Persepktif
Mengenal Tan Malaka dengan Semangat Kemerdekaan 2
Oleh Jhohan Adhi FerdianSelasa, 09 Agustus 2011 05:50 WIB | Dibaca 227 kali
Mengenal Tan Malaka dengan Semangat Kemerdekaan 2
Pada Januari 1946, Tan Malaka menggalang Persatuan Perjuangan di Purwokerto, sebagai upaya untuk menyerang politik diplomasi pemerintah. Murba waktu itu belum menjadi partai, melainkan gerakan rakyat jelata (proletar). Tan menggagasnya untuk melawan kapitalisme dan penjajahan serta menggapai kesejahteraan. Nuansa ketidakpuasan menyelimuti peserta kongres tak sepakat dengan langkah diplomasi Soekarno-Hatta dan Perdana Menteri Sjahrir. Tan pun geram dengan para pemimpin yang tak bereaksi atas masuknya Sekutu ke Indonesia. 
Tan mengajukan tujuh pasal program minimum, yakni berunding untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan 100 persen, membentuk pemerintahan rakyat, membentuk tentara rakyat, melucuti tentara Jepang, mengurus tawanan bangsa Eropa, menyita perkebunan musuh, dan menyita pabrik musuh untuk dikelola sendiri. Menurut Tan, kemerdekaan 100 persen merupakan tuntutan mutlak. Panglima Besar Jenderal Soedirman yang juga hadir bahkan berpidato, 
“Lebih baik diatom (dibom atom) daripada merdeka kurang dari 100 persen.” Para peserta kongres akhirnya sepakat membentuk Persatuan Perjuangan. Setelah mengibarkan bendera oposisi tersebut, Tan akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Wirogunan, Yogyakarta, Madiun, Ponorogo, Tawangmangu, dan Magelang. 
Semangat untuk merebut kemerdekaan dengan tangan sendiri sebagaimana ia tuliskan dalam Aksi Massa dan tulisan-tulisan lainnya itulah yang juga menjadikan ia menolak perjanjian Linggadjati tahun 1947 dan Renville 1949. Kemerdekaan bagi Tan Malaka tidak sekadar merdeka dari penjajahan Belanda waktu itu, karena pemahaman yang seperti itu justru akan mempersempit dalam arti ekonomi, strategi dan politik. 
Pada 16 September 1948 Tan Malaka dibebaskan dari Tahanan oleh Perdana Menteri Hatta, disinyalir hal itu dilakukan sebagai taktik untuk mengimbangi kekuatan Muso yang baru datang dari Moskow pada Agustus 1948. Sekelompok kecil pengikut Tan Malaka yang dipimpin dr. Muwardi telah terlebih dulu mendirikan Gerakan Revolusi Rakyat untuk menandingi gerak politik Front Demokrasi Rakyat pimpinan Amir Sjarifuddin yang di kemudian hari bergabung dengan Muso. 
Tan mendirikan Partai Murba di Yogyakarta pada 7 November 1948. Namun Partai Murba terlalu kecil dengan pendukung yang dapat dikatakan kurang lincah bermanuver dalam perpolitikan Indonesia yang fluktuatif waktu itu. Tan menjadi orang yang berada di balik layar Partai Murba dan lebih memilih menggalang kekuatan tentara dan rakyat di Kediri, Jawa Timur, untuk menghadapi Agresi Belanda II.
Tidak hanya selama hidupnya Tan menjadi misteri dan dimitoskan, bahkan kematiannya pun kontroversial. Selama bertahun-tahun Tan Malaka diyakini ditembak di tepi Sungai Brantas, Kediri. Namun menurut Harry Poeze menyatakan bahwa Tan ditembak mati di Selopanggung pada 21 Februari 1949. Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalion Sikatan bagian divisi IV Jawa Timur. 
Cerita kematian Tan dimulai ketika ia bergerilya di Jawa Timur, ia mengkritik tentara Divisi Jawa Timur pimpinan Kolonel Soengkono yang dinilai pengecut dan tak peduli terhadap kepentingan rakyat. Ketika Soengkono menerima laporan bahwa Tan telah melakukan agitasi, maka ia kemudian memerintahkan Soerachmad (anak buahnya) untuk memperhatikan gerakan Tan Malaka dengan anggapan telah membahayakan perjuangan Republik Indonesia.
Ketika hampir sampai di Blimbing, Kediri, yang merupakan markas kelompok Tan, muncul serangan Belanda yang mengakibatkan kelompok Tan dan batalion berantakan. Di Selopanggung, kelompok Tan kepergok batalion pimpinan Soekotjo, di situlah Tan ditangkap dan kemudian dieksekusi.
Tan Malaka memang selalu konsisten memegang prinsip hidup yang diyakininya, termasuk dalam perjuangan kemerdekaan sebagaimana yang ia tuangkan dalam karya-karya, di antaranya adalah Aksi Massa pada 1926, maka ia tidak mengenal kompromi terhadap penjajah Belanda dan Jepang. Sampai akhir hayatnya, Tan Malaka tidak menikah. Kisah percintaannya tak pernah sukses. Mengidamkan sosok perempuan seperti Kartini, ia ditolak dua kali oleh perempuan yang sama. 
Sebagaimana yang ia katakan pada Adam Malik bahwa ia mengalami tiga kali jatuh cinta, sekali di Belanda, sekali di Filipina, dan sekali di Indonesia. Tapi semua itu hanyalah cinta yang tak sampai, “Perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan,” ujar Tan. Ia hidup berpindah-pindah dengan menyamar berganti-ganti nama, tidak hanya ketika di luar negeri tetapi juga ketika di Indonesia, hal ini karena ia berupaya menghindar dari kejaran intel dan penjajah yang merasa terancam oleh dirinya, terutama gerakan intelektual dan provokasi melalui karya-karyanya. Dalam otobiografi pendek yang ia tulis, Dari Penjara ke Penjara, terlihat juga bahwa ia betul-betul membumi dan membaur dengan rakyat, buruh, kelas pekerja, dan mereka yang selama ini diperjuangkan oleh Tan Malaka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tan Malaka adalah potret intelektual organik, intelektual yang terlibat langsung dalam perjuangannya, tidak sekadar berwacana melalui tulisan saja. Ia betul-betul menyelami kehidupan kaum proletar yang diperjuangkannya, menjadi bagian darinya dengan menjadi buruh, pekerja keras, tukang ketik, dan lainnya. Dalam perjalanan revolusionernya itu ia berada dalam kesederhanaan, tidak mabuk untuk menjadi terkenal, menjadi bintang pahlawan yang dielu-elukan kedatangannya. 
Ketika di Rawajati, Kalibata, misalnya, Tan Malaka menyewa salah satu bilik dari jejeran bilik karyawan pabrik sepatu di situ. Panjang bilik tidak lebih dari 5 meter dan lebar lebih kurang 3 meter. Dindingnya pelupuh dan atapnya sebagian genteng dan sebagian lain adalah jalinan rumbia. Ia menceritakan tetangganya seorang pemuda Cirebon yang sudah beristri wanita dari Cirebon juga. Tetangganya yang lain adalah seorang dari Jawa tengah yang juga sudah berkeluarga. Persahabatan mereka bertiga begitu kental waktu itu, selain hubungannya dengan para buruh yang lain dan orang kampung sekitar. Oleh karena itu, ia tidak begitu terlihat dalam medan perjuangan kemerdekaan, tidak banyak orang yang mengenalnya sebagai Tan Malaka karena ia menggunakan beberapa nama samaran. Bahkan oleh para pejuang kemerdekaan sendiri ia tidak dikenal kecuali melalui karya-karyanya. 

Pemikiran dan Karyanya
Tan Malaka adalah model seorang intelektual organik dalam istilahnya Gramsci, intelektual yang tidak sekadar piawai bermain teori, namun juga mampu membumi dan bergerak di akar rumput. Ia tidak sekadar menuangkan gagasannya dalam buku, pamflet, dan karya tulis lainnya sebagai media perjuangan, namun ia juga turut bergerak dan berjuang secara fisik dengan bergerilya, mengagitasi dan memimpin gerakan perlawanan melawan penjajah. Di kala pemimpin perjuangan kemerdekaan lebih mengedepankan perjuangan fisik, ia tidak lupa dengan kondisi masyarakat yang masih belum memiliki kesadaran intelektual tinggi, yang tidak sekadar membutuhkan semangat perjuangan dari orasi pemimpin perjuangan, tapi juga membutuhkan acuan perjuangan, panduan perjuangan, penyemangat perjuangan dalam bentuk tertulis yang lebih tahan lama dan dapat diwariskan dari orang ke orang lain, dari generasi ke generasi.
Ia sadar bahwa bangsa Indonesia mesti disadarkan, mesti dimajukan, mesti diberi semangat. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang ia tuju tidak sekadar kemerdekaan politik, yang sebenarnya ia maknai juga tidak sepenuhnya merdeka secara politik dari Belanda karena perjanjian Linggardjati dan Renville yang merongrong wilayah dan kedaulatan Indonesia. Ia merambah wilayah yang jarang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan, yakni pencerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan, melalui pewarisan gagasan-gagasan dan pengetahuan melalui dokumen tertulis, buku, pamflet dan lainnya. Oleh karena itu pula ia mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. 
Namun berbeda dengan Ki Hadjar yang lebih berupaya untuk menata pendidikan secara sistematis dan terlembaga, Tan Malaka lebih progresif dan revolusioner dalam perjuangannya mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu dapat dilihat dari substansi karya-karyanya, semangat dan agitasinya terlihat dari pilihan diksi dalam karya-karyanya. Jika Ki Hadjar dalam perlawanannya terhadap penjajah relatif mendasarkan pada semangat nasionalisme dan anti-imperialisme, anti-kolonialisme secara umum, maka Tan Malaka mendasarkan pada semangat perlawanan dan anti-imperialisme, anti-kolonialisme berbasis pada paradigma Marxian. Terlepas dari itu Tan Malaka sama halnya dengan Ki Hadjar bercita-cita dan mendirikan lembaga pendidikan, Tan Malaka mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang dan Ki Hadjar mendirikan Tamansiswa di Yogyakarta, Sekolah Rakyat lebih kental nuansa perlawanan dan Tamansiswa lebih kental nuansa budaya dan nasionalisme.
Aktivitas dan perkembangan pemikiran pendidikannya dimulai ketika ia menjadi guru anak-anak buruh perkebunan di Deli. Tan mengatakan bahwa anak kuli adalah anak manusia juga. Menurut Tan, tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan. Menurut Tan, kemerdekaan rakyat hanya bias diperoleh dengan pendidikan kerakyatan. Hal itu untuk menghadapi kekuasaan pemilik modal yang berdiri atas pendidikan yang berdasarkan permodalan. Ketika di Semarang dan Tan mendirikan Sekolah Rakyat, aktivitas pendidikannya semakin intensif. Dalam brosur SI dan Semarang dan Onderwijs (1921), Tan Malaka menguraikan dasar dan tujuan pendidikan kerakyatan. 
Pertama, perlunya pendidikan keterampilan dan ilmu pengetahuan seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, dan bahasa. Hal ini sebagai bekal dalam menghadapi kaum pemilik modal. Kedua, pendidikan bergaul atau berorganisasi dan berdemokrasi. Ini untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri, dan cinta kepada rakyat miskin. Dan ketiga, pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah. Tan menegaskan bahwa sekolahnya bukan mencetak juru tulis seperti sekolah pemerintah. Selain untuk mencari nafkah diri dan keluarga, sekolah tersebut juga untuk membantu rakyat dalam pergerakannya.
Dalam Madilog yang merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) ia menguraikan secara panjang lebar pandangan hidupnya. Madilog, yang sering disebut sebagai magnum opus-nya, adalah karyanya yang terilhami dari berbagai pandangan ideologis Marxian yang ia pahami, namun kemudian ia kontekstualisasikan dalam konteks Indonesia. Jika Marx mengemukakan materialisme dialektika historis, maka Tan Malaka merasa perlu menambah dan menekankan unsur logika di dalam konteks keindonesiaan.
Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa model dialektika Marxian dengan basis filosofi materialisme sebagai kebutuhan dasar manusia tidaklah cukup dalam konteks Indonesia. Tan Malaka menganggap bahwa masyarakat Indonesia yang pada waktu itu masih dalam keterbelakangan intelektual, terbelenggu mitos, klenik dan lainnya, membutuhkan basis kebutuhan dasar lain, yakni logika. Oleh karena itulah, ia merumuskan paradiagma Marxian dalam konteks keindonesiaan saat itu menjadi materialisme, dialektika, dan logika (Madilog). Dalam Aksi Massa, pada bagian “Khayalan Seorang Revolusioner” ia pun sudah mengkritik kepercayaan kepada takhyul dan mistisisme sebagai penyakit orang Indonesia tersebut sebagai penghalang menuju kemerdekaan, dan oleh karenanya mesti dikikir habis. (Bersambung...)

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara UBB & Penggiat Hukum Progresif Babel



comments powered by Disqus


EPaper Facebook twitter RSS
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
PANGKALPINANG - Untuk memudahkan nasabah yang ingin beribadah haji tahun ini, Bank Sumsel Babel siap melayani penukaran uang Riyal, baik pecahan 1, 5, 10, 20, 100, 200 maupun 500 real.
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
LIVERPOOL-Brendan Rodgers berencana mengapresiasi performa Raheem Sterling dengan kenaikan nilai kontrak di awal musim Premier League musim ini. Namun, manajer The Reds itu menyatakan harus berhati-hati membuat klausul kontrak agar pas dengan usia Sterling.
Bateng Kekurangan Buku Paket
"Jumlah buku paket untuk guru dan siswa masih kurang dari Kementerian Pendidikan Nasional dan kami diperbolehkan untuk memperbanyak,"
Mitra Radar