Indira, Mahasiswa Unej Penderita GBS, Butuh 9 Botol Infus Setiap Hari


Indira, Mahasiswa Unej Penderita GBS, Butuh 9 Botol Infus Setiap Hari

Tak banyak orang tahu tentang penyakit GBS. Memang, penyakit ini sangat kecil untuk mematikan pasiennya. Namun jika kelewat dan pasien tak terobati, maka kelumpuhan permanen tak bisa dihindari. 

Laporan : JPNN

Indira Agasta Permatasari masih terbaring di ruang ICU RSD Soebandi Jember, kemarin. Mahasiswi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Jember (Unej) itu tak berdaya di atas ranjang perawatan rumah sakit. Dia terlihat begitu lemas. Tangannya tertancap jarum infus. Hidungnya diberi selang bantuan pernapasan. Sedangkan di samping ranjangnya, ada alat pendeteksi detak jantung.

Kedua tangan dan kakinya, tidak bisa digerakkan. Seperti orang yang sedang lumpuh. Bicara pun tak bisa. Kondisi kesehatannya itu pun, mengundang panik kedua orang tua dan adiknya. Mereka bertahan menunggu kesembuhan Indira, dari luar ruang ICU.

Mahasiswi yang kini sudah duduk di bangku semester 7 itu, harus melawan penyakit yang jarang diderita orang lain. Sebab jika tak kuat, nyawanya bisa saja tak selamat. Bahkan rawan mengalami kelumpuhan permanen. Para tenaga medis menyebut penyakitnya: Guillain Barre Syndrome (GBS), suatu penyakit karena kekebalan tubuh pasien yang menyerang saraf. Dokter juga menyebutnya Autoimun. Penyakit ini serius dan membutuhkan biaya banyak.

Biaya besar, saat proses terapi berlangsung. Terapi dilakukan dengan memasukkan cairan infus khusus. Setiap harinya, Indira, membutuhkan 9 botol cairan seharga Rp 2,5 juta setiap botolnya. Sedangkan dia, butuh asupan cairan infus itu selama lima hari. Sehingga, untuk menebus cairan itu pun keluarga Indira, harus menyediakan uang sebanyak Rp 112,5 juta. “Memang biaya terapinya mahal,” tutur dr Komang Yunita SpS, dokter spesialis syaraf di RSD dr Soebandi Jember, kemarin.

Dana perawatan yang tembus hingga ratusan juta rupiah, membuat orang tuanya angkat tangan. Mereka pasrah, sembari berharap ada uluran tangan dari masyarakat Jember. "Kami tidak punya uang sebanyak itu," tutur M. Taufikul Hadi, ayah Indira.

Bapak dua orang anak itu, berulang kali mengaku tak sanggup membiayai anaknya dengan uang ratusan juta rupiah. Taufikul juga tidak mau melihat anak kebanggaannya lumpuh. Semisal ada yang mau membeli ginjalnya, dia pun rela menjual untuk biaya pengobatan anaknya. “Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” kata pria yang tinggal di Jalan Kaliurang, Sumbersari, Jember.

Drajad Surya Maula (teman kuliah Indira), tegas melarang ayah temannya yang berniat menjual ginjalnya. Biaya pengobatan memang besar, namun teman kuliahnya di Unej tidak mau diam.

Mereka terus bergerak menggalang donasi bertajuk: “Ayo Urunan Bantu Indira Sembuh dari Penyakit GBS”. Penggalangan donasi dilakukan secara tradisional. Membagi info berantai di media sosial. Kemudian, mengajak teman, sahabat, saudara, bahkan orang yang baru dikenal sekali pun, untuk bergerak saling membantu biaya pengobatan.

Selain itu, gerakan solidaritas mahasiswa juga dilakukan dengan memanfaatkan website khusus donasi. Website yang digunakan sudah menyebar secara nasional. Bahkan, cara berdonasi juga cukup dilakukan dengan online. “Sejak hari Kamis (16/11) pekan kemarin, sudah terkumpul dana Rp 20 juta,” ungkap mahasiswa asal Banyuwangi tersebut.

Kebutuhan biaya berobat dengan hasil donasi memang belum sebanding. Masih kurang sekitar Rp 95 juta. Namun mereka tidak patah semangat. Terus bergerak menggalang dana untuk Indira. “Kami ingin Indira sembuh. Dia sahabat terbaik kami,” tuturnya.
Drajad bersama rekan-rekannya sekampus, tak akan pernah meninggalkan Indira terbaring dalam sakit. Mereka, mengatur shift jaga sekaligus berbagi peran, mengawal penggalangan donasi. Sampai nanti, Indira kembali sembuh dan mereka bisa ke kampus bersama. (jr/rul/was/das/JPR)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Anak Kuli Batu Bisa Terbangkan Pesawat
Anak Kuli Batu Bisa Terbangkan Pesawat
Selasa, 12 Desember 2017 05:49 WIB
Kesuksesan itu milik siapa saja. Tidak peduli kaya atau miskin. Berkat beasiswa pendidikan dari Pemkot Surabaya, pemuda dari keluarga tak
Terbaik di Asia, Bonek yang Satu Ini Siap Bersaing di Level Dunia
Terbaik di Asia, Bonek yang Satu Ini Siap Bersaing di Level Dunia
Kamis, 07 Desember 2017 05:49 WIB
Dalam ajang balap mobil paling bergengsi Formula 1, Indonesia pernah punya wakil, Rio Haryanto. Sebagai negeri ’’motor’’, seharusnya juga ada
Cerita Mantan Kopassus, Rahang Pernah Tertembus Peluru
Cerita Mantan Kopassus, Rahang Pernah Tertembus Peluru
Kamis, 07 Desember 2017 04:43 WIB
Hanya prajurit TNI yang punya kemampuan lebih bisa bergabung dalam Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kolonel Inf Hendri Wijaya salah satunya.
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Empat Generasi Mengawal Kelezatan Soto Situbondo, Pertahankan Tradisi Sejak Nenek Moyang
Selasa, 21 November 2017 00:30 WIB
Jangan pernah meremehkan soto. Sajian berkuah yang menyebar dari Sabang sampai Merauke ini menjadi salah satu suguhan identitas asli Indonesia.