Features
Kompleks Prostitusi Parloha, Kenikmatan Lain di Berastagi. Ragam Sebab hingga Terjerembab
Oleh Kesuma Ramadhan / Medan / SumutSenin, 19 Maret 2012 03:33 WIB | Dibaca 4.177 kali
Kompleks Prostitusi Parloha, Kenikmatan Lain di Berastagi. Ragam Sebab hingga Terjerembab
Parloha memang tidak setenar Bandar Baru; lokalisasi yang letaknya lebih dekat ke Medan. Namun, Parloha memiliki daya tarik tersendiri. Sehingga tak jarang lokasi ini dijadikan rujukan bagi pria hidung belang dari segala lini untuk memanjakan diri lewat kegiatan prostistusi.
Berada di kawasan Desa Sempah Jaya, Dusun VI, Kecamatan Berastagi.
Kabupaten Karo, Parloha berjarak sekitar 800 meter di antara persimpangan Desa Sempah dan Desa Peceren. Agak sulit memang untuk menemukan kampung tersebut bagi yang belum pernah mendatanginya. Pasalnya, selain tempatnya agak tersembunyi, Parloha juga tertutup oleh beberapa perumahan yang berdiri megah; ada 3 komplek perumahan yang dilalui, satu di antaranya adalah Vila Mas. Selain itu, untuk menuju ke kampung tersebut, harus melawati jalan penuh tanjakan dan tikungan berliku.
Senin pagi dua pekan lalu, Sumut Pos (Grup RB), mencoba mencari tahu kehidupan di komplek tersebut. Ditemani seorang pendamping peduli HIV dari Sumatera Peduli Kesehatan (SPKS), Sumut Pos tiba di lokasi sekira 11.42 WIB. Sebuah perjalanan panjang, butuh tiga jam mengendarai sepeda motor agar sampai di lokasi itu dari Medan. Sebelum tiba di lokasi, saat di tengah perjalanan, kami menyempatkan beristirahat dan mengganjal perut di sebuah warung makan, yang berlokasi di Simpang Amoy Berastagi, sekira pukul 10.20 WIB. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian tidak diinginkan, karena harus menempuh rute yang penuh tanjakan, sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh untuk mengitarinya.
Setelah perut terganjal, perjalanan kembali dilanjutkan sekitar pukul 10.40 WIB. Satu jam berikutnya atau tepatnya pukul 11.42 WIB kami tiba di simpang komplek Parloha; tentunya setelah melewati tanjakan dan jalan berliku. Di persimpangan itu, kami menunggu seorang pendamping lainnya. Adalah Wenny, pegiat LSM Persada yang saat itu menggunakan bus angkutan umum. Setelah Wenny muncul, kami pun langsung memasuki lokalisasi itu. Sumut Pos harus bolak-balik menjemput pedamping tersebut, maklum sepeda motor hanya satu. Butuh 10 menit dari persimpangan itu agar bisa menjumpai komplek yang dimaksud. Suasana dingin pun menyergap, bukan karena takut tidak disambut baik, tapi karena udara pegunungan memang lagi sejuk-sejuknya.
Setibanya di lokasi, kehadiran kami disambut senyuman oleh sejumlah wanita yang ada di sana. Sedikitnya, ada sebelas wanita berusia 18 hingga 40 tahun, terlihat antusias menanti kehadiran pendamping sesuai jadwal yang dijanjikan. Belasan wanita itu, tengah duduk dan berkumpul di depan sebuah warung yang didesain layaknya cafe, sembari menikmati rokok dengan penuh kepulan asap dari mulutnya.
Hari itu, memang ada sosialisasi kegunaan kondom yang dilakukan dua pedamping tersebut. Ya, belasan wanita itu adalah sebahagian dari puluhan wanita pekerja seks (WPS)  yang tinggal dan mengais rezeki di Komplek Parloha. Ragam bentuk dan cerita didapat dari kegiatan sosialisasi kegunaan kondom yang disampaikan Dewi Sundari selaku direktur program SPKS. Satu cerita pembuka, yakni ketika mengisi daftar hadir.
Sebagian WPS mengaku, sama sekali tak bisa membaca dan menulis. Salah satunya yakni diakui WPS bernama D (25) yang akrab disapa Hidung. Disebut Hidung karena bahagian indera pencium wanita ini tidak lagi sempurna akibat penyakit. Secara medis penyakit itu diketahui sebagai gangguan kulit yakni penyakit sifilis. D kurang setuju kalau dia kena sifilis, dia beranggapan itu karena ulah pelanggannya alias diguna-guna. “Mungkin karena kurang mantap dia dilayani, makanya hidung aku dibuatnya jadi separuh kayak gini,” ujar D.
Soal sosialisasi penggunaan kondom memang sedikit merepotkan di tempat seperti tersebut. Buktinya, dua pedamping memang harus memiliki kesabaran yang tinggi. Termasuk ketika mengenalkan kondom khusus untuk wanita. “Ribet menggunakan kondom, cuma cerita aja tu pakai kondom. Apalagi banyak tamu yang tidak mau menggunakan kondom karena kurang nikmat,” ujar WPS lainnya yang ternyata berinisial D juga.
Begitu juga ketika diterangkan kalau kondom perempuan yang berbahan spon bisa menyimpan sperma laki-laki. Selain bisa meresap sperma lelaki, kondom wanita ini bisa digunakan untuk tiga kali pemakaian. “Short time sekali aja paling dah selesai, ribet ah. Mending pakai kondom laki-laki aja lebih simple lagian risih kalau tidak langsung dicuci sehabis berhubungan,” ujar wanita pemilik rambut menjulur itu.
Dari sosialisasi tiu diketahui, WPS di Parloha bisa melayani satu hingga tiga tamu per harinya. Hanya saja beberapa bulan belakangan, para WPS mengaku mengalami penurunan dari segi jumlah tamu. Seorang wanita lainnya, yang disapa MT, mengaku penurunan tamu berdampak atas penurunan omset. Wanita berusia 40 tahunan ini mengaku sudah berada di kampung Parloha sejak 1994 lalu. Saat itu, usianya berkisar 23 tahun. Namun, dia mengaku tidak menetap selama 17 tahun di lokasi tersebut, tapi sering berpindah-pindah ke lokalisasi lainnya. Baru empat tahun belakangan, MT tak lagi berpikir pindah dengan kondisi usia yang terus bertambah.
Untuk sistem setoran, Mak Tesa menyebutkan, para WSP akan dikenakan Rp25 ribu untuk biaya kamar setiap sekali show (short time). “Dulunya kita membayar 5 ribu untuk kamarnya. Sekarang sudah 25 ribu. Itu ibarat setoran sama bapak (sebutan penanggung jawab lokasi prostitusi, Red),”akunya.
Tanpa ada keterikatan dan paksaan, para WPS akan disediakan kamar gratis untuk menarik minat para tamu. Sedikitnya terdapat 20 rumah berdiameter 10×20 meter,  mengitari Komplek Parloha, dengan masing-masing rumah memiliki empat kamar. Dengan kata lain, tersedia 80 kamar. Selain untuk tempat tinggal para WPS, kamar itu juga digunakan sebagai ruang ‘praktik’.
Tarif rata-rata untuk short time, para WPS mematoknya dengan harga Rp70 ribu. Jadi, setiap WPS akan mendapatkan hasil bersih sebesar Rp45 ribu, di luar dari tip yang diberikan tamu dan dipotong biaya sewa kamar. Sementara bea yang harus dikeluarkan untuk long time atau menginap, para tamu harus memberikan dua kali lipat dan berlaku sama untuk biaya sewa kamarnya.
Sedangkan untuk keamanan para WPS, ditanggung sepenuhnya oleh penanggung jawab itu sendiri. Salah satu contoh bilang MT, yakni mengawasi dan menindak sikap tamu yang berlaku tidak sopan. Seperti kisahnya, MT pernah melayani tamu. Namun tanpa disangka, tamu yang dilayaninya memasukkan selotip ke dalam kemaluannya.Penangung jawab yang mendapatkan laporan, langsung memukuli tamu tersebut dan meminta ganti rugi karena telah merugikan pekerjanya. “Awalnya aku dibayar Rp100 ribu Bang. Tapi karena dia buat jahat masukan selotip ke dalam kemaluanku, aku jadi minta ganti rugi Rp200 ribu,” kenangnya.“Aku dijebak kawan. Katanya aku akan kerja di rumah makan dan bergaji besar,” pengakuan klasik keluar dari seorang Wanita Pekerja Seks (WPS) berinisial S.
Pengakuan wanita berusia 27 yang berasal dari Bukit Lawang Langkat itu memang sudah basi. Tapi, bagaimana dia bercerita seakan membuat suhu dingin alam pegunungan di Berastagi menghangat. Ya, S mampu mengulang kisah pahitnya dengan penuh kegairahan. Apalagi ketika dia sudah terjebak di komplek itu, dia hanya bisa pasrah. Janda yang memiliki anak berusia tiga tahun itu seakan tak mampu melawan himpitan ekonomi yang menerpanya. Dan, soal himpitan ekonomi inilah yang menjadikan S menarik perhatian. Bagaimana tidak, dia rajin menabung. Hasil tabunganya itu dia berikan pada kakak kandungnya yang mengasuh sang buah hati. “Sebulan sekali aku pulang ke rumah untuk ngantarkan uang buat biaya anakku. Meskipun aku bisa mengumpulkan Rp3 Juta setiap bulan, biasanya aku selalu memberikan mereka Rp700 ribu hingga Rp 1 juta saja agar tidak dicurigai,” ucap S yang mengaku sudah setahun menetap di Parloha.
Bagi S dan sejumlah WPS lainnya, prinsip komersialisasi yang mereka tanamkan tak lain untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka dan keluarganya. Sehingga bagi mereka, uang adalah segalanya. Sedangkan dosa dan cinta, menjadi urutan kesekian dalam prioritas kehidupan. Sehingga tak salah jika mereka  menanamkan moto ‘ada uang abang sayang tak ada uang abang melayang’. Lain halnya dengan kisah M (27). Wanita berbodi agak kurus dan berambut pendek ini terjerembab karena perlakuan seksualitas kasar yang dialaminya ketika masih berusia 12 tahun. Saat masih duduk di kelas V Sekolah Dasar (SD), M menjadi korban pemerkosaan oleh ketujuh kakak kelas di sekolahnya. Akibat kejadian itu, wanita kelahiran Purwokerto tersebut, mengalami trauma yang sangat mendalam. Ditambah lagi, dirinya harus menyimpan aib karena hamil.
“Tapi aku keguguran Bang di usia kehamilan tujuh bulan. Aku malu untuk sekolah lagi,” ungkapnya. Setahun berikutnya atau pada 1994, M ditawari seorang teman bekerja di Medan dengan iming-iming gaji yang sangat besar. Tanpa pikir panjang dan pertimbangan matang, M mau saja. M pun terdampar di lokalisasi di kawasan Bandar Baru. Dia sempat berusaha kabur, namun ia tak mampu meloloskan diri dari kawalan sejumlah pria berbadan besar.  M pun hanya bisa pasrah dengan nasib. Beruntung, setelah tiga tahun berlalu, M akhirnya diselamatkan oleh seorang tamu untuk lari meninggalkan lokasi yang hampir mirip dengan sebuah penjara tersebut.
“Kita dipaksa melayani para tamu dan hanya diberikan sebahagian dari penghasilan kita Bang. Lagian kita juga gak boleh keluar dari lokasi tempat tinggal kita bang,” terangnya soal lokalisasi Bandar Baru. Sayang, dia tidak memiliki uang untuk bisa kembali ke Purwokerto. Akhirnya M memutuskan untuk bergabung di Komplek Parloha. “Di sini enak, selain bebas untuk berbuat, kami juga diperbolehkan untuk meninggalkan lokalisasi kapan saja ingin,” aku M.
Bahkan selama 12 tahun di komplek Parloha, M pernah kembali ke kampung halamannya untuk melepas rindu dengan kedua orangtuanya. “Sempat pulang kampung Bang, sebenarnya berniat untuk tidak lagi bekerja seperti ini (pekerja seks, Red). Tapi karena tidak memiliki pendidikan yang layak dan susah mencari kerja, akhirnya aku memutuskan untuk kembali lagi ke Komplek Parloha,” ucapnya.
Sekelumit kisah dan alasan ekonomi ini,  menjadi alasan kuat bagi para WPS untuk mempertahankan status pekerjaannya. Ya, sebuah perkerjaan yang bagi sebahagian orang dianggap tabu dan sebagai sampah di sebuah lingkungan masyarakat. Namun cibiran dan anggapan miring masyarakat atas pekerjaan mereka, hanya dianggap sebagai senandung rindu yang membisik di telinga.(**)


comments powered by Disqus


EPaper Facebook twitter RSS
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
Bank Sumsel Babel Layani Penukaran Uang Riyal
PANGKALPINANG - Untuk memudahkan nasabah yang ingin beribadah haji tahun ini, Bank Sumsel Babel siap melayani penukaran uang Riyal, baik pecahan 1, 5, 10, 20, 100, 200 maupun 500 real.
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
Sterling Bakal Dapat Kontrak Baru
LIVERPOOL-Brendan Rodgers berencana mengapresiasi performa Raheem Sterling dengan kenaikan nilai kontrak di awal musim Premier League musim ini. Namun, manajer The Reds itu menyatakan harus berhati-hati membuat klausul kontrak agar pas dengan usia Sterling.
Bateng Kekurangan Buku Paket
"Jumlah buku paket untuk guru dan siswa masih kurang dari Kementerian Pendidikan Nasional dan kami diperbolehkan untuk memperbanyak,"
Mitra Radar