Andrew Noah W., ”Profesor Dangdut” AS Teliti Musik Indonesia


Andrew Noah W., ”Profesor Dangdut” AS Teliti Musik Indonesia

Tak Sekedar Lagu, Ada Pesan yang Disampaikan 

    Prof Andrew Noah Weintraub bukan lagi orang asing bagi Indonesia. Guru besar musik asal University of Pittsburgh, Pennsylvania, AS, itu telah lama meneliti musik di Indonesia. Kini dia ingin melebarkan penelitian pada musik populer. Tak terkecuali di Surabaya yang telah menghasilkan musisi rock.

ANTIN IRSANTI

    CIRI keunikan Surabaya dalam musik itu apa? Pertanyaan itu terus membayangi Prof Andrew Noah Weintraub setiap kali memperhatikan musisi-musisi rock Indonesia. Bagi dia, Surabaya adalah kota besar yang sangat variatif dari segi kebudayaan. Namun, masih ada hal mengganjal yang belum terjawab. Yakni, kaitan antara Surabaya sebagai kota metropolitan dengan kelahiran para musisi andal di bidang masing-masing.

    Rasa penasaran itu membawanya ke Surabaya setelah menghabiskan waktu tiga bulan di Jakarta dan Bandung. Hal tersebut dia lakukan bukan untuk menjawab rasa penasaran saja. Tetapi juga mengumpulkan data untuk penelitian terbarunya. Jumat (7/4) Andrew mendatangi redaksi Jawa Pos. Kedatangannya juga dimaksudkan untuk menggali data yang dibutuhkan. Selain itu, dia bertemu beberapa musisi senior. Antara lain drumer Kunto Hartono dan Herman, gitaris Rock Trickle Band (RTB). ”Penelitian saya baru dimulai di sini,” tuturnya saat itu.

    Seperti sebelumnya, Andrew memang memanfaatkan media untuk mengumpulkan data penelitian. Khususnya media yang pernah memuat data-data musisi yang berhubungan dengan objek yang sedang diteliti. Selain itu, dia mendatangi para musisi untuk melakukan teknik wawancara. Di Surabaya, perjalanan Andrew akan dimulai dari wawancara dengan para musisi senior. Yakni, musisi yang bisa menceritakan sejarah musik setelah kemerdekaan hingga tahun ’60-an. Dia semakin tertarik dengan gagasan bahwa Surabaya adalah pionir musik rock jika dibandingkan dengan Jakarta.

    Rencananya, dia juga mendatangi basis para penggemar fanatik grup musik atau musisi tertentu. Jika ditelusuri, berarti orang-orang yang akan dia temui berumur 60–70 tahun. Dari situ, Andrew ingin mendapatkan gambaran cerita tentang penampilan, gaya hidup, konser, dan suasana zaman dulu. ”Surabaya sangat kuat di tahun 1970-an, sangat menarik melihat sejarah musik,” ujar alumnus S-1 University of California, Santa Cruz, itu. Andrew memang semakin penasaran dengan perkembangan musik di Indonesia. Bukan hanya dari jenisnya, tapi juga dari kacamata sejarah, metode, dan pengaruhnya terhadap berbagai aspek sosial. Karena itu, dia tidak sembarangan dalam menentukan periodisasi yang menjadi fokus penelitian.

    Di era setelah kemerdekaan Indonesia hingga 1975, musik masih dibawakan dalam bentuk piringan hitam. Baru setelah itu perkembangan industri semakin maju. Piringan hitam digantikan dengan kaset.

    Menurut pria kelahiran 8 Oktober 1962 tersebut, perkembangan musik dari masa ke masa merupakan hal yang menarik. Karena itu, dia ingin mengabadikan cerita tersebut dalam sebuah buku. Sebab, selama ini Andrew belum mendapati adanya akademisi yang menulis secara khusus sejarah musik. Beberapa artikel yang berhasil dia kumpulkan hanya membahas sekilas tentang band tertentu. Atau sebatas profil artis. Tak ada yang benar-benar membahas secara mendalam dari berbagai aspek. Padahal, banyak musisi dan penggemar yang ingin membagikan kisah itu. Banyak pula generasi Indonesia hingga dunia yang ingin mencari tahu tentang sejarah tersebut.

    Dari objek yang diteliti, Andrew menyimpulkan bahwa musik juga memengaruhi pembangunan bangsa. Misalnya lagu-lagu dengan tema yang berkaitan dengan masalah-masalah utama yang dihadapi negeri ini. Secara disadari atau tidak, isi liriknya mengajak masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal yang berpotensi merugikan negara. Misalnya mencuri, melakukan korupsi, hingga main hakim sendiri. Hal tersebut banyak ditemukan pada penelitian sebelumnya. Tepatnya pada musik dangdut. Salah satunya karya Rhoma Irama. Misalnya lagu Judi, Begadang, Hak Asasi, dan Indonesia. Bukan sekadar hiburan, ada pesan yang ingin disampaikan dalam setiap bait lagu.

    Sejak 2005, Andrew memang berkecimpung di dunia dangdut. Kala itu dia melihat keunikan tersendiri dalam dangdut sebagai musik khas Indonesia. Sampai akhirnya penelitian tersebut berhasil membuahkan sebuah buku berjudul Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music pada 2010. Namun, jauh sebelum itu Andrew sudah tak asing dengan kesenian Indonesia. Pada 1982, ketika masih berkuliah S-1 di University of California, dia sudah tertarik dengan gamelan Sunda sehingga menjadikannya tema skripsi. Ketika melanjutkan studi S-2 di University of Hawaii, dia kembali intens melakukan penelitian tentang Sunda.

    Penelitian itu menyisakan kenangan paling berkesan dalam hidupnya. Yakni, dia belajar tembang Sunda langsung dari mendiang Euis Komariah pada 1988. Untuk bisa menghayati objek penelitiannya, Andrew tak hanya datang langsung ke Bandung. Tetapi juga belajar tentang bahasa, sejarah, dan kebudayaannya. ”Akhirnya keterusan sampai sekarang,” ungkapnya, lantas terkekeh. Penelitian tentang Indonesia tak berhenti di situ. Ketika mengambil program PhD di University of California, Berkeley, Andrew kembali ke Indonesia. Kali ini dia meneliti wayang golek. Bagi dia, kekayaan budaya Indonesia tidak pernah habis digali.

    Kecintaan terhadap Indonesia tak hanya diwujudkan dalam buku hasil penelitian. Pada 1997, ketika menjadi pengajar di University of Pittsburgh, Andrew mendirikan program studi gamelan Sunda. ”Tahun ini akan merayakan anniversary ke-20,” ujarnya. Setiap tahun prodi gamelan Sunda merayakan ulang tahun dengan mengundang musisi dan artis-artis Indonesia. Mereka diajak berkolaborasi dengan mahasiswa Pittsburgh dan menggelar konser.

    Bukan hanya itu, Andrew juga memiliki band bernama Dangdut Cowboy. Isinya warga Amerika yang mencintai dangdut. Saat berkumpul, mereka menyanyikan lagu-lagu dangdut dari artis Indonesia. Antara lain Gelandangan, Begadang, Bujangan, dan Terajana. ”Tak tertutup kemungkinan juga lagu dangdut lama yang dikoplokan,” imbuhnya. Pada 2008, Andrew juga mengundang Rhoma Irama dan OM Soneta untuk tampil bersama. Kala itu mereka menyanyikan lagu Berkelana. Itu adalah penampilan favoritnya hingga saat ini.

    Kini Andrew telah mengalihkan fokus penelitian ke musik populer. Tinggal sebulan lagi waktunya untuk mengumpulkan data di Indonesia. Setelah itu, dia harus kembali ke Amerika untuk menunaikan tugas sebagai pengajar. ”Tapi, saya setahun dua kali ke Indonesia,” katanya. Memang ”lucu” juga profesor dari luar negeri harus meneliti kesenian dan budaya Indonesia. Tapi, orang-orang seperti Andrew membantu bangsa Indonesia untuk mengumpulkan sejarah. Bisa jadi, Andrew akan menjadi penggerak peneliti Indonesia untuk mengamati keragaman negeri ini. (*/c11/dos/sep/JPG)







Berikan Komentar

Features Lainnya
Senar Putus Jadi Pengalaman Buruk
Senar Putus Jadi Pengalaman Buruk
Rabu, 21 Juni 2017 16:14 WIB
Harpa menjadi tambatan hati Jessica Sudarta sejak usia 11 tahun. Berdasar data penampil, Jessica menjadi satu-satunya pemain harpa dari Indonesia
Dua Kali Nyaris Tewas di Lapas
Dua Kali Nyaris Tewas di Lapas
Jum'at, 16 Juni 2017 15:08 WIB
Perjalanan Sofyan Tsauri mengikuti kelompok radikal Alqaida penuh lika-liku. Sampai akhirnya, dia ditangkap polisi. Di penjara dia sadar bahwa tindakannya
Pernah Jadi Pemasok Senjata Utama
Pernah Jadi Pemasok Senjata Utama
Kamis, 15 Juni 2017 15:01 WIB
Sofyan Tsauri pernah menjalani hari-hari sebagai bagian dari teroris jaringan Alqaida. Bahkan, pria kelahiran 22 April 1976 itu menjadi sosok
Kisah Pak Guru Honorer Nyambi jadi Pemulung
Kisah Pak Guru Honorer Nyambi jadi Pemulung
Rabu, 14 Juni 2017 14:57 WIB
KARENA puasa, jadwal sekolah di SMPN 1 Montong Gading berakhir lebih awal. Bagi Mursidi, staf tata usaha sekaligus guru