Tiada Hari Tanpa Teknologi


Tiada Hari Tanpa Teknologi

    TEKNOLOGI informasi telah berkembang sejak tahun 1990-an sampai sekarang. Perkembangan teknologi ini membuat masyarakat berubah dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Peralihan tersebut membuat masyarakat khususnya pelajar atau mahasiswa menjadi lebih praktis untuk mengerjakan tugas-tugasnya, sehinggga membuat mereka menjadi malas.

    Di zaman modern ini, masyarakat tidak pernah terlepas dari yang namanya teknologi. Dalam kesehariannya, pasti ada hal-hal yang harus dikerjakan menggunakan teknologi, hal itu karena teknologi informasi saat ini sangat membantu mempermudah pekerjaan mereka. Kenyamanan yang didapatkan ketika menggunakan teknologi tersebut, telah membuat mereka selalu haus akan teknologi, hingga membuat masyarakat enggan menggunakan alat-alat tradisional. Dan terbukti saat ini sangat sedikit orang yang menggunakan peralatan tradisional dalam kesehariannya, penggunaan teknologi yang canggih lebih mendominasi kehidupan masyarakat.

    Munculnya teknologi-teknologi yang baru dan semakin canggih membuat masyarakat ingin memilikinya, karena saat ini sangat sedikit sekali masyarakat yang tidak kenal atau tidak menggunakan teknologi dalam kesehariannya. Tiada hari tanpa teknologi yang membantu meringankan beban pekerjaan mereka, unutk itulah teknologi selalu menjadi kebutuhan utma mereka. Menurut PP RI Nomor 30 Tahun 1990, mahasiswa diartikan sebagai peserta didik yang terdaftar menuntut ilmu di perguruan tinggi tertentu. Menurut Knopfemacher, mahasiswa adalah calon sarjana dalam keterlibatannya dengan perguruan tinggi, mereka dididik dan diharapkan menjadi calon seorang intelektual. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa merupakan sebutan untuk pelajar di perguruan tinggi yang diharapkan nantinya bisa menjadi seorang intelektual.

    Peran seorang mahasiswa secara garis besar menurut Para Ahli ada lima, yaitu mahasiswa sebagai Direct of Change (melakukan perubahan secara langsung karena SDM yang dimilikinya), Agent of Change (melakukan suatu perubahan dimasyarakat), Iron Stock (sumber daya manusia dari mahasiswa tidak pernah habis), Moral Force (kumpulan orang dengan moral yang baik), Social Control (pengontrol kehidupan social yang dilakukan oleh masyarakat). Pada kenyataannya, pernyataan di atas berbanding terbalik dengan kehidupan mahasiswa yang sekarang. Saat ini, mahasiswa menganggap bahwa menjadi mahasiswa yang memiliki ketenaran, baik dari segi penampilan, wajah, ataupun dari segi banyaknya followers di media sosialnya itu adalah pilihan terbaik. Hal tersebut terjadi karena kurang bijaksananya seseorang memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini.

    Perkembangan teknologi yang semakin pesat seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk hal-hal yang penting, bukan untuk membuang-buang waktu ataupun melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Manfaat teknologi salah satunya adalah untuk mempermudah pekerjaan. Tapi di kalangan mahasiswa, mereka salah menafsirkan kata “mempermudah pekerjaan” tersebut. Mahasiswa menjadi malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, yang pada akhirnya memunculka budaya “CoPast” atau Copy Paste.

    Seorang mahasiswa seharusnya memiliki banyak pengetahuan dengan cara mencari atau membaca referensi buku-buku yang dapat membantu menambah pengetahuan atau membantu mempermudah proses pembelajaran mahasiswa di kampus. Akan tetapi, mahasiswa saat ini lebih senang membaca status orang lain di media sosial dari smartphonenya daripada harus membaca buku di perpustakaan yang sudah jelas sumbernya. Hal pertama yang dilakukan mahasiswa saat datang ke kampus adalah membuka gadget/smartphone-nya untuk mengecek ataupun mengupdate status di media sosialnya. Bahkan, saat di kelas pun mereka tidak lepas dari gadget atau smartphone-nya, sehingga membuat mereka kurang fokus dengan apa yang dijelaskan oleh dosen, yang pada akhirnya ketika pelaksanaan ujian, yang terjadi adalah kasus mecontek, mencari jawaban di internet, ataupun menjiplak jawaban teman.

    Masyarakat khususnya mahasiswa yang kurang mengontrol diri dalam menggunakan gadget atau smartphone, biasanya akan gelisah ketika tidak memegang gadget atau smartphonenya  sama sekali. Hari-harinya mereka habiskan dengan teknologi-teknologi yang pada akhirnya akan membuat mereka haus akan teknologi tersebut. Pengontrolan diri sangatlah penting dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Jika tidak kemungkinan-kemungkinan kecil yang terjadi akan menjadi besar. Sebagai seorang mahasiswa kita harus pintar dalam memanfaatkan teknologi agar tidak terjebak dengan kegunaan teknologi yang membuat praktisnya kehidupan kita. Gunakan teknologi disaat-saat yang dianggap penting. Jangan sampai teknologi menghancurkan hidup kita, tapi jadikan teknologi sebagai pengantar kita ke kehidupan yang lebih baik atau pengantar kita kepada kesuksesan.(**)







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
ICDX, Diantara Pro dan Kontra
Senin, 21 Agustus 2017 07:27 WIB
Meski sudah ada sejak 2013, keberadaan Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange/ ICDX) ternyata masih menuai
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Potret 72 Tahun Indonesia Merdeka
Senin, 21 Agustus 2017 04:18 WIB
BEBERAPA bulan terakhir, Indonesia ditimpa oleh berbagai masalah krusial, yang membuat pemerintah belum dapat mengantarkan negara ini ke arah yang
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Tiga Tantangan Dasawarsa Kelima
Jum'at, 11 Agustus 2017 01:53 WIB
TIGA perkembangan mengemuka seiring dengan perjalanan ASEAN memasuki dasawarsa kelima. Selain mengemukakan konfigurasi aktual, ketiganya mengetengahkan tantangan yang tidak mudah.
Negara Maritim, tapi Garam Langka
Negara Maritim, tapi Garam Langka
Kamis, 03 Agustus 2017 03:26 WIB
BEBERAPA pekan ini kita dibuat kebingungan dengan adanya pemberitaan garam yang langka dan harga melonjak. Kondisi tersebut terjadi di semua