Berita Pangkalpinang
STAIN SAS Babel Terus Berbenah
Rabu, 12 Desember 2012 11:21 WIB | Dibaca 131 kali
Menuju IAIN dan UIN

SEKOLAH Tinggi Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik (STAIN SAS) Bangka-Belitung (Babel) saat ini terus berbenah. Oleh karenanya,peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana akademik maupun sumber daya manusia (SDM) terus dipacu, agar visi STAIN SAS sebagai pusat keunggulan intelektual dan moral berbasis kearifan dan berwawasan global dapat tercapai.

Hal tersebut disampaikan Ketua STAIN SAS Babel Prof H Imam Malik M.Ag kepada Radar Bangka, Selasa (11/12) kemarin. Pria ramah nan bersahaja ini mengaku, semenjak menjabat dirinya terus memacu pembenahan dan pengembangan STAIN menuju cita-cita yang diidamkan yakni menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang akhirnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

Saat ini kata Imam, semangat menjadikan STAIN SAS menjadi IAIN dan UIN tersebut terus terpelihara dengan terus mengikuti regulasi dan aturan yang ditetapkan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Nasional, Badan Kepegawaian Nasional dan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negaran dan Reformasi Birokrasi. "Kami saat ini terus mengikuti aturan terkait perubahan status ke IAIN dan UIN. Hal ini terus kami upayakan sembari terus berbenah memajukan STAIN SAS Babel. Kami terus berbenah terutama mengenai pembangunan fasilitas seperti gedung kuliah, laboratorium, asrama mahasiswi dan nantinya kedepan asrama mahasiswa. Semuanya memang  sengaja kami pacu dengan harapan pelaksanaan atau atmosfir akademik di kampus bisa hidup 24 jam. Antara dosen dan mahasiswa dekat, tidak perlu jauh-jauh,"ujarnya.

Dikatakannya, dalam waktu dekat ini, asrama putri yang saat ini sedang dalam tahap akhir pembangunan sudah dapat ditempati. Saat ini sedang dipersiapkan mebeulair, jaringan listrik, air bersih dan keamanan untuk asrama tersebut.  "Yang diutamakan nanti mahasiswi semester satu hingga semester dua. Sedangkan untuk semester tiga dan seterusnya dititipkan ke masyarakat, sebab kapasitas asrama terbatas, yakni 250 orang," jelasnya.

Mengenai ketersedian listrik, lanjut dia, saat ini juga sedang dikembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang kapasitasnya secara bertahap terus ditingkatkan. "Seperti UBB (Universitas Bangka Belitung), saat ini untuk listrik sudah mulai menggunakan tenaga surya. Tahun ini mulai diprogramkan yang nantinya secara bertahap memenuhi kebutuhan listrik STAIN SAS Babel," ungkapnya.

Tak sampai disitu, lanjut Imam, untuk peningkatan SDM terutama tenaga pendidik, saat ini juga sedang didorong peningkatan keilmuan tenaga pendidik. Para pendidik yang saat ini berpendidikan pasca sarjana (S2), didorong menjadi doktor dan sejumlah doktor didorong untuk menjadi profesor.

Hal ini tak lain, lanjutnya, untuk kemajuan STAIN SAS Babel dalam melahirkan para sarjana-sarjana yang membawa peradaban, berwawasan global dengan akhlak mulia yang luhur memajukan bangsa dan negara.

Bekerja Sesuai Regulasi dan Terapkan Sistem Online

Prinsip tersebutlah yang menjadi motivasi Kepala Bagian Administrasi STAIN SAS Babel, Drs Asadi dalam mengelola administrasi satu-satunya perguruan tinggi Islam di Babel. 

Terbukti, dibawah kepengurusannya yang ditunjukkan dengan kinerja profesional dan akuntabel, STAIN SAS Babel pada tahun ini berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Keuangan RI yang disampaikan melalui Kementerian Agama RI atas keberhasilan menyusun dan menyajikan laporan keuangan dengan capaian standar tertinggi dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah.

Namun ketika hal tersebut disinggung, Asadi merendah. "Itu kebetulan mungkin mas (RB-red).Kami gak tahu karena penilaian dari Kementerian," kata dia saat ditemui Radar Bangka di ruang kerjanya.

Namun, Ia mengakui, dalam mengelola administrasi pihaknya selalu berpegang teguh kepada aturan dan petunjuk dari lembaga diatasnya yakni pemerintah pusat.  "Kami ikuti tahapan sesuai petunjuk Inspektorat Jenderal. Laporan yang kami sampaikan sesuai dengan tahapannya yakni direncanakan dengan benar, dianggarkan lalu dilaksanakan sesuai dengan aturan kemudian didokumentasikan dan dilaporkan sesuai petunjuk yang diberikan dalam aturan," ungkapnya.

Ia pun bersyukur, selama dirinya memegang jabatan sebagai Kepala Administrasi, temuan pemeriksa keuangan dalam mengaudit penyelenggaran keuangan STAIN SAS Babel tercatat nol atau tidak ditemukan indikasi penyelewengan anggaran. "Kami melaksanakan sesuai yang dicanangkan pemerintah yakni penggunaan anggaran yang transparan dan akuntabel," tegasnya.

Mengenai sistem pengelolaan administrasi, kata dia, dalam dua tahun terakhir ini STAIN SAS Babel menerapkan sistem pengelolaan transparan berbasis internet. Dirjen, Kementerian Agama maupun Badan Pemeriksa Keuangan jelasnya, dapat melihat dan mengetahui secara online administrasi pengelolaan keuangan STAIN SAS Babel.  "Siapa saja boleh mengakses keuangan tersebut baik Dirjen, Kemenag, BPK semuanya boleh memeriksa. Semuanya terbuka dan dapat dilihat secara online. Alhamdulilah manfaatnya banyak sekali karena siapa saja dapat dapat melakukan pengawasan secara langsung," ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk sistem administrasi di akademik pun pihaknya sudah menggunakan sistem berbasis internet yakni aplikasi data EMIS (Education Management Information System). Melalui aplikasi tersebut, jelas dia, dapat diakses informasi mengenai STAIN seperti jumlah dosen dan mahasiswa. Begitupula dengan sarana dan prasarana yang dapat dilihat secara online. "Misalnya mau data mahasiswa dapat langsung dilihat secara online. Gedung-gedung STAIN pun dapat dilihat. Misalnya gedung yang rusak dapat dilihat melalui aplikasi EMIS ini. Plafon gedung yang rusak lalu diperbaiki akan kelihatan secara online, sehingga tak dapat membohongi pihak manapun dalam perbaikan gedung. Pemerintah pusat yang melakukan pemantauan pun lebih mudah. Alhamdulilah untuk aplikasi EMIS ini, STAN SAS Babel meraih peringkat ketujuh se-Indonesia," tukasnya seraya menambahkan baru dalam satu terakhir menerapkan aplikasi tersebut.

Untuk kepegawaian pun, kata dia, telah diterapkan sistem informasi administasi kependudukan (SIAK) sebagai bagian dari modernisasi sekaligus transparansi pengurusan kepegawaian STAIN SAS Babel.  "Kami bekerja sesuai aturan. Misalnya panitia lelang kami bentuk dan tegaskan harus bekerja sesuai aturan. Kalau aturan tidak ditaati seperti berkas tidak lengkap, selaku penandatanganan SPM untuk pencairan uang, saya tidak akan mau tandatangani," tegasnya.

Ditanya kendala, kata dia, memang dalam tiap pekerjaan tidak terlepas dari kendala maupun hambatan. Seperti ketersediaan listrik yang masih  belum cukup memadai. "Memang sih untuk listrik terkadang masih menjadi kendala utama, namun dengan 24 orang tenaga administrasi mengurusi 1.000 lebih mahasiswa, Alhamdulilah kami selalu termotivasi memberikan yang terbaik," imbuhnya. 

Pengembangan SDM Terus Dilakukan 

Sementara salah satu dosen pengajar di STAIN SAS Babel, Masmuni Mahatma, M.Ag mengungkapkan, saat ini semua dosen tetap sudah terakreditasi dan tersertifikasi, kecuali untuk dosen fungsional seperti dirinya yang akan disertifikasi pada 2013 mendatang.  "Untuk tenaga pengajar sudah baik. Saat ini setahu saya sudah ada tiga dosen tetap yang bergelar doktor. Dosen luar biasa juga ada yang doktor. Ketua sendiri sudah profesor dan sebagai guru besar. Kandidat doktor pun ada empat orang yang sedang menyelesaikan disertasi," ungkap Masmuni.

Sementara mengenai mahasiswa yang diajarkan kata dia, banyak mahasiswa yang memiliki potensi untuk lebih berkembang. "Ada mahasiswa yang bisa nulis di koran, itu langka sekali. Seperti dosen Bahasa Indonesia yang menerapkan kepada mahasiswanya bila ingin nilai bagus, maka harus dapat menulis di koran. Itu bagus sekali. Ini pun saya coba terapkan ke mahasiswa saya," ujar dosen yang mengajarkan mata kuliah Filsafat.

Dalam kesempatan itu juga, dirinya mengungkapkan, saat ini STAIN SAS Babel sudah layak menjadi IAIN, meskipun hal tersebut tergantung dari pemerintah pusat. "Sebentar lagi kan mau jadi IAIN. Ini luar biasa, targetnya kan 2013 tapi nanti tergantung pemerintah pusat. Kalau keinginan kita, sekarang saja karena persyaratan sudah cukup. Kalau mahasiswa kurang memenuhi sekian itu soal administrasi, tapi di Bengkulu mahasiswanya tidak terlalu banyak tapi sudah menjadi IAIN juga. Sebab itu STAIN ini perlu bersama-sama kita kembangkan dan majukan," pesannya.

Oleh sebab itu dia menambahkan, keberadaan satu-satunya perguruan tinggi Islam negeri di Babel harus disikapi dengan rasa memiliki dan bersama-sama mendorong kemajuan STAIN SAS Babel. "Maka itu harus kita dorong bersama-sama, rasa memiliki dan mengembangkannya bersama-sama," ajak Masmuni.

Lebih lanjut dia, pria yang ditugaskan menjadi tenaga pengajar oleh Kementerian Agama ke STAIN SAS Babel ini pun meminta masyarakat bisa mencintai STAIN sebab merupakan harapan masa depan masyarakat Islam di Indonesia terutama di Babel.  "STAIN milik orang Bangka, mestinya kawan-kawan di Bangka lebih maksimal karena ini satu-satunya perguruan tinggi Islam negeri di Babel. Ini harus dikembangkan dan dimajukan dengan baik. Ini modal, prospek sekaligus peluang masyarakat Babel untuk mengembangkan Islam dan pendidikan. Bukan Islam sebagai agama tapi Islam sebagai sumber pendidikan bagi seluruh umat manusia," imbuhnya.(cr48)



comments powered by Disqus
EPaper Facebook twitter RSS
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
Wedding Package Bumi Asih Hanya Rp 30 juta
PANGKALPINANG - Ingin membuat hari pernikahan Anda berkesan istimewa? Paket pernikahan Hotel Bumi Asih Pangkalpinang dapat menjadi pilihan tepat Anda dalam merencanakan pernikahan.
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
Bagi Minute Play saat Lawan Elche
VALENCIA - Bukan kalah atau menang yang menjadi target timnas senior Indonesia selama menjalani rangkaian tur Spanyol. Alfred Riedl selaku pelatih timnas senior hanya ingin melakukan evaluasi dalam laga uji coba di Negeri Matador tersebut.
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah
Kembali Bersekolah - Siti Aisyah Pulungan (8) mencium ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (54) yang dirawat di RS Pirngadi pada hari pertama ia kembali bersekolah di Medan, Sumut, Jumat (21/3). Sejak setahun terakhir Aisyah tidak ke sekolah karena merawat ayahnya yang sakit di atas becak. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Mitra Radar