Tamatan SMP Buka Usaha Modal Rp 400 Ribu, Kini Omzetnya Wouw!


Tamatan SMP Buka Usaha Modal Rp 400 Ribu, Kini Omzetnya Wouw!

Sandirin, 61, kini tinggal menikmati hasil jerih payah di bidang pembuatan mebel atua furnitur. UKM yang mendapat predikat terbaik se-Kota Tangerang itu dia dirikan hanya dengan modal Rp 400 ribu puluhan tahun silam. Seperti apa?

TUMPAK M TAMPUBOLON, Kota Tangerang

Kamis iang (3/8) suara bising alat pemotong kayu terdengar di Jalan Pengadilan Raya, Komplek Pengayoman, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.

Di sana memang kawasan sentra produksi mebel di wilayah Kota Tangerang. Hilir mudik truk pembawa kayu dan rotan masuk di sela-sela jalan lingkungan di kawasan itu.

Beberapa workshop pembuatan mebel pun terlihat di sepanjang jalan yang persis berada di belakang Pengadilan Negeri (PN) Kelas II A Tangerang tersebut.

Mengitari ruas jalan ini, INDOPOS (Jawa Pos Group) menemukan gapura besar bercat hijau dan krem. Layaknya seperti gapura hendak masuk ke dalam masjid namun di atas bangunan itu terdapat tulisan besar ’UKM Mebel Berkah’.

Empat truk besar menghalangi awak Indopos ketika hendak masuk ke dalam tempat usaha mebel yang cukup tersohor tersebut.

Maklum saja, lahan di sana berisi tumpukan kayu-kayu besar yang akan dijadikan mebel atau furniture seperti lemari, kursi, meja dan beberapa bentuk lainnya.

Dari dalam rumah berwarna krem di lahan itu, muncul seorang pria gaek. Rambut putih, celana pendek dan kopiah hitam serta kaos oblong menyapa ramah.

Tangan pria yang masih dipenuhi abu dari serutan kayu saat disodorkan saat memperkenalkan diri. Pria bernama H Sandirin itu merupakan pemilik UKM Mebel Berkah.

Meski sudah jadi bos tapi dia tetap mengerjakan pembuatan mebel. Lelaki empat anak ini pun langsung saja buka cerita soal UKM mebel yang jadi usahanya selama puluhan tahun tersebut.

Sadirin bertutur, UKM Mebel Berkah ini dibukanya pada 1982 silam. Tekadnya menjadi pengusaha sangat kuat, walau hanya lulusan SMP.

Dia awalnya bekerja di salah satu toko mebel. Setelah ilmu pembuatan mebel dia dapatkan, Sadirin muda pun mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan tempatnya bekerja.

Bermodal Rp 400 ribu dia mulai merintis usahanya tersebut. Mulai dari menyewa rumah petak yang kini sudah dibeli menjadi tempat tinggal dan workshop.

Kemudian bapak empat anak ini pun mengumpulkan limbah kayu dari perusahaan mebel di wilayah Tangerang Raya menggunakan sepeda motor.

”Awal membuka usaha, saya membuat beberapa rak buku dan meja kecil dengan desain sendiri. Ya dijualnya juga ke lingkungan sekitar saja. Maklum waktu itu perekonomian warga di sini masih susah,” ujarnya.

Celotehan Sandirin kembali berlanjut. Kata dia, selang 14 tahun menggeluti bisnis mebel belum membuahkan hasil gemilang.

Dia harus berjibaku dengan susah payah untuk terus mengembangkan usahanya tersebut. Hingga pada 1996 dia pun mendaftarkan diri ke Pemkot Tangerang menjadi pelaku UKM.

Dari sana Sadirin mendapatkan pinjaman modal untuk mengembangkan bisnis mebelnya. Uang pinjaman itu pun langsung digunakannya melengkapi kebutuhan kerja pembuat mebel.

Dalam setengah tahun UKM itu berhasil dibangunnya dan dapat mengembalikan pinjaman ke Pemkot Tangerang.

”Tahun itu usaha saya mendapatkan kecerahan lebih baik. Kalau tidak salah omzet kotor sekitar Rp 100 juta per bulan. Waktu itu pesanan saya banyak dibeli warga perumahan mewah, dan pekerjanya masih ada empat orang,” katanya. Sejak 1996, Sadirin pun merasa terpacu melebarkan bisnis mebel melalui UKM Mebel Berkah tersebut.

Ketika ada pameran usaha kecil yang digelar Pemkot Tangerang, UKM Sadirin mendapatkan penghargaan sebagai UKM dengan predikit terbaik se-Kota Tangerang.

Namun predikit yang diterimanya itu lantas membuat kakek delapan cucu ini bangga dan berpuas diri. Dia pun terus mengembangkan UKM itu untuk menjadi besar seperti saat ini.

Bangkitnya UKM Mebel Berkah terjadi pada 1997. Kala itu dirinya mendapat orderan membuatkan 8.000 kotak suara pemilu yang nilainya Rp 2 miliar. Usahanya pun mendapat suntikan modal yang cukup dari keuntungan proyek tersebut.

”Saya tidak mau mengecewakan rekan bisnis, barang yang dipesan harus sesuai keinginan. Untungnya pun tidak besar tetapi justri ini menjadi progress mengembangkan usaha mebel,” paparnya.

Karena hasil kerjanya bagus, usai proyek kota suara order lain dia dapatkan. ”Saya dapat pesanan mebel dari beberapa perkantoran,” tuturnya juga. (*)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Cerita Praka Nodi, Anak Petani Anggota Paspampres
Cerita Praka Nodi, Anak Petani Anggota Paspampres
Selasa, 10 Oktober 2017 13:46 WIB
PRAKA Nodi, anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) merupakan putra daerah Provinsi Kaltara. Dia ikut bertugas mengawal Presiden Jokowi saat berkunjung
Yudawati, TKW Penjual Empek-empek di London, Beromzet Rp 100 Juta per Bulan
Yudawati, TKW Penjual Empek-empek di London, Beromzet Rp 100 Juta per Bulan
Selasa, 10 Oktober 2017 11:40 WIB
Berawal sebagai tenaga kerja wanita (TKW), Yudawati membuka restoran di London, Inggris, dengan menu andalan Pempek Palembang. Ternyata responsnya luar
Kisah Ibu yang Korbankan Ginjalnya Demi Kesembuhan Sang Buah Hati
Kisah Ibu yang Korbankan Ginjalnya Demi Kesembuhan Sang Buah Hati
Selasa, 10 Oktober 2017 02:41 WIB
Ada pepatah menyebutkan kasih sayang ibu sepanjang masa dan tak terbilang. Pepatah itu sepertinya dapat dialamatkan kepada ibu yang berinsial
Heboh Siswa Kelas V SD Hampir Setiap Hari Hajar Temannya
Heboh Siswa Kelas V SD Hampir Setiap Hari Hajar Temannya
Sabtu, 07 Oktober 2017 09:02 WIB
Dunia pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, belakangan dihebohkan kasus Ad, bocah kelas V SD yang dikenal sangat nakal.