Bocah 11 Tahun Pecahkan Rekor Main Keyboard dengan Mata Tertutup


Bocah 11 Tahun Pecahkan Rekor Main Keyboard dengan Mata Tertutup

Anak Itu Luar Biasa

    Bakat dan kemampuan anak-anak Indonesia, rupanya, mampu menggoyang dunia. Yang terbaru adalah Jefri Setiawan, pianis 11 tahun yang baru saja mencatatkan rekor dunia versi Record Holding Republic (RHR) bermain keyboard selama 3 jam 40 menit nonstop.

NURIS ANDI P., Jakarta

    SUASANA di ruang teater kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Kamis sore (13/4) begitu semarak ketika Jefri Setiawan dengan lincah memainkan lagu Bangun Pemudi-Pemuda karya Alfred Simanjuntak. Dengan ketukan 4/4, lagu itu mampu membangkitkan semangat para hadirin, termasuk Menpora Imam Nahrawi dan US President RHR David Adamovich. Mereka serentak berdiri dan bernyanyi bersama mengikuti irama keyboard yang dimainkan Jefri.

    Tepuk tangan pun bergema menyusul selesainya lagu berirama mars tersebut. Selain Bangun Pemudi-Pemuda, Jefri membawakan puluhan lagu nasional lainnya. Di antaranya, Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia Pusaka, dan Rayuan Pulau Kelapa (Ismail Marzuki); Desaku (L. Manik); Bagimu Negeri (Kusbini); serta Indonesia Tetap Merdeka (Cornel Simanjuntak). Bocah ingusan itu juga melantunkan dengan apik lagu-lagu pop Indonesia. Meski pop dewasa, lagu yang dipilih bukan lagu-lagu cengeng. Misalnya, lagu Jangan Menyerah (d’Masiv) dan Kenangan Terindah (Samsons). Dia juga menyisipkan enam lagu karyanya sendiri. Yakni, Raih Mimpi, Kita Bersaudara, Adikku Tersayang, Disayang Mama Papa, Nusantara, dan Calantha Sahabatku.

    Dari 60 lagu yang dimainkan, Jefri juga membawakan beberapa lagu Barat. Di antaranya, Heal the World karya Michael Jackson hingga Canon Rock gubahan Johann Pachelbel yang dimainkan dengan cukup sempurna. ’’Lega rasanya bisa main 60 lagu dengan tuntas,’’ kata Jefri setelah menyelesaikan lagu terakhir, Ibu Pertiwi karya Ismail Marzuki. Tepuk tangan kembali bergema mengiringi kesuksesan Jefri memecahkan rekor dunia versi RHR memainkan 60 lagu dengan mata tertutup dalam waktu 3 jam 40 menit nonstop.

    Sebenarnya, waktu yang diberikan kepada Jefri untuk bermain piano adalah 5 jam tanpa berhenti. Namun, dia mampu menyelesaikan lebih cepat. Karena itulah, RHR Registry of Official World Records, badan pemberi rekor dunia dari Inggris, mencatat pencapaian Jefri tersebut sebagai pemecahan rekor baru. Hebatnya, setelah menyelesaikan ’’hajat’’, siswa kelas V SD Universal Ananda, Kendal, Jawa Tengah, itu tidak tampak capek sedikit pun. Dengan senyum mengembang, dia terlihat baik-baik saja. ’’Tidak capek. Biasa saja,’’ tuturnya dengan penuh percaya diri.

    Memang, untuk momen penting tersebut, persiapan yang dilakukan Jefri sudah cukup lama. Berbulan-bulan dia mesti berlatih 3–6 jam dalam sehari untuk menghafalkan notasi 60 lagu berbagai genre musik itu. Saat latihan, dia tidak pernah menutup matanya dengan kain. ’’Waktu latihan, saya jarang melihat ke keyboard. Pandangan saya selalu ke atas. Lama-lama hafal sendiri,’’ ungkap anak pertama pasangan Joko Manis dan Indah Setyoningsih tersebut.

    Petualangan Jefri dalam bermusik dimulai saat dirinya masuk kelas 1 SD atau saat berusia 6 tahun. Joko membebaskan putranya itu untuk memilih hobi yang disenangi. Meski di keluarga tidak ada yang mahir bermain musik, Jefri sejak kecil menunjukkan potensinya yang besar di bidang itu. ’’Dari waktu ke waktu potensi Jefri semakin besar. Maka, kami pun tidak tinggal diam. Dia langsung kami masukkan ke kursus-kursus piano di Semarang,’’ jelas Joko Manis, ayah Jefri.

    Namun, saat Jefri mempersiapkan diri untuk pemecahan rekor dunia tersebut, kendala sempat muncul. Sekitar setahun lalu, tepatnya Mei 2016, bocah berkacamata minus tersebut tiba-tiba diminta berhenti berlatih musik oleh ayahnya. Pasalnya, penghasilan Joko dari usaha isi ulang air minum di rumah tak seberapa. Tak cukup untuk membiayai kursus musik Jefri dan adiknya, Rafi Wardhana, 8. ’’Tapi, Jefri ngeyel. Dia bilang ke saya kalau dia minta waktu delapan bulan untuk mempersembahkan prestasi,’’ ungkap Joko.

    Tak ingin mengecewakan sang anak, Joko menyanggupi permintaan anaknya itu. Begitu pula Jefri, dia makin bersemangat berlatih. Baik sendiri di rumah maupun di Sekolah Musik Purwacaraka Semarang. Setiap hari minimal 3 jam dia menyediakan waktu untuk berlatih. Apalagi, dia mendapatkan ’’senjata baru’’ hasil patungan keluarga besarnya di Kendal. Yakni, keyboard seharga Rp 12,5 juta. Keyboard itu lebih canggih jika dibandingkan dengan keyboard milik Jefri sebelumnya yang jadul. ’’Keyboard yang lama itu harganya cuma Rp 1,5 juta. Keyboard-keyboard-an,’’ ujar Joko, lantas terkekeh. Dengan keyboard baru itu, Jefri semakin mantap berlatih dan tampil. Bahkan, tahun lalu Jefri sempat unjuk kebolehan di Malaysia. Dia mendapat apresiasi dari para musisi setempat.

    Untuk pemecahan rekor Kamis (13/4), semula acara direncanakan berlangsung di London, Inggris, Minggu (16/4). Namun, semua harus berubah lantaran ada masalah administrasi yang tidak bisa diselesaikan pada masa persiapan. Untung, bos RHR David Adamovich, bersedia datang ke Indonesia. Momentum tersebut ditangkap keluarga Jefri yang difasilitasi Kemenpora. David Adamovich menjelaskan, pemecahan rekor dunia yang dilakukan Jefri cukup sempurna. ’’Meskipun ada beberapa kesalahan notasi, itu tidak berpengaruh (terhadap prestasi tersebut, Red),’’ tegasnya.

    Kemampuan Jefri, diakui David, termasuk langka. Menurut dia, pemecahan rekor yang dijalani bocah kelahiran 2 Maret 2006 itu merupakan yang pertama di dunia. ’’Anak itu luar biasa,’’ komentarnya. Selanjutnya, Jefri mantap untuk mempertajam rekornya tersebut pada pertengahan Mei mendatang di Seoul, Korea Selatan. Menurut Joko, Jefri mendapat tawaran untuk tampil membawakan 70 lagu dengan mata tertutup dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul. Sayang, Joko sudah kehabisan biaya untuk memberikan dukungan kepada Jefri.

    Gayung bersambut, curhat Joko mendapat respons Menpora Imam Nahrawi yang berkomitmen mendorong anak bangsa agar bisa maju di pentas dunia. ’’Kami nanti yang mendorong perusahaan BUMN ataupun swasta untuk bisa membantu Jefri,’’ tegas Imam Nahrawi. (*/c5/ari)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Senar Putus Jadi Pengalaman Buruk
Senar Putus Jadi Pengalaman Buruk
Rabu, 21 Juni 2017 16:14 WIB
Harpa menjadi tambatan hati Jessica Sudarta sejak usia 11 tahun. Berdasar data penampil, Jessica menjadi satu-satunya pemain harpa dari Indonesia
Dua Kali Nyaris Tewas di Lapas
Dua Kali Nyaris Tewas di Lapas
Jum'at, 16 Juni 2017 15:08 WIB
Perjalanan Sofyan Tsauri mengikuti kelompok radikal Alqaida penuh lika-liku. Sampai akhirnya, dia ditangkap polisi. Di penjara dia sadar bahwa tindakannya
Pernah Jadi Pemasok Senjata Utama
Pernah Jadi Pemasok Senjata Utama
Kamis, 15 Juni 2017 15:01 WIB
Sofyan Tsauri pernah menjalani hari-hari sebagai bagian dari teroris jaringan Alqaida. Bahkan, pria kelahiran 22 April 1976 itu menjadi sosok
Kisah Pak Guru Honorer Nyambi jadi Pemulung
Kisah Pak Guru Honorer Nyambi jadi Pemulung
Rabu, 14 Juni 2017 14:57 WIB
KARENA puasa, jadwal sekolah di SMPN 1 Montong Gading berakhir lebih awal. Bagi Mursidi, staf tata usaha sekaligus guru