SDM Indonesia dalam MEA


SDM Indonesia dalam MEA

Oleh: Dewi Robiah*

TAHUN 2016 hampir berakhir, masyarakat Indonesia tengah dihadapkan dengan Asean Economic Community (AEC) atau lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pada saat inilah, terjadi arus bebas produk, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal, yang semuanya bermuara pada prinsip pasar terbuka bebas hambatan.

Jika kita menilik kondisi saat ini, sudah mampukah industri nasional bertempur di medan MEA? Siap tidak siap, saat ini MEA akan menjadi tantangan negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Melihat catatan masa lalu, sebelum menghadapi MEA Indonesia sudah mengalami defisit dagang dengan Thailand yang mencapai 3,36 miliar dolar AS (menurut data BPS per Oktober 2014) belum lagi masalah-masalah lain.

Pada saat ini, sangat mungkin bagi para pedagang Indonesia bertransaksi jual-beli dengan pedagang Singapura, pedagang pasar dengan pedagang supermarket, pedagang Jawa dengan pedagang asal Bangkok misalnya, dan sebagainya. Dalam bidang jasa misalnya, sangat mungkin sekali tukang sapu jalanan bahkan direktur utama perusahan berasal dari negeri sebrang, ataupun juga bisa sebaliknya. Oleh karena itu, masyarakat harus mempersiapkan diri dengan ilmu, kreatifitas, dan inovasi tinggi agar tidak memberikan jasa hanya yang selevel tukang sapu. Tanpa bermaksud merendahkan tukang sapu, subtansi yang lebih penting adalah agar masyarakat Indonesia mampu berdaya di “tempat” yang lebih layak.

Perlu dingat juga, bahwa MEA tentunya memiliki banyak dampak positif bagi negeri ini, yakni memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan, serta memperbaiki fasilitas  perdagangan dan bisnis. Di samping itu, pembentukan MEA juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses pasar intra-ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian peraturan-peraturan dan standardisasi domestik.

Peningkatan Mutu SDM
Mutu SDM merupakan komponen terpenting dalam menghadapi MEA, karena berperan sebagai pelaku atau subjek usaha. Dalam hal ini, jika SDM Indonesia tidak kompeten dan waspada, bukan tidak mungkin Indonesia hanya akan mendapatkan keuntungan kecil. Kemungkinan terburuk dalam perdagangan produk dalam negeri akan tergerus dan tergusur oleh produk luar negeri dan tidak mampu bersaing dalam negeri sendiri. Bahkan, hanya akan menjadi pasar atau penyedia wilayah pemasaran tanpa terlibat atau menjadi pemeran. Hal ini tentu harus diantisipasi melalui peningkatan mutu produk, mekanisme pemasaran, dan kecakapan masyarakat dalam menyiasati persaingan pasar bebas. Dalam hal ini, uluran tangan pemerintah sangatlah diharapkan dalam pemberian bantuan operasional dan penyuluhan kepada masyarakat akan strategi menghadapi MEA.

Sesuai data BPS Agustus 2013, pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 6,25 persen, padahal angkatan kerja sat itu mencapai 118,2 juta orang. Juga masih ada lebih dari 360 ribu orang sarjana yang menganggur, sangat mencengangkan dan memprihatinkan. Jika sarjana saja sulit mencari kerja, maka bagaimana nasib para lulusan SMA, SMP dan SD? Apalagi menjelang diterapkannya MEA 2015, bisa jadi ledakan pengangguran terpelajar akan menjadi kenyataan.
Upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu menyiapkan peserta didik yang kompeten dan berpengetahuan luas, sehingga menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan menghadapi segala tantangan di masa mendatang. Misalnya, peserta didik diajari bagaimana menjadi seorang entrepreneur yang tidak bermetal inferior. Karena dengan menjadi enterpreneur, selain tidak menunggu kesempatan kerja dari pihak lain juga akan mengurangi jumlah pengangguran yang selama ini menjadi masalah negeri ini.

Selain itu, para pengusaha Indonesia harus terus meningkatkan kemampuan bersaing, jika tidak ingin tersisihkan dengan pengusaha luar negeri. Para pengusaha harus melakukan evaluasi-evaluasi terhadap kemampuan bisnis dan infrastruktur, cekatan dalam mengambil keputusan yang strategis dalam bisnis yang memiliki infestasi masa depan yang menjanjikan. Juga harus pandai membaca peluang yang ada dan berani melakukan produksi dalam jumlah besar. Juga berkemampuan memanfaatkan kecanggihan tekhnologi untuk memperluas jaringan konsumen.
Sinergi berbagai pihak

Sosialisasi tentang MEA tidak hanya dilakukan melalui seminar-seminar ilmiah saja. Dalam hal ini, pemerintah harus memberikan pemahaman yang komprehensip terkait apa saja tantangan dan langkah yang harus diambil kepada seluruh lapisan masyarakat. Karena pelaku MEA bukan hanya kaum terpelajar atau pengusaha besar saja, tetapi justru masyarakat umum harus dijelaskan perihal MEA ini. Jika hal sekecil ini tidak dapat diatasi maka sama saja dengan masuk jurang atau bunuh diri. Ibarat pahlawan perang tanpa membawa persiapan senjata dan kecakapan berperang.

Indonesia harus mampu menciptakan Iklim investasi yang kondusif, mulai dari perbaikan birokrasi, infrastruktur, kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan (perburuhan) serta memberantas korupsi sampai akar-akarnya. Sehingga menimbulkan semangat dan keberanian bagi para pengusaha untuk menanamkan modal dan mengembangkan usahannya.

Perdagangan bebas adalah peluang dan tantangan kita bersama. Oleh karena itu semua pihak harus bersinergi untuk melawan hegemoni produk-produk lintas negara yang akan memonopoli perdagangan negeri. Langkah yang bisa diambil adalah memperluas jaringan kerjasama sehingga dapat saling bahu membahu dalam menghadapi persaingan ini. Selain itu, harus ada komitmen untuk mengoreksi diri dan semakin meningkatkan kualitas produk dan SDM serta mampu menerapkan e-commerce.

Sudah saatnya Indonesia berani mengambil terobosan untuk mengatasi carut-marutnya perekonomian, meskipun ada yang mengatakan bahwa keadaan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan. Namun, perlu diingat bahwa negara lain  mengalami peningkatan yang lebih cepat. Semoga adanya MEA ini dapat mendorong dan mengakselerasi perbaikan kondisi perekomian negeri ini. Dengan begitu, terwujudlah Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri adil-makmur yang diridlai Allah Swt. Semoga! Wallahu a’lamu bi al-shawaab.(**)

*Peraih Beasiswa Sekolah Politik Kebangsan di Monash Institute; Mahasiswa UIN Walisongo Semarang







Berikan Komentar

Perspektif Lainnya
Konstelasi Ekonomi Politik Beras
Konstelasi Ekonomi Politik Beras
Kamis, 27 Juli 2017 21:14 WIB
DUGAAN terjadinya penimbunan beras dan praktik monopoli dalam perdagangannya telah menyita perhatian publik
Simak nih soal Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kawasan Sejuk
Simak nih soal Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kawasan Sejuk
Senin, 24 Juli 2017 11:34 WIB
JAKARTA - Tujuan rencana pemindahan ibu kota sebenarnya sederhana, memisahkan pusat kegiatan ekonomi dengan politik pemerintahan
Pujian Adalah Vitamin untuk Otak Anak
Pujian Adalah Vitamin untuk Otak Anak
Sabtu, 22 Juli 2017 16:11 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amalia mengatakan, membangun kepedulian terhadap pengasuhan anak tidak boleh berhenti.
Remaja dan Polygot
Remaja dan Polygot
Kamis, 20 Juli 2017 18:45 WIB
DEWASA ini, penguasaan bahasa asing sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan siapapun, tak terkecuali pada kalangan remaja