Persepktif
Nyaleg, Lowongan Kerja Versi Baru
Oleh oleh : Bambang Ari Satria, S.IP (Pengamat Politik/ Aktivis Serumpun Institute)Jum'at, 19 April 2013 02:51 WIB | Dibaca 401 kali
Nyaleg, Lowongan Kerja Versi Baru
Nyaleg atau nyalon legislatif. Tema populer dibahas pekan ini mulai dari ruang resmi sampai warung kopi. Iya, bagaimana tidak, KPU sudah membuka pintu pendaftaran caleg (calon legislatif) dan berbondong – bondong untuk daftar. Ada 12 parpol kemudian ditambah 3 parpol lokal yang berhak ikut pemilu 2014 meramaikan proses demokrasi dengan mendaftar caleg. Pendaftaran dibuka tanggal 09 April 2013 kemarin kemudian ditutup tanggal 22 April 2013 nanti. Nuansa yang tidak mengherankan jika dikaitkan dengan tahun politik, ramai dan penuh perbincangan. Peserta caleg pun bermacam – macam mulai dari yang jenis kelamin laki-laki, perempuan, aktivis, tokoh segala tokoh (baca: tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat), politisi, birokrat, jurnalis bahkan sampai kelompok tua sekalipun. Proses yang sangat asik untuk diikuti walau pemilihannya 2014 nanti.

Sangat terbuka lebar. Tidak ada larangan asalkan memenuhi syarat sesuai dengan undang - undang. Suatu syarat yang mudah untuk dilengkapi berkasnya. Hampir sama dengan syarat melamar kerja. Persyaratan ini diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perakilan Rakyat Daerah. Syarat-syaratnya adalah mulai dari berumur 21 (dua puluh satu) tahun keatas, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bertempat tinggal di wilayah NKRI, cakap berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesia. Tidak rumit bukan? Titik rumitnya ketika caleg tidak terbiasa berhadapan dengan ribuan masyarakat yang datang minta bantuan dengan dalih siap memberi dukungan. Bahkan ada yang mengklaim punya massa sekian orang. Kenapa tidak ia saja yang nyaleg? Mungkin tidak pede atau hanya sebatas cari uang.

Syarat lainnya adalah berpendidikan paling rendah tamat SMA atau pendidikan lain yang setara, setia kepada pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Kemudian tidak pernah dijatuhi pidana penjara, sehat jasmani dan rohani, terdaftar sebagai pemilih, bersedia bekerja penuh waktu, mengundurkan diri sebagai kepala daerah, wakil kepala daerah, pegawai negeri sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah atau badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara, yang dinyatakan dengan surat pengunduran diri yang tidak dapat ditarik kembali. Bersedia untuk tidak berpraktik sebagai akuntan publik, advokat/pengacara, notaris, pejabat pembuat akta tanah (PPAT), atau tidak melakukan pekerjaan penyedia barang dan jasa yang berhubungan dengan keuangan negara serta pekerjaan lain yang dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan tugas, wewenang, dan hak sebagai anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Kemudian, syarat berikutnya adalah bersedia untuk tidak merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, direksi, komisaris, dewan pengawas dan karyawan pada badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah serta badan lain yang anggarannya bersumber dari keuangan negara. Menjadi anggota partai politik peserta pemilu, dicalonkan hanya di 1 (satu) lembaga perwakilan dan syarat terakhir adalah dicalonkan hanya di 1 (satu) daerah pemilihan. 

Ke 16 syarat inilah yang membuat caleg berhamburan untuk daftar tanpa memikirkan efek sampingnya. Sekali lagi, proses “jual diri” berbiaya murah bagi caleg yang tidak punya dana. Yang penting terdaftar jadi caleg sudah cukup bahagia. Inilah lowongan kerja model baru versi caleg.

Kaderisasi Gagal

Berangkat dari persyaratan yang dituangkan dalam aturan tersebut, fenomena kader partai yang tergolong agak pagi sebagai peserta caleg bermunculan ibarat jamur di musim hujan. Bermodalkan popularitas, mereka nekad daftar dan ambil formulir di sekretariat partai. Nekad karena popularitas menyamai animo artis yang nyaleg. Tapi ini berseberangan dengan fungsi kaderisasi parpol jika mereka dengan mudahnya menerima caleg secara serampangan. Nyaleg tidak sekadar popularitas tinggi, bukan saja pemenuhan syarat undang – undang. Akan tetapi perlu adanya debat gagasan, visi misi dan tentunya keterwakilan dari masyarakatlah yang diutamakan.

Penulis yang berada di dapil Mendobarat dikejutkan ketika parpol asal comot caleg. Alasannya ringan yakni untuk pemenuhan kuota. Layaknya sebuah bis yang lagi antri kemudian belum bisa berangkat tanpa penumpang penuh terisi. Begitu juga dengan pemenuhan komposisi 30% keterwakilan perempuan. Lirikannya mulai dari guru ngaji sampai perempuan yang biasa ngerumpi. Alasannya konkret karena punya massa walau hanya satu dua orang. Mendobarat yang terdiri dari 15 desa akan memperebutkan 6 kursi dari 30 ribu mata pilih. Para perebutnya adalah 12 parpol. Masing – masing parpol mendaftar caleg sesuai dengan jumlah perolehan kursi dapil, artinya ada 72 caleg yang akan berkompetisi. Jangan heran nantinya 72 caleg ini secara bergantian hadir ke desa-desa, balihonya terpampang di mana – mana dan tentu slogannya mengalahkan perusahaan ternama. Kompetisi politik yang menurut hemat penulis tak sesengit melamar PNS dengan formasi 5 yang diikuti ribuan pelamar, namun pasti ada rasa dag-dig-dug tersendiri bagi caleg sebagai peserta. Beginilah fenomena nyaleg di Mendobarat. Nyaleg sekadar untuk tampil dan dominan tidak memahami tugas dewan itu apa, kemudian maju mewakili siapa serta hadir sebagai penyambung asiprasi masyarakat yang mana. 

Penulis pun sempat ditawari salah satu parpol untuk ikut nyaleg. Namun setelah berpikir – pikir belum saatnya. Masih banyak yang pantas duduk di gedung sana. Tidak cukup  popularitas tinggi tetapi ada tanggung jawab besar yang dititipkan. Lalu, siapa yang disalahkan? Tak lain, salah lah parpol yang mengandung karena tidak menjalankan fungsi kaderisasi secara benar dan total. Nasi telah menjadi bubur, tetapi masih ada padi yang bisa dijadikan beras. Selamat nyaleg dan siap – siap untuk kedatangan proposal bantuan dari semua desa. Pesan penulis untuk caleg, jangan pasang wajah sedih, suram dan marah namun harus tetap gembira walau itu klise semata. Semoga lamaran kerja caleg diterima masyarakat Mendobarat nantinya. (**)


comments powered by Disqus


EPaper Facebook twitter RSS
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
PANGKALPINANG - Ingin membuat hari pernikahan Anda berkesan istimewa? Paket pernikahan Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dapat menjadi pilihan tepat Anda dalam merencanakan pernikahan.
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
VALENCIA - Bukan kalah atau menang yang menjadi target timnas senior Indonesia selama menjalani rangkaian tur Spanyol. Alfred Riedl selaku pelatih timnas senior hanya ingin melakukan evaluasi dalam laga uji coba di Negeri Matador tersebut.
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah - Siti Aisyah Pulungan (8) mencium ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (54) yang dirawat di RS Pirngadi pada hari pertama ia kembali bersekolah di Medan, Sumut, Jumat (21/3). Sejak setahun terakhir Aisyah tidak ke sekolah karena merawat ayahnya yang sakit di atas becak. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Mitra Radar