Fan Ngin, To Ngin Jit Jong dalam Seloyang Martabak dan Semangkuk Lempah Kuning


Fan Ngin, To Ngin Jit Jong dalam Seloyang Martabak dan Semangkuk Lempah Kuning

Fan Ngin, To Ngin Jit Jong yang berarti pribumi, melayu dan Tionghoa semua sama memang benar-benar tercermin di Bangka Belitung. Salah satu buktinya ialah dalam urusan kuliner seperti Hok Lo Pan dan Lempah Kuning. 

Laporan : Hairul - Radar Bangka

Dengan cekatan, tangan Akuan mulai mengaduk adonan Hok Lo Pan (martabak) yang mulai mengental di dalam gayung. Beberapa kali adukan, adonan lantas dituangkannya ke dua buah loyang besi yang sebelumnya terlebih dahulu telah diolesi mentega. Sebelum loyang ditutup, Akuan sempat meratakan adonan dengan sendok dan memutarnya searah jarum jam. "Agar semakin merata dan tingkat ketebalannya juga pas," kata Akuan, pemilik Hok Lo Pan manis di kawasan Sri Pemandang, Sungailiat mengawali pembicaraan.

Dengan mengandalkan sebuah gerobak sederhana untuk berjualan, Akuan bercerita, apa yang dilakukannya ini bisa disebut sebagai bisnis keluarga yang sudah turun temurun. Sebab, sang kakek juga sudah sejak dulu berjualan Hok Lo Pan. Namun, ia mengaku tidak begitu paham mengapa sang kakek memilih berjualan Hok Lo Pan daripada kuliner lainnya. "Kalau itu tidak tau, tapi yang jelas ini adalah bisnis turun temurun," bebernya. 

Ia sendiri mengaku baru memulai menjual Hok Lo Pan sejak tahun 1995. Sebelumnya, ia hanya membantu sang kakak. Namun, perlahan tapi pasti ilmu berbisnis yang didapat dari kakaknya itu secara tak langsung ia terapkan. Kenekatanpun ia lakukan. Meski sebelumnya sempat ditentang lantaran dianggap belum begitu mahir dalam membuat Hok Lo Pan, Akuan akhirnya tetap memilih berjualan sendiri.

Untuk modal, pria dengan 1 orang anak ini mengaku nekat menjual sebuah sepeda ontel kesayangannya. "Modal nekat namanya," ujarnya sembari terkekeh.

Sembari berbincang santai, Akuan sempat beberapa kali memutar loyang dan melihat kondisi api yang digunakannya untuk memanggang Hok Lo Pan. Ya, mengecek api untuk memanggang Hok Lo Pan memang harus ekstra dilakukan. Memang menurut Akuan, untuk membuat sebuah Hok Lo Pan dengan tekstur dan tingkat kematangan yang pas, dibutuhkan tingkat panas yang bagus pula. "Tidak besar, tidak juga kecil. Sedang. Pas pokoknya," kata dia. 

Jika api besar dan tingkat panasnya tidak merata, ia mengaku martabak akan gosong sebelum matang sempurna. Sebaliknya, jika api terlalu kecil, kematangan martabak juga tidak bagus. "Nanti kulitnya tidak kuning merata dan bisa saja gosong. Maka diperlukan loyang yang tebal untuk membuat martabak," jelasnya memberi tips. 

Disela-sela pembicaraan pula, Akuan tampak menaburkan gula pasir keatas martabak yang masih dipanggangnya. Ini semata-mata dilakukan untuk menambah rasa manis. "Bagaimana pas dari manis itu, saya tidak bisa menjelaskan. Hanya saja mungkin karena pengalaman, jadi saya tau takaran dari gula yang harus ditaburkan," jelasnya seraya menyebutkan, rasa manis nanti juga dihasilkan oleh susu yang dituang saat martabak selesai.

Gula, dalam membuat Hok Lo Pan kata dia memang menjadi salah satu bahan andalan. Ketika membuat adonan, selain telur, tepung dan lainnya, gula juga ikut dicampurkan dan diaduk rata. Namun sayangnya, Akuan enggan membeberkan lebih lanjut soal resep membuat martabak, alasannya karena resep sudah turun temurun. "Resep keluarga," ucapnya tanpa merinci lebih jelas jawaban dari penasaran penulis. 

Sejak awal memulai bisnis Hok Lo Pan, Akuan menceritakan, sampai saat ini terus berusaha mempertahankan pelanggan yang ada. Kuncinya hanya satu, yakni soal cita rasa yang sama dari dulu. Ia menceritakan, meskipun sekarang sudah menjamur penjual Hok Lo Pan, namun ia tidak merasa tersaingi.

"Dulu awal-awal berjualan tidak banyak seperti sekarang. Kalau sekarang lebih mudah mencari penjual martabak. Hampir setiap perempatan jalan ada," jelasnya. 

Selain itu, kreativitas dalam menyajikan toping Hok Lo Pan juga ia lakukan guna mengikuti trend yang ada. Ia menjelaskan, jika dulu toping Hok Lo Pan  hanyalah kacang atau pun wijen. Tapi sekarang kata dia, variasi toping sangat banyak sekali. "Ada coklat, keju, oreo bahkan martabak ijo pandan," ujarnya berpromosi. 

Ditanya soal suka dan duka saat berjualan Hok Lo Pan? Akuan mengaku hanya sering merasa letih, terutama harus jika berdiri dengan waktu lama. "Pegel kaki. Bawaan umur," katanya tersenyum. 

Namun kata dia, berjualan Hok Lo Pan bukanlah sekedar urusan bisnis semata, tapi lebih dari itu. Yakni, salah satunya dengan ikut mempertahankan  keharmonisan antara pribumi, melayu dan etnis Tionghoa. Menurut Akuan, dengan dirinya berjualan Hok Lo Pan, maka akan terjalin komunikasi dengan etnis apapun. Tidak hanya melayu melainkan juga Jawa, Batak dan lainnya. "Kan di Bangka ini banyak pendatang. Banyak suku. Sambil menunggu martabak matang, mereka berbincang. Baik dengan sesama pembeli atau dengan penjual. Maka akan timbul komunikasi. Saya juga dalam berjualan tidak memilih pembeli. Begitu juga pembeli, saat mengetahui jika penjualnya adalah orang Tionghoa, maka mereka enjoy. Kita pastikan, apa yang kita jual juga halal," bebernya. 

Bagi siapa saja yang ingin berbisnis Hok Lo Pan atau apapun, Akuan mengaku kunci utama adalah dari hati. Menurut dia, sekalipun resep keluarga ini ia sampaikan kepada masyarakat luas, belum tentu ada yang bisa membuat martabak seperti yang ia buat. "Ini soal rasa, rasa dan rasa. Sekalipun resepnya adalah sama," tutupnya. 

Selain Hok Lo Pan, kuliner lainnya yang juga menunjukkan keharmonisan antara Melayu dan Tionghoa ialah Lempah Kuning. Masakan dengan kuah yang kaya akan rempah-rempah ini begitu terasa di lidah. Apalagi ditambah dengan ikan segar plus irisan nanas yang memang mudah didapatkan di Babel. 

Salah satu chef terkenal Eddria Tjhia yang juga juri pada Bangka Belitung Food Festival (BBFF) 2017 menuturkan, Lempah Kuning atau dengan sebutan Gangan bagi orang Belitung, adalah masakan peranakan. Dalam artian perkawinan antara masakan Tionghoa dan Melayu. "Masakan Bangka itu adalah termasuk masakan peranakan, dalam artian perkawinan antara masakan Tionghoa dan Melayu. Untuk cita rasa, makanan khas Bangka memiliki rasa asam, manis dan segar," beber Eddrian dalam satu kesempatan. 

Sehingga wajar saja, kuliner ini memikat lidah pebulutangis dunia Mohammad Ahsan saat berlaga di Kejurnas PBSI, di Pangkalpinang baru-baru ini. Menurut juara dunia tahun 2013 dan 2015 ini, rasa Lempah Kuning sangatlah enak. "Sangat enak. Kita sudah mencoba," ujarnya. 

Nah, Hok Lo Pan dan Lempah Kuning adalah contoh sederhana refresentasi keharmonisan dari masyarakat Babel. Meminjam pesan pemerhati sosial Ahmadi Sofyan dalam Filosofi Nganggung, menurut dia kita punya kewajiban bersama untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung. Ini dibutuhkan peran orang tua sebagai pengarah dan generasi zaman now sebagai pewaris dan pelaku yang tak boleh kehilangan gairah. Bahasa mudahnya adalah generasi tua sebagai pengarah, generasi muda harus bergairah dan diberikan wadah.

Semoga warisan nenek moyang dalam sebuah loyang Hok Lo Pan dan semangkuk Lempah Kuning, bisa kita jaga. Fan Ngin, to Ngin Jit Jong.Semoga.(**)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Kisah Agus, Sopir Truk yang Akhirnya Bertemu Presiden Jokowi
Rabu, 09 Mei 2018 08:02 WIB
Agus Yuda, seorang sopir truk, bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5), setelah menempuh 729 kilometer selama 23
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Gaji Rp 450 Ribu, Guru Honorer Semangat Kuliah S1
Senin, 07 Mei 2018 21:25 WIB
TANGSEL - Susandi, guru honorer SD Negeri Gunung Sari di Kabupaten Sukabumi, Jabar, tetap semangat menuntut ilmu dengan berkuliah lagi.
Suasana Haru Warnai Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat
Suasana Haru Warnai Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat
Minggu, 29 April 2018 21:59 WIB
Rapat Paripurna Istimewa HUT Kota Sungailiat, ke 252 berlangsung di gedung DPRD Bangka, secara tidak langsung memberikan pembelajaran bagi generasi
KEK Sungailiat Ditetapkan Tahun 2018
KEK Sungailiat Ditetapkan Tahun 2018
Jum'at, 20 April 2018 10:28 WIB
MENTERI PARIWISATA ARIEF YAHYA menandaskan sesudah mengunjungi KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Sungailiat Bangka, Jumat (13/4-2018) dalam jumpa pers di