Mereka yang Bergembira Papa Novanto Dijerat KPK


Mereka yang Bergembira Papa Novanto Dijerat KPK

JAKARTA - Sebagian keluarga besar Golkar diyakini senang dengan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menahan Setya Novanto. Terutama kader yang melihat ketua umum partai berlambang pohon beringin tersebut sebagai biang keladi merosotnya marwah Golkar di tengah masyarakat.

"Kelompok lain yang mungkin senang dengan ditangkapnya Novanto adalah penggiat antikorupsi dan masyarakat umum yang sudah muak dengan petak umpetnya dengan KPK. Kemudian musuh-musuh politik Novanto di luar Partai Golkar," ujar pemerhati sosial politik Afriadi Ajo di Jakarta, Senin (20/11).

Menurut Afriadi, sebagian kader mungkin senang dengan penangkapan Novanto karena selama ini merasa Golkar terpenjara. Kasus Ketua DPR tersebut membawa implikasi buruk terhadap imej dan elektabilitas Golkar di tengah masyarakat.

"Buktinya bisa dilihat dari hasil survei lembaga-lembaga kredibel seperti SMRC dan CSIS, posisi Golkar merosot ke peringkat ke tiga, disalib Gerindra," ucap Afriadi.

Afriadi menilai, para petinggi Golkar tentu sadar kasus hukum Novanto menjadi penghancur nama baik partai. Namun, selama ini mereka tidak bisa mengganti Novanto begitu saja. Karena Golkar bukan partai tradisional yang bersandar pada keinginan segelintir individu.

Golkar merupakan partai modern yang mendasarkan segala keputusan pada AD/ART dan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam forum tertinggi partai.

"Jadi, meski banyak individu menginginkan Ketum meletakkan jabatannya, tapi mereka tak bisa memaksanya. Kebetulan pula Setya Novanto saat kasus ini mulai bergulir, tak mau melepaskan jabatan yang dia peroleh lewat perjuangan pada Munaslub Golkar di Bali, 2016 lalu," katanya.

Karena itu dengan telah ditangkapnya Novanto, Afriadi menilai segenap pengurus Golkar seperti memperoleh legitimasi legal untuk mencari ketua umum yang baru.

"Sebagai kawan seperjuangan di Partai Golkar, mereka tentu sedih melihat kondisi Novanto seperti sekarang. Tapi secara organisasi, mereka pasti senang karena keluar dari himpitan beban berat yang selama ini sulit banget untuk disingkirkan," pungkas Afriadi.(gir/jpnn)







Berikan Komentar

Demokrasi Lainnya
Pilwako 2018, Dodot Siap Dampingi Endang
Pilwako 2018, Dodot Siap Dampingi Endang
Selasa, 12 Desember 2017 05:51 WIB
PANGKALPINANG - Keseriusan mantan Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung H Ismiryadi biasa disapa Dodot untuk maju di pemilihan walikota
Ingat, Fadli Zon Merasa Tak Berteman dengan Donald Trump
Ingat, Fadli Zon Merasa Tak Berteman dengan Donald Trump
Selasa, 12 Desember 2017 04:51 WIB
JAKARTA - Wakil Ketua DPR Fadli Zon menepis dugaan yang menyebutnya dekat dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang
Dana Parpol Disoal, Anies Langsung Tunjuk Djarot
Dana Parpol Disoal, Anies Langsung Tunjuk Djarot
Selasa, 12 Desember 2017 04:47 WIB
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak terima disebut mengusulkan dana bantuan partai politik di APBD DKI 2018 dinaikkan
Ada Peluang Prabowo Subianto-Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019
Ada Peluang Prabowo Subianto-Gatot Nurmantyo di Pilpres 2019
Minggu, 10 Desember 2017 05:22 WIB
BOGOR - Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto menyambut baik bila Gatot Nurmantyo bergabung ke partainya.