Ahok Berulang Kali Menista Almaidah


Ahok Berulang Kali Menista Almaidah

    JAKARTA - Saksi pelapor Muchsin bin Zaid Alattas mempertegas bahwa terdakwa penodaan agama Islam Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berulang kali menggunakan Surah Almaidah Ayat 51 demi kepentingan politik. "Ini tidak relevan dan tidak boleh," kata dia usai bersaksi di sidang perkara penodaan agama Islam untuk terdakwa Ahok di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (3/1).

    Dalam persidangan, Muchsin juga mengaku menyerahkan buku berjudul "Merubah Indonesia" karangan Ahok, yang di dalamnya juga menyinggung Surah Almaidah Ayat 51. Dia mengatakan, Ahok tidak berhak menafsirkan Almaidah. Menurutnya, yang berhak menafsirkan adalah ustaz, kiai, ulama, habaib. Sebab, mereka inilah pihak yang punya landasan kuat untuk menjelaskannya. "Ada apa dia (Ahok) menjelaskan Surah Almaidah Ayat 51,” kata Muchsin.

    Lagipula, Muchsin menambahkan, Ahok datang ke Kepulauan Seribu pada September 2016 dalam rangka kunjungan kerja sebagai gubernur. Nah, dia heran kenapa saat berpidato itu Ahok membawa-bawa Surah Almaidah. Dia menduga, Ahok mengucapkan Surah Almaidah saat ini karena kepentingan politik mengingat yang bersangkutan salah satu kandidat gubernur DKI Jakarta. "Yang dia (Ahok) ucapkan di Kepulauan Seribu kepentingan dengan pilgub karena dia salah satu kandidat," katanya.    

    Menurut Muchsin, Ahok menanggapi kesaksiannya dengan menyatakan bahwa penggunaan Surah Almaidah adalah untuk melawan politisi busuk yang ingin menjatuhkannya. Namun, tanggapan Ahok itu dibalas Muchsin. Menurut Muchsin, ketika bicara di Kepulauan Seribu menyinggung Surah Almaidah, Ahok tidak menyebutkan siapa politisi busuk yang dimaksudkannya. Namun, Muchsin kembali menegaskan bahwa Ahok hanya mengatakan jangan mau umat Islam dibohongi pakai Surah Almaidah. 

    Tapi, anda sebutkan membohongi dengan Surah Almaidah. Artinya di situ umat Islam. Kecuali kalau anda sebutkan dalam pembicaraan di Kepulauan Seribu Surah Almaidah ini saya tujukan untuk lawan politik yang busuk, itu boleh," kata Muchsin. Lantas Muchsin mengungkapkan bahwa dia melapor ke polisi karena Ahok telah menghina Alquran. Muchsin menegaskan dia tidak punya masalah pribadi dan kebencian dengan Ahok.

    "Saya katakan yang jadi masalah anda telah menista, menoda agama," tegasnya. Dia mengaku mengetahui adanya ucapan Ahok di Kepulauan Seribu itu dari rekaman video yang didownload di Youtube. Menurut dia, dalam video itu seakan-akan Ahok menuduh Surah Almaidah digunakan untuk berbohong. "Itu yang membuat kami marah," tegas Imam Daerah Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta ini.

    Selain  Muchsin bin Zaid Alattas, saksi lain yang dihadirkan yakni Habib Novel Chaidir Hasan, Gus Joy Setiawan, Muh Burhanuddin, Syamsu Hilal, dan Nandi Naksabandi. Namun, dua orang batal hadir dalam persidangkan kali ini, Muh Burhanuddin berhalangan hadir dikarenakan sakit sementara Nandi Naksabandi dikabarkan sudah meninggal dunia pada 7 Desember 2016 lalu.

    Disisi lain, Gus Joy Setiawan, saksi pelapor yang didatangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang mengakui sempat berafiliasi dengan salah satu cagub-cawagub DKI Jakarta. "Karena saya fokus dengan kasus ini (penisataan agama atas terdakwa Ahok), jadi saya tutup komunikasi tersebut," kata Gus Joy.

    Dalam persidangan, tim kuasa hukum Ahok menyatakan bahwa sesuai dengan video dari Youtube yang dipublikasikan pada 30 September 2016, diketahui saksi Gus Joy mendeklarasikan dukungan kepada Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Saksi Gus Joy kemudian diketahui sebagai Koordinator Koalisi Advokat Rakyat yang mendukung pasangan tersebut. Selanjutnya diketahui bahwa Gus Joy melaporkan Ahok ke Bareskrim Polri atas kasus dugaan penistaan agama pada 7 Oktober 2016.

    Atas dasar itu, tim kuasa hukum Ahok merasa pesimis Gus Joy bisa memberikan kesaksiannya secara objektif. "(Saya) yakin masih bisa objektif dan sangat objektif karena ini menyangkut agama yang saya anut," ucap Gus Joy.

    Sementara, Ahok menyoroti pekerjaan salah satu saksi yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU), yakni Gusjoy Setiawan yang mengaku sebagai advokat. "Kita menemukan ada saksi yang sebenarnya bukan advokat tapi ngaku advokat, itu Gusjoy. Tidak pernah disumpah. Kalau tidak disumpah anda bisa dipidana," kata Ahok.

    Ahok pun mengaku dirugikan karena Gusjoy ternyata terbukti sebagai pendukung pesaingnya di Pilgub DKI 2017 mendatang.  "Ada juga saksi yang akhirnya mengaku dia adalah pendukung paslon nomor 1 (Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni), deklarasi. Itu juga Gusjoy," berang Ahok. Meski dalam kesaksian di persidangan Gusjoy mengaku tetap objektif saat melaporkan Ahok ke polisi, Ahok mengaku tetap masih menaruh curiga. "Padahal dia habis deklarasi, dia melaporkan saya. Makanya saya merasa saya dirugikan," tegas Ahok.(boy/jpnn)





Berikan Komentar

Nusantara Lainnya
PSI Berharap Dirut Baru Tak Lupa Jenis Kelamin Pertamina
PSI Berharap Dirut Baru Tak Lupa Jenis Kelamin Pertamina
Senin, 23 April 2018 11:50 WIB
JAKARTA - Partasi Solidaritas Indonesia (PSI) menyambut baik langkah tegas pemerintah mencopot Elia Massa Manik dari posisi direktur utama PT
Dirjen Pajak Dukung Penegakan Hukum Oknum Kena OTT
Dirjen Pajak Dukung Penegakan Hukum Oknum Kena OTT
Kamis, 19 April 2018 09:48 WIB
JAKARTA - Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan mendukung penegakan hukum bagi oknum pegawai pajak yang terkena Operasi Tangkap
PT Timah Penghasil Timah Terbesar Kedua di Dunia
PT Timah Penghasil Timah Terbesar Kedua di Dunia
Senin, 16 April 2018 16:09 WIB
JAKARTA - Direktur Umum (Dirut) PT Timah Tbk, Mochtar Riza Pahlevi saat ditanya wartawan, tak menepis jika PT Timah
 PT Timah Bagi Dividen 35 Persen, Laba TINS Meningkat 99 Persen
PT Timah Bagi Dividen 35 Persen, Laba TINS Meningkat 99 Persen
Senin, 16 April 2018 14:58 WIB
JAKARTA - PT Timah Tbk mengelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (16/4). Dalam rapat RSUP