Di Muntok, Rusip untuk Berbuka


Di Muntok, Rusip untuk Berbuka

MUNTOK (radarbangka.co.id) - Warga Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, meminati makanan khas daerah jenis rusip untuk disantap saat berbuka puasa, karena rasanya yang khas mampu menggugah selera.
Rusminah, seorang pedagang makanan jenis rusip di Muntok, Selasa (2/8) mengaku permintaan makanan tradisional khas Kota Muntok itu meningkat dalam Ramadhan tahun ini untuk menu berbuka puasa.
"Biasanya dalam sehari hanya terjual dua hingga tiga botol rusip dengan harga Rp15 ribu per botol, namun dalam Ramadhan permintaan mencapai puluhan botol sehingga saya kehabisan stok," ujarnya.
Menurut dia, rusip hanya bisa ditemukan di warung-warung tertentu, karena produksinya terbatas dan hanya dibuat kalangan home industri yang diantar langsung ke warung dengan sistem pesanan.
"Saya memesannya dari pembuat rusip dan langsung diantar ke warung saya, pada Ramadhan saya memesan stok lebih banyak karena tingginya permintaan," ujarnya.
Ia mengatakan, rusip merupakan makanan tradisional masyarakat Bangka yang terbuat dari ikan teri yang difermentasikan dan diminati warga sebagai pengganti sambal untuk lalapan. Rusip diproduksi secara merata di setiap daerah di Pulau Bangka.
Namun, penjualan rusip masih skala rumah tangga dan jenis makanan ini hanya bisa ditemukan di toko-toko menjual makanan khas daerah dan ada juga yang dijajakan langsung dari rumah ke rumah.
"Bahan rusip terbuat dari ikan teri segar, garam dan gula aren. Kemudian peralatannya terdiri baskom, saoki toples atau botol," ujarnya.
Ia menjelaskan, proses pembuatan rusip yaitu ikan teri segar dibersihkan dari kotoran dan kepalanya dibuang, kemudian dicuci hingga benar-benar bersih lalu tiriskan hingga benar-benar kering.
"Kemudian campur ikan dengan garam sambil diremas hingga benar-benar tercampur rata dan diamkan selama satu hari di dalam wadah yang tertutup rapat. Selanjutnya masak gula aren dengan air hingga gula aren larut ke dalam air," ujarnya.
Setelah satu hari, kata dia, buka asinan ikan teri dan campurkaan air gula aren dengan asinan ikan teri, kemudian masukkan ke dalam wadah yang tertutup rapat.
"Wadah yang tertutup rapat tersebut dibiarkan selama satu minggu dan jika sudah menghasilkan aroma yang khas dan rasanya agak asam, maka rusip sudah siap dikonsumsi," ujarnya.
Kelebihan dari makanan khas daerah Muntok ini, dapat dimakan tanpa dimasak atau dimasak sesuai selera dengan menambahkan irisan bawang merah dan cabai rawit.
Sementara itu, Yogi seorang warga Muntok mengaku rusip merupakan jenis makanan lalapan yang bisa menggugah selera makan karena aroma ikan busuk yang khas, asam dan benar-benar terasa pedas.
"Dalam Ramadhan ini kami mencari rusip sebagai menu khas saat berbuka dan terutama untuk makan sahur agar bisa membangkitkan selera makan," ujarnya.
Menurut dia, rusip sebagai makanan khas daerah Muntok ini tidak hanya diminati warga setempat tetapi juga para pendatang dari berbagai daerah.
"Kalau saya pulang kampung, keluarga di rumah selalu minta dibawakan rusip asli dari Muntok," kata Rendi, seorang perantau asal Palembang. (atr/rb)



Berikan Komentar

Muntok Lainnya
Buaya Doyan Kerupuk Jadi Tontonan
Buaya Doyan Kerupuk Jadi Tontonan
Rabu, 17 Mei 2017 16:52 WIB
KELAPA - Buaya salah satu hewan predator air yang sangat ganas. Bahkan buaya tak segan-segan mencabik daging mangsanya. Namun berbeda
5 Bulan Belum Terima Gaji, Kades Terpaksa Nyadap Karet
5 Bulan Belum Terima Gaji, Kades Terpaksa Nyadap Karet
Selasa, 16 Mei 2017 19:05 WIB
MUNTOK - Belum diterimanya gaji oleh 60 Kepala Desa (Kades) se Kabupaten Bangka Barat (Babar) sejak Januari 2017, menyebabkan mereka
Nelayan Terganggu Oli KIP 14
Nelayan Terganggu Oli KIP 14
Selasa, 09 Mei 2017 00:39 WIB
TEMPILANG - Antisipasi yang dilakukan PT Timah dengan memasang oil boom agar tak melubernya tumpahan minyak dan oli Kapal Isap
Dengar Pendapat Polemik Rencana Tambang Batu Bukit Kukus, "Kebijakan Ini Ngeri-ngeri Sedap"
Dengar Pendapat Polemik Rencana Tambang Batu Bukit Kukus, "Kebijakan Ini Ngeri-ngeri Sedap"
Kamis, 04 Mei 2017 19:48 WIB
MUNTOK - DPRD Kabupaten Bangka Barat (Babar), Rabu (3/5) kemarin menggelar rapat dengar pendapat terkait rencana tambang batu Bukit Kukus