Revitalisasi Gelar Sarjana


Revitalisasi Gelar Sarjana

Oleh : Arina Zaida Ilma*

PENDIDIKAN merupakan kebutuhan primer manusia. Manusia membutuhkan pendidikan dalam memunculkan eksistensi sebagai manusia yang seutuhnya.  Pendidikan telah digalakkan di Indonesia melalui program pendidikan wajib sembilan tahun yang dimulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar enam tahun hingga pendidikan sekolah menengah tiga tahun. 

Namun, program pendidikan wajib sembilan tahun telah dihapuskan dan diganti dengan program pendidikan wajib duabelas tahun, yaitu mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Menteri Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani telah memberlakukan program pendidikan wajib duabelas tahun sejak Juni 2015. 

Setiap orang berlomba-lomba untuk memenuhi pendidikan tersebut. Tidak puas sekadar sembilan tahun saja,  target untuk melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi menjadi dambaan bagi para orangtua. Orangtua menginginkan putra putri mereka menjadi lulusan sarjana. Denga harapan, empat tahun atau lima tahun mendatang, lulusan sarjana mudah mendapatkan pekerjaan dan memiliki penghasilan. Namun, faktanya tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Apakah hal tersebut telah dipertimbangkan secara matang dari berbagai sudut pandang? Memang, orangtua memiliki tujuan mengarahkan putra putri mereka agar menjadi orang yang sukses, tetapi bagaimanakah tanggapan anak-anak jika keinginan orangtua tidak sejalan dengan keinginan mereka? Tentunya, akan muncul perasaan ketidakpuasaan terhadap keputusan orangtua, sehingga anak-anak kurang optimal ketika menjalani masa kuliah. 

Merebahnya Lulusan Sarjana 
Belakangan ini, pendidikan menjadi suatu permasalahan di Indonesia. Lulusan sarjana semakin banyak di Indonesia, tetapi tidak terealisasikan sesuai dengan bidangnya masing-masing.  Itu dikarenakan tidak adanya konsistensi dalam pengambilan jurusan kuliah dengan bakat dan minat yang dimiliki, sehingga menimbulkan keterpaksaan dalam menjalani kuliah dan semata-mata hanya mengejar gelar sarjana saja. Tidak jarang, keputusan untuk memilih jurusan kuliah bukan didasarkan pada kemauan individu, tetapi lebih mengedepankan seberapa kerennya jurusan yang diambil tanpa memikirkan akan menjadi apakah setelah memperoleh gelar sarjana. 

Faktor lain yang menyebabkan kesalahan dalam mengambil jurusan yaitu kurangnya sosialisasi guru Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat ketika hendak menginput program studi (prodi) yang diminati para siswa dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Beberapa sekolah membebaskan anak didiknya memilih prodi sesuai selera mereka. Padahal, para siswa yang hendak memilih prodi kuliah membutuhkan banyak informasi terkait jurusan yang mereka ambil, prospek kerja dan impak untuk masa depan mereka. Apabila calon mahasiswa tidak memiliki informasi terkait jurusan yang dipilih, maka dikhawatirkan tidak terwujudnya tujuan dan target perkuliahan.

Namun, semua itu kembali ke pribadi masing-masing. Tidak juga dipungkiri, jika lulusan SMA/MA/SMK yang memilih jurusan tidak sesuai dengan bakatnya dapat bekerja di selain bidang yang ditekuninya, misalnya lulusan teknik bekerja di bank, lulusan dokter bekerja sebagai pengusaha, lulusan dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pemerintah berperan penting untuk menyediakan lapangan pekerjaan, khususnya bagi para lulusan sarjana. 

Lapangan pekerjaan dibagi menjadi dua sektor usaha yaitu sektor usaha formal dan sektor usaha informal. Sektor usaha formal berhubungan dengan instansi pemerintahan yaitu perbankan, transportasi, komunikasi, dan distribusi. Lapangan pekerjaan tidak harus di sektor usaha formal saja.  Pemerintah dapat memperluas sektor usaha informal bagi para lulusan sarjana yang belum memiliki pekerjaan. Contoh pekerjaan di sektor usaha informal yaitu pedagang, penata rias salon dan jasa pengetikan. 

Akan tetapi, harus dipahami bahwa sektor usaha informal hendaknya linear dengan kemampuan calon pekerja. Apabila kelinearan itu tidak bisa terwujud, maka pemerintah dapat memberikan pelatihan-pelatihan untuk menyiapkan calon pekerja supaya memiliki bekal ketika bekerja. Pelatihan tersebut dapat berupa seminar dan praktik kerja langsung.  Melalui seminar, calon pekerja memperoleh informasi terkait etika dan teknik dalam bekerja. 

Sedangkan melalui praktik langsung, calon pekerja menerapkan informasi yang telah diperoleh untuk dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, para lulusan sarjana dapat bekerja lintas jurusan dengan syarat memiliki kompetensi yang baik dalam sektor pekerjaan yang digeluti. Walhasil, gelar sarjana akan dapat terevitalisasikan. Wallahu ‘alam bi al-Shawab.(**)

*Mahasiswi Pendidikan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang dan Alumnus PPMI Surakarta







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Konstelasi Ekonomi Politik Beras
Konstelasi Ekonomi Politik Beras
Kamis, 27 Juli 2017 21:14 WIB
DUGAAN terjadinya penimbunan beras dan praktik monopoli dalam perdagangannya telah menyita perhatian publik
Simak nih soal Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kawasan Sejuk
Simak nih soal Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kawasan Sejuk
Senin, 24 Juli 2017 11:34 WIB
JAKARTA - Tujuan rencana pemindahan ibu kota sebenarnya sederhana, memisahkan pusat kegiatan ekonomi dengan politik pemerintahan
Pujian Adalah Vitamin untuk Otak Anak
Pujian Adalah Vitamin untuk Otak Anak
Sabtu, 22 Juli 2017 16:11 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amalia mengatakan, membangun kepedulian terhadap pengasuhan anak tidak boleh berhenti.
Remaja dan Polygot
Remaja dan Polygot
Kamis, 20 Juli 2017 18:45 WIB
DEWASA ini, penguasaan bahasa asing sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan siapapun, tak terkecuali pada kalangan remaja