Komunitas Diecast, Penggemar Replika Kendaraan
Oleh Laporan : Indopos / Radar BangkaSenin, 17 September 2012 04:30 WIB | Dibaca 653 kali
Komunitas Diecast, Penggemar Replika Kendaraan
Berburu Hingga Kota Lain, Via Internet Hingga Mancanegara

Mengoleksi mobil-mobilan diecast toys atau replika mobil dengan bahan dasar besi dan gabungan sedikit plastik, kian banyak saja penggemarnya. Dari usia kanak-kanak hingga yang sudah `gaek` pun banyak yang gemar untuk mengkoleksi mainan tersebut. Tak jarang, mereka rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah hanya untuk mainan yang terkesan hanya untuk anak kecil tersebut.

SECARA umum, bentuk diecast bermacam-macam mulai dari mobil, sepeda motor, pesawat terbang, sepeda, alat berat (kendaraan dan alat alat seputar tambang) dan yang lainnya adalah beberapa varian bentuk yang saat ini tersedia.

Salah satu komunitas besar yang menampung pecinta diecast yakni Pusat Ngumpulnya Diecaster (PND). Menurut salah satu anggotanya, Iman, PND awalnya hanya komunitas kecil diecaster asal Surabaya dan Jawa Timur. ”Awalnya namanya ngepeters, karena banyak yang tertarik jadi dirubah menjadi ngumpulnya,” ujar pria yang bekerja sebagai akunting ini.

Berdiri sekitar tahun 2010, jelas Iman, PND awalnya hanya beberapa anggota, namun dari tahun ke tahun anggotanya semakin banyak. Hingga tahun ini anggotanya sekitar seribu orang. ”PND ini sifatnya hanya sebagai wadah online pecinta diecast. Hanya ada di facebook dan tidak ada iuran,” kata pria bertubuh subur itu.
Hanya wadah online, lanjutnya, kebanyakan komunikasi pecinta diecast melalui forum grup. ”Tapi kalau di satu kota suka ketemuan juga,” katanya. Seperti saat INDOPOS lihat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin (15/9). Iman berkumpul bersama lima teman lainnya memamerkan koleksi diecast masing-masing. ”Hampir semua jenis mobil pasti ada replikanya,” tandasnya.

Bagi para kolektor diecast car, tidak jarang yang memulai hobi ini justru pada saat mereka sudah beranjak dewasa. Alasan sentimentil akan masa kecil, kegemaran pada industri otomotif, fanatisme pada suatu merek tertentu dan berbagai latar belakang. ”Saya senang koleksi karena ngingetin hobi dari kecil, senang bentuk mobil, sejarah mobil,” imbuhnya.

Saat ini banyak sekali produsen mobil mainan ini yang mengakomodasi keinginan para penggemarnya. Mulai dari Matchbox yang terkenal dengan Lesney Vintage Editionnya, Hotwheel, Corgi, Racing Champions,  Siku, ERTL, Tomica,  Maisto, Cararama, Tonka  dan yang lainnya. Beberapa bahkan bermain di lini mobil mainan papan atas seperti Minichamps yang sangat terkenal dengan detail hingga desain interiornyanya.

Juga ada pemain baru seperti Jada Toys yang memang heboh dengan edisi mobil dan motor customized mereka yang identik dengan pemakaian velg lebar, cat yang unik, detil bodi yang menarik dan bahkan sampai dengan interior yang dilengkapi dengan sederetan audio yang keren. ”Saya lebih suka koleksi mobil lama sekitar tahun 60-70an,” ungkapnya.

Variasi ukuran pun beragam. Dimulai dari skala 1: 82 , 1:64, 1:43, 1:24 , 1:18 dan bahkan ada juga beberapa skala yang sangat kecil, atau bahkan lebih besar lagi. Angka 1 di skala perbandingan adalah ukuran kendaraan yang sebenarnya, dan angka di belakangnya adalah besarnya ukuran mainan tersebut.  

Di antara tersebut, yang terbanyak tersedia dan dibeli entah sebagai hanya mainan atau koleksi adalah ukuran perbandingan 1: 64. Namun untuk koleksi, Iman lebih menyukai diecast ukuran 1 : 43 dan 1 : 64.

Para kolektor rata rata mendapatkan koleksinya dengan cara ‘hunting’. Entah itu dilakukan dengan mengunjungi toko toko mainan, di minimarket tertentu, bahkan sampai hunting via akses internet sampai ke mancanegara. ”Ada yang lokal, beli di e-bay, kalau jalan-jalan juga sekalian hunting,” katanya.

Berburu mobil yang diinginkan, rupanya harus adu cepat dengan penggemar lain. ”Misalnya ada mobil yang kita cari tapi barangnya susah, harus sabar, tetap memonitor,” kata pria yang sedang mencari tiga jenis mobil lagi yakni Volvo rally, VW pick up dan Volvo 960 itu.

Berburu mainan tersebut, Iman mengaku ada suka dan duka yang dialami. ”Sukanya kalau dapatin mobil yang kita cari, apalagi sesuai dengan budget. Kalau dukanya paling lagi incar mobil tapi sudah sold, jadi harus nunggu lagi,” ujarnya.

Jika dikatakan diecast adalah hobi yang mahal, Iman mengaku tidak semua replika berharga mahal. Harga pun bervariasi. Beberapa bisa dikategorikan dengan harga yang terjangkau, mulai dari di bawah Rp50 ribu. ”Bisa berawal dari yang murah Rp 50 ribu, begitu mulai suka diecast baru cari mobil yang mulai detail. Kalau ukuran 1 : 43 itu harganya di bawah Rp 1 juta,” jelasnya.

Harga tergantung dari jenis variannya, dan langka atau tidaknya koleksi tersebut. Koleksi yang paling disukai Imam adalah BMW ukuran 1 : 43. ”Mobil ini bisa dibuka bagasi dan kap mesinnya,” katanya.

Penggemar diecast lainnya Antoni Kondar. Dia sebenarnya sudah mulai menekuni mengumpulkan mainan diecast sejak tahun 2003 yang berawal dari kesukaannya  terhadap mainan mobil-mobilan yang tumbuh sejak kecil. Orang tuanya sering membelikan mainan mobil-mobilan sejak pria yang akrab disapa Akon masih balita sehingga ketertarikan dia mengkoleksi sebuah mobil–mobilan itu terus berlangsung sampai sekarang. ”Karena saya suka otomotif makanya cari yang kecilnya,” katanya.

Memasuki tahun 2010, Akon mengoleksi skala 1 : 43. Untuk merk skala 1: 43 yang Akon koleksi  meliputi dari Ebbro dengan alasan senang karena domain Honda lama dan baru yang ada di merk tersebut, J-Collection yang rata–rata Jap Car semua yang Akon koleksi, kemudian Norev, Vitesse, Minichamps, Autoart, Kyosho dan masih banyak lainnya. ”Saya fokus model-model mobil Jepang dan mobil yang familiar ada di Indonesia, yang ada di jalan-jalan raya,” katanya.

Untuk mendapatkannya kadang dia hunting di Bandung, di sana ada toko hobbies di Jl Dalem kaum No 39. ”Kadang saya hunting via online seller di fb dan kadang hunting di web jualan online ebay. Hunting terjauh saya baru di Singapore, di sana bisa ngedapetin model-model yang saya cari dan harganya lebih murah daripada di Indonesia. Mobilnya rata-rata harganya Rp 300-500 ribu. Yang paling mahal Toyota Land Cruiser itu sekitar Rp 800 ribu,” ucapnya.

Kini koleksi Diecast Akon dengan skala 1:43 baru mencapai 136 unit. Hal ini dikarenakan Akon kadang menjual koleksinya bila sudah bosan.

Untuk menaruh koleksinya, Akon mengaku tidak menyediakan wadah khusus. ”Nggak ada tempat khusus, hanya ditaruh di atas lemari, dan dilap dengan tisu. Pada dasarnya jangan menaruh di tempat lembab dan jangan yang langsung terkena sinar matahari secara langsung, karena beberapa bagian ada yang terbuat dari kaca/plastik sehingga dapat memuai dan merusak bagian, jangan memakai bahan–bahan kimia karena dapat merusak cat,” jelasnya.

Akon mengaku senang karena dari tahun ke tahun jumlah penggemar diecast semakin bertambah. ”Dari tahun ke tahun semakin banyak, termasuk saya yang suka ngeracunin teman-teman supaya suka diecast,” katanya.

Berbeda dengan dua temannya, Diwan lebih suka mengoleksi diecast model alat-alat berat. Kegemaran pria yang bekerja sebagai kontraktor di perumahan bagian aplikator gipsum ini baru dimulai sekitar dua tahun lalu. ”Awalnya saya hanya jual-jual saja. Lama-lama jadi suka, karena mereka itu detail, kabel-kabelnya, pintunya bisa dibuka. Mungkin karena masa kecil kurang bahagia,” ujarnya lantas tertawa.

Lebih suka dengan koleksi alat berat karena Diwan melihat kendaraan yang sesungguhnya dia lihat di jalan terlihat gagah. ”Tapi karena diracunin teman juga sih,” candanya. Untuk koleksi alat beratnya itu, dia mengaku mudah mendapatkannya dari teman-temannya, bahkan di luar negeri.

Contohnya replika mobil pengaduk semen pabrikan Holcim, dia meminta temannya yang tinggal di Jerman. ”Sebenarnya selain alat berat saya juga koleksi motor dan mobil, cuma tidak banyak,” imbuhnya.

Koleksinya saat ini berkisar 40 replika alat berat. Belum termasuk yang sering dia jual. ”Kalau diecast alat berat itu biasanya pembelinya dari Kalimantan, Sulawesi, yang banyak pertambangan,” tandasnya. Untuk harga, kata Diwan, masih relatif murah. ”Tetapi ada juga yang sampai belasan juta, tapi itu pre order,” pungkasnya. (**)


comments powered by Disqus


EPaper Facebook twitter RSS
Lia Furniture Elektronik, Bisa Cash & Kredit
Lia Furniture Elektronik, Bisa Cash & Kredit
PANGKALPINANG - Sukses mengembangkan usahanya sejak 6 tahun silam, Marliani, pemilik galeri Lia Furniture & Elektronik kini melengkapi usahanya dengan beragam produk handpohone bermerk dan berkualitas. Beragam produk handphone ini dapat Anda miliki dengan pembayaran cash dan credit sesuai kemampuan Anda. Bahkan untuk kredit juga suku bunga sangat terjangkau dan tenor minimal 10 bulan.
Romario : Penjarakan PSSI Brazil!
Romario : Penjarakan PSSI Brazil!
BRASILIA-Legenda sepakbola Brasil Romario geram dengan hasil memalukan yang dituai tim nasional Brasil dalam Piala Dunia 2014. Pria yang kini berprofesi sebagai pengacara itu meminta para petinggi federasi sepakbola Brasil (CBF) dipenjara.
Dicari 100 Ribu Peserta Pelatihan Indonesia Digital Learning
Dicari 100 Ribu Peserta Pelatihan Indonesia Digital Learning
JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk meluncurkan program “Indonesia Digital Learning”. Program ini merupakan pelatihan dengan sertifikasi internasional meningkatkan pemahaman penggunaan internet.
Mitra Radar