Home >

Belajar Mengembangkan Minat Baca Anak dari Jepang


Belajar Mengembangkan Minat Baca Anak dari Jepang

...SUATU hari, saya dan seorang kawan mengantri di sebuah stasiun di Kota Nara – Jepang. Tiba-tiba, kawan saya tersebut berseru sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah deretan panjang warga Jepang yang sedang berdiri mengantri sambil membaca buku.
Itulah sekelumit pengalaman dari seorang ibu yang pernah tinggal di Jepang yang kemudian dibagikannya lewat sebuah tulisan “Pendidikan Anak ala Jepang”.
Kita semua mengakui bahwa negara Jepang merupakan negara maju dengan budaya bekerja dan kebiasaan hidup masyarakat yang banyak dikagumi oleh masyarakat dunia. Seperti cerita di atas, masyarakat Jepang salah satunya dikenal sebagai masyarakat yang mempunyai budaya baca yang sangat tinggi. Sehingga, dimana pun berada, kita akan melihat masyarakat yang senantiasa membaca di sela-sela waktu senggang mereka.
Kondisi yang sangat kontradiktif, jika kita bercermin dengan perilaku masyarakat kita, yang cenderung menghabiskan waktu senggang dengan mengobrol. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%).
Kebiasaan membaca yang terjadi di Jepang sampai usia kakek nenek tentunya bukanlah suatu hal yang terjadi secara tiba-tiba. Pendidikan tentunya sangat memegang peranan penting dalam menanamkan budaya baca pada anak secara tepat. Sesuatu yang sesungguhnya dapat pula kita lakukan, rumah maupun sekolah. Tulisan ini akan mencoba menguraikan beberapa hal yang dapat kita ambil sebagai bahan renungan dan pelajaran dalam menerapkan pendidikan pada anak-anak kita.
Pertama, Mengintegrasikan pengembangan minat baca dalam kurikulum sekolah
pengembangan kemampuan membaca anak di Jepang sudah di mulai sejak jenjang pendidikan anak usia dini. Akan tetapi menumbuhkan minat baca anak lebih ditekankan ketimbang kemampuan membacanya. Hal ini dapat dilihat pada pendidikan yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak (TK) atau Tempat Penitipan Anak (TPA). Kita akan menemukan pengembangan kemampuan membaca anak dimulai dengan menumbuhkan kesukaan anak akan membaca.
Anak-anak TK dan TPA belum dikenalkan belajar membaca. Tetapi dengan meningkatkan kecintaan anak terhadap buku terlebih dahulu. Yaitu melalui kegiatan membacakannya, bukan mengajarinya membaca. Bisa dikatakan di TK dan TPA kegiatan utama yang dilakukan adalah membacakan buku cerita untuk anak. Kegiatan ini dilakukan setiap hari oleh guru. Umumnya 1 sampai 3 kali sehari, yaitu di pagi hari setelah anak-anak bermain bebas dan senam, serta siang hari selesai makan siang.
Khusus TPA, sebanyak 3 kali yaitu terakhir pada sore hari sebelum orang tua menjemput. Menurut mereka, mengajari anak membaca apalagi dengan cara konservatif justru akan membuat anak menilai buku sebagai obyek yang menyusahkan, tidak menarik, dan membosankan. Sehingga, pada saat dewasa mereka akan menjadikan buku sebagai “musuh”nya.
Di tingkat SD, guru sudah meminta anak untuk membaca buku sesuai dengan minat mereka dan kemudian menceritakannya kembali kepada teman-temannya melalui lisan maupun tulisan. Tugas untuk membaca buku oleh guru ini, terus berlanjut sampai jenjang SMA. Suatu tugas yang jarang sekali ditemukan di sekolah di Indoneisia.  Kondisi ini pun di perkuat dengan data dari Center for Social Marketing (CSM), tentang jumlah buku yang wajib dibaca siswa SMA.  Di Jepang siswa SMA diwajibkan untuk membaca sebanyak 22 buku.  Negara lain seperti Amerika Serikat 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, sedangkan Indonesia 0 buku.  Wajar, jika pada akhirnya negara kita sampai saat ini masih sulit bergerak menjadi sebuah negara maju.
Kedua, Mengoptimalkan keberadaan perpustakaan
Keberadaan perpustakaan menjadi prioritas utama dalam penyediaan fasilitas di lembaga pendidikan Jepang. Bahkan menjadi salah satu sarana yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah. Termasuk juga TK dan TPA.  Setiap hari, Anak-anak TK atau TPA diperbolehkan untuk membaca buku di perpustakaan.  Pada hari-hari tertentu boleh meminjam buku untuk dibawa pulang. Karena mereka belum dapat membaca, tentu mereka hanya melihat gambar-gambarnya atau meminta orang tua untuk membacakannya di rumah. Siswa yang banyak meminjam buku akan mendapatkan apresiasi dari sekolah.  
Tidak hanya penyediaan akan fasilitas perpustakaan saja, keberadaan perpustakaan pun telah dapat di optimalkan secara baik oleh sekolah. Perpustakaan sekolah di Jepang selalu ramai oleh siswa yang sedang meminjam atau membaca buku. Motivasi membaca anak digalakkan dengan salah satunya mewajibkan anak-anak meminjam buku dari perpustakaan sekolah. Jenis buku yang dipinjam bebas, sesuai dengan hobi dan minat anak-anak. Bisa buku tentang biografi tokoh dunia, buku tentang ilmu pengetahuan, tentang keunikan setiap negara di dunia hingga buku tentang resep masakan untuk koki kecil pun tersedia dan bisa dipinjam gratis oleh siswa.
Setelah itu, anak-anak memberikan resume, pendapat, dan pengalamannya mengenai buku yang mereka baca di depan teman-temannya. Buku-buku koleksi perpustakaan merupakan sumbangan dari pemerintah, masyarakat setempat dan orang tua murid. Buku-buku yang disumbangkan merupakan buku yang menarik dibaca oleh anak-anak yaitu didominasi oleh gambar ketimbang tulisan, sehingga anak-anak pun tidak enggan untuk membacanya. Buku-buku tersebut terawat dengan baik dan murid ikut menjaganya.
Baik di TK, TPA maupun SD terkadang guru mengundang pembaca buku istimewa. Baik orang tua murid yang diundang maupun dari pendongeng profesional. Biasanya, hal tersebut akan menambah antusias anak-anak mendengarkan kisah dari sebuah buku. Setelah cerita selesai dibacakan, mereka berdiskusi bersama membahas kisah tersebut.
Ketiga, Menyediakan buku pada fasilitas umum
Salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca anak menurut pemerhati pendidikan anak Septi Peni Wulandari adalah dengan memberikan kemudahan buat anak untuk mendapatkan buku. Di jepang, hal ini tidak lagi menjadi kesadaran segelintir masayarakat saja tetapi juga sudah menjadi kesadaran pada masyarakat Jepang umumnya.  Sehingga tidak hanya di sekolah /TPA, di tempat-tempat menunggu pun banyak ditemui buku-buku anak. Misalnya di ruang tunggu di klinik dokter atyau apotek. Biasanya tersedia buku-buku bacaan untuk anak-anak, sehingga saat menunggu, anak-anak bisa membaca buku-buku tersebut atau orang tua membacakannya.
Keempat, Mengembangkan wisata membaca
Jika kita bercermin dengan kebiasaan para orang tua di Indonesia, maka para orang tua di Jepang memiliki kebiasaan berlibur yang tidak lazim bagi orang tua di Indonesia.  Ketika hari libur, orang tua di Jepang gemar mengajak anak-anak mereka ke perpustakaan kota untuk meminjam buku ketimbang belanja di mal. Apalagi hanya sekedar window shoping saja. Sebuah kebiasaan yang pada akhirnya akan membentuk persepsi baru pada anak. Bahwa membaca pun menjadi salah kegiatan berwisata yang menarik.
Pada akhirnya dari Jepang, kita dapat bercermin bahwa menumbuhkan budaya baca pada anak membutuhkan dukungan yang bersifat menyeluruh dari semua komponen.  Baik pemerintah, sekolah maupun masayarakat.  Ketika terjadi sinergitas yang baik antara pemerintah, sekolah dan masyarakat, maka upaya untuk membentuk budaya baca di masyarakat kita bukanlah suatu hal yang sulit. Wallaauhu’alam bishawab.(**)





Berikan Komentar

Lainnya