujudkan Politik Profetik


Mewujudkan Politik Profetik

Oleh: Lina Zuliani*
    
MEMASUKI bulan rabiul awwal penanggalan hijriyah, merupakan salah satu momentum yang dinanti-nantikan oleh umat muslim. Bertepatan pada hari senin, 12 rabiul awwal, yakni memperingati kelahiran sosok hamba yang mulia, yaitu pemimpin yang telah berhasil menggiring umatnya hengkang dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan. Sosok insan mulia seperti beliaulah yang seharusnya dijadikan sebagai pijakan para aktor politik dalam bertindak laku.
    
Salah satu teladan dalam kepribadian beliau bisa dilihat dari cara beliau menjalankan pemerintahan pada kala itu. Hal ini, sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pemerintahan yang ada sekarang. Pemimpinnya belum bisa memutuskan perkara dengan bijak, dan tidak jarang membuat rakyatnya kecewa. Misalnya saja, kasus yang terjadi mengenai perizinan pendirian pabrik semen di Pegunungan kendeng, Rembang. Hal ini, membuat rakyat kecewa dengan sikap pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi.
    
Dalam hal ini, hendaknya pemerintah mampu mengintropeksi diri, tentang mengapakah kondisi kepemimpinan saat ini semakin memburuk dengan banyaknya kasus yang bermunculan. Pemimpin saat ini hendaknya bisa bercermin diri, layak atau tidakkah mereka dijadikan pemimpin, sudah berapa banyak usaha-usaha yang mereka lakukan untuk mensejahterakan rakyat, sudahkah mereka memenuhi kewajibannya sebagai seorang pemimpin?

Sosok teladan

Aspek keteladanan beliau didasari pada perannya menjadi pemimpin negara sekaligus sebagai pemimpin agama. Posisi seperti itulah, yang menjadikan beliau sangat relevan jik dijadikan sebagai tokoh yang patut ditiru. Meskipun sistem perpolitikan di Indonesia tidak sesuai dengan sistem politik dalam agama. Namun, sebagai negara yang mempunyai penduduk muslim mayoritas, sejatinya nilai-nilai keagamaan masih tetap harus ada pada diri pemimpin yang senantiasa mewarnai segala perilakunya. Selain itu, mereka diharapkan mampu dan mau mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat, serta dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas.
    
Sejarah mencatat nabi Muhammad, selaku pemimpin negara di Madinah, tidak memberlakukan sikap sekuler dalam menjalankan sistem pemerintahannya. Sehingga hubungan antara negara dan agama tidak ada jaraknya. Nilai-nilai agama mendominasi konstitusi pemerintahannya. Hal ini nampak pada perumusan Piagam Madinah, yang telah mampu menyatukan masyarakat Madinah meski dalam keberagaman. 

Dalam perspektif politik, beliau sebagai pemimpin negara sekaligus agama, telah berhasil membawa rakyatnya menuju pada kemaslahatan dan pemerintahannya pun dapat berjalan dengan dinamis. Dengan begitu, beliau layak dijadikan sebagai teladan bagi pemimpin saat ini, karena mereka merupakan sosok pewaris nabi dalam perpolitikan. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan sistem pemerintahan di Indonesia, konteks agama seakan diberi jarak oleh kepentingan negara.

Politik Profetik

Keberhasilan yang telah diwujudkan oleh baginda nabi pada masa pemerintahannya, tidak terlepas dari aspek kepribadiannya. Karakteristik sifat kenabian yang melekat pada dirinya, mampu membawa dirinya pada sebuah capaian yang baik. Dari pernyataan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa aspek terpenting ketika hendak meneladani sifat beliau dalam konteks politik adalah apa saja yang menjadi dasar beliau ketika menjalankan tanggung jawabnya dalam perpolitikan, yakni dengan menyertakannya dengan empat perkara -empat sifat kenabiannya- yakni sifat amanah (tanggung jawab), siddiqh(terpercaya), fathonah(cerdas), dan yang tidak kalah penting tabligh (penyampai).

Seorang pemimpin yang baik, tidak terlepas dari empat sifat tersebut, jika semua sifat tersebut dapat terpenuhi, maka kemungkinan besar, pemimpin tersebut sudah bisa masuk dalam kategori pemimpin yang bijaksana dan tentulah baik. Dengan adanya keempat sifat ini, penulis mengistilahkannya sebagai syarat pemenuhan “politik profetik” yang meniscayakan konsep perpolitikan berdasarkan pada nilai-nilai kenabian.

Politik profetik diharapkan dapat menciptakan sosok pemimpin yang bertanggung jawab atas kedudukannya sebagai naungan bagi masyarakat, dapat dipercaya, serta cerdas. Baik dalam bersikap maupun berbicara di depan publik serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Pelaku “politik profetik” itu bisa digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai komitmen dalam memegang tanggung jawab atas masyarakat yang dipimpinnya, dapat dipercaya dalam segala ucapan janji yang telah disepakatinya.

Lebih dari itu, yang tidak kalah penting adalah seorang pemimpin harus memiliki kecakapan dalam mengatasi berbagai masalah yang muncul secara tiba-tiba, sehingga masalah itu, dapat teratasi secara cepat dan tepat. Selain itu, pemimpin juga harus mempunyai kecerdasan intelektual, serta kecakapan beretorika. Dari hal-hal itulah, yang menjadi faktor penyebab keberhasilan dari kepemimpinan baginda nabi.

Oleh karena itu, dalam suasana maulid nabi yang juga bersamaan dengan munculnya kasus-kasus dalam perpolitikan saat ini, sangatlah dibutuhkan sosok pemimpin yang berkepribadian ‘profetik’. Untuk itu. Alangkah baiknya apabila teladan yang telah dicontohkan oleh baginda nabi dapat direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi pemimpin sekarang dan masa yang akan datang. Wallahu a’lamu bi al shawab.(**)

*Peserta Sekolah Politik Kebangsaan di LeSAN, Mahasiswa Fakultas Teologi dan Humaniora UIN Walisongo, Semarang







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Jaringan Pengedar Sabu Diringkus
Jaringan Pengedar Sabu Diringkus
Rabu, 22 Maret 2017 08:49 WIB
KOBA - Jajaran Polres Bangka Tengah (Bateng) menangkap tiga warga Kecamatan Koba masing-masing Mr, Ta, dan An yang diduga mengedarkan
Polisi Bekuk Pemuda Pencuri Motor
Polisi Bekuk Pemuda Pencuri Motor
Rabu, 22 Maret 2017 08:47 WIB
TOBOALI - Satreskrim Polres Bangka Selatan (Basel) berhasil membekuk Ahmad Laban alias Laban (24) pada Senin (20/3) sekitar pukul 21.00
BNN Bangka Raker Pemberantasan Narkoba
BNN Bangka Raker Pemberantasan Narkoba
Rabu, 22 Maret 2017 08:45 WIB
SUNGAILIAT - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bangka menggelar rapat kerja (Raker) program pemberdayaan masyarakat anti narkoba bersama instansi/lingkungan pemerintah
Piala Presiden, Tempo Tinggi, dan Antusiasme Penonton
Piala Presiden, Tempo Tinggi, dan Antusiasme Penonton
Rabu, 15 Maret 2017 16:10 WIB
ATEP membanting handuk ke tanah. Kim Jeffrey Kurniawan tak kuasa menahan air mata. Dan, I Made Wirawan hanya bisa duduk