Cerita Mantan Kopassus, Rahang Pernah Tertembus Peluru


Cerita Mantan Kopassus, Rahang Pernah Tertembus Peluru

Hanya prajurit TNI yang punya kemampuan lebih bisa bergabung dalam Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kolonel Inf Hendri Wijaya salah satunya.

----

KOMANDAN Kodim (Dandim) 0905/Balikpapan tersebut bercerita, instrumen apapun menjadi sangat penting bagi pasukan Kopassus saat bertugas.

Benda-benda yang bergerak dicermati, bahkan daun yang jatuh dari pohon. Semua mesti terpantau.

Kopassus memang jarang tampil dalam pemberitaan. Gerak-geriknya tertutup. Seperti pergerakan mereka di setiap misi yang mereka jalankan. Sunyi dan senyap.

Kerap ditugaskan di daerah rawan konflik, sejak 1995 hingga 2009, Hendri telah menjalani tugas-tugas menantang.

Dia bergabung dengan anggota Kopassus Grup 1 di Serang, Banten dan Grup 2 di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Tercatat dia pernah masuk Satuan Tugas (Satgas) Timor-Timur pada 1995-1996 dan dia kembali dipercaya bergabung pada operasi yang sama hingga September 1997.

Hendri juga ikut serta dalam Operasi Terpadu Aceh 2003-2004. Di mana saat itu dia mendapat mandat sebagai Komandan Kompi Para Komando (Parako) Kopassus.

“Saya membawa satu kompi ketika di Aceh. Berada di dalam hutan, selain kompas kami juga mengandalkan matahari. Seringnya kami kehabisan bahan logistik di tengah perjalanan, sehingga terpaksa mengonsumsi logistik wilayah,” ucapnya.

Maksudnya, sumber daya alam di sekeliling mereka tinggal. Ular dan biawak bakar merupakan hidangan istimewa. Dagingnya tentu saja berbeda dari daging ayam.

“Tekstur daging ular kan sedikit kenyal ya dari ayam,” celetuknya lalu tertawa kecil. Selama 14 tahun, menu itu sudah biasa baginya.

Sekalipun bukan menu favorit, ketika bekal logistik menipis, mau tak mau harus bertahan hidup dengan itu semua.

Jika pun tidak, mereka kerap mengonsumsi umbi ataupun buah-buahan yang tumbuh di hutan.

“Apalagi perjalanan atau tugas di dalam operasi terkadang tak menentu. Bisa memakan waktu belasan hari,” tambahnya.

Berada di daerah yang dikelilingi hutan belantara pun sudah menjadi hal biasa. Menggunakan taktik perang hutan dan antigerilya.

Di saat siang mereka akan beristirahat dan saat malam mereka melakukan pergerakan. Itu untuk meminimalisasi penggunaan senjata, sehingga keberadaan anggota Kopassus tidak diketahui musuh.

Di tengah lebatnya hutan, bak film-film action, ketika bertemu musuh gencatan senjata tak bisa dihindarkan. Baku tembak hingga pertumpahan darah terjadi.

Peristiwa itu meninggalkan kisah sendiri. Telak di depan mata dia menyaksikan peluru yang menembus tubuh rekannya.

Desingan suara senjata yang beradu itu dibanjiri darah. Pemandangan mengerikan tersebut masih terekam jelas di memorinya.

Bahkan, Hendri mengakui sempat terkena timah panas di rahang kanannya. Bersyukur peluru bisa dikeluarkan, dan bekas luka tersebut perlahan memudar.

“Kehilangan rekan satu letting saya di medan perang merupakan pengalaman tidak menyenangkan. Tangis, sedih dan amarah semua bercampur aduk. Kondisi di medan perang itu nyata, nyawa yang jadi taruhannya,” tutur lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1991.

Dandim kelahiran Lubuklinggau, 29 Juni 1970 ini juga pernah menjabat sebagai Komandan Kodim 1605/Atambua, Nusa Tenggara Timur (2013).

Permasalahan yang dihadapi di daerah tersebut sangat kompleks. Mulai dari perebutan lahan tinggal, pengungsian, maupun konflik SARA. Suasana mencekam, ditambah kepemilikan senjata ilegal sering didapati.

Itu membuatnya teringat akan peristiwa, Jumat (17/11) lalu. Ketika Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) berhasil membebaskan 1.300 warga dean Desa Kimberly dan Banti, Mimika, Papua, dari tangan kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Operasi itu akhirnya diberi judul Operasi Raid dan Perebutan Cepat Area Kimberly Papua.

Dari informasi yang dia dengar, pembebasan November kemarin hanya memakan waktu 78 menit. Itu merupakan kebanggaan, apalagi tidak ada korban tewas.

“Jika dilihat medan perbatasan, Papua memang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan perbatasan di Timor Leste. Gejolak kelompok-kelompok di sana pun sebenarnya belum selesai,” ucapnya. (*/lil/rsh/k18)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Mengikuti Sulitnya Upaya Penyelamatan Buaya Berkalung Ban di Palu, Sudah Pakai 2 Pukat, Tetap Tak Tertangkap
Mengikuti Sulitnya Upaya Penyelamatan Buaya Berkalung Ban di Palu, Sudah Pakai 2 Pukat, Tetap Tak Tertangkap
Selasa, 30 Januari 2018 15:26 WIB
Penyelamatan buaya berkalung ban di Palu, Sulawesi Tengah, ternyata bukan upaya mudah. Banyak hal yang membuat tim penyelamat sulit mengevakuasi
Heru PW, Radiografer Pehobi Aquascape
Heru PW, Radiografer Pehobi Aquascape
Jum'at, 26 Januari 2018 13:53 WIB
Kesibukan Heru Purnama Wijaya sebagai radiografer di RSUD Nganjuk tak membuat kreativitasnya mati. Belajar otodidak, pehobi aquascape ini mampu memasarkan
Didi Iskandar, Ojek Online Penggugat Pergub Larangan Motor di Thamrin, Ide Menggugat Muncul di Warung Kopi
Didi Iskandar, Ojek Online Penggugat Pergub Larangan Motor di Thamrin, Ide Menggugat Muncul di Warung Kopi
Selasa, 23 Januari 2018 11:41 WIB
Sepeda motor sudah hampir tiga minggu diperbolehkan kembali melintas di Jalan M.H. Thamrin dan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Di
Kesaksian Para Korban Runtuhnya Balkon Bursa Efek Indonesia (2-Habis)
Kesaksian Para Korban Runtuhnya Balkon Bursa Efek Indonesia (2-Habis)
Kamis, 18 Januari 2018 15:23 WIB
Bahkan korban yang lukanya tidak parah pun masih mengalami trauma berat. Universitas Bina Darma sudah menyiapkan konseling