TI Ilegal Marak Beroperasi di Koba


TI Ilegal Marak Beroperasi di Koba

AKTIFITAS Tambang Inkonvensional (TI) Ilegal yang ada dikawasan eks PT Koba Tin Kolong Marbukh, Kenari dan Pungguk Kecamatan Koba kembali marak beroperasi guna mengais biji timah pasca tidak beroperasinya lagi perusahaan asing tersebut, Minggu (12/11).
    
Tentu saja, keresahan akan dampak negatif yang lebih besar kembali menghantui warga disekitar kawasan itu, yakni Kelurahan Simpangperlang, Berok dan Koba.Apalagi banjir besar terjadi pada tahun-tahun sebelumnya lantaran besar rusaknya tanggul penampungan air akibat penambangan liar itu. Atas keresahan tersebut, warga meminta aparat kepolisian Polres Bangka Tengah harus turun ke lokasi.
    
Keluhan warga tersebut disampaikan Yoga, warga sekitar kepada Radar Bangka, Sabtu (11/10). Dirinya merasa bingung mengapa aktifitas itu kembali marak. Padahal beberapa waktu lalu tim gabungan (Timgab) yang terdiri dari aparat kepolisian, Pol PP Kecamatan dan Kabupaten dan unsur lainnya telah melakukan penertiban secara besar-besaran. 
    
"Bising suara mesin dompeng itu dari pagi hingga sore beroperasi.Mereka tidak bisa seperti ini terus, ini mengganggu ketertiban umum, tatkala kita mau istirahat siang hari.Kemarin perasaan baru saja dilakukan penertiban, nah ini ada lagi.Seakan tak mengindahkan penertiban petugas," keluhnya. 
    
Dirinya mengharapkan kepada oknum pihak yang bersangkutan dapat menghentikan segera kegiatan ini sehingga polemik tidak terjadi seperti sebelumnya.Dampak negatif yang besar bisa saja sewaktu-waktu terjadi apabila kegiatan ini tterus-menerus beroperasi. 
    
"Jangan sampai ada lagi kerusuhan, kericuhan ataupun keretakan antar masyarakat.Intinya harus segeralah dicarikan solusi yang tepat mengatasi problem tersebut. Jangan hanya memikiran kepentingan pribadi saja," katanya. 

Tak Hanya di Marbukh, Aktifitas TI Ilegal Ramai di Kolong Jongkong 12
Di lain tempat, Mustar warga Jongkong 12 Kecamatan Koba juga turut menyesalkan aktifitas TI Ilegal yang berjumlah diprakirakan mencapai ratusan ponton tambang jenis apung dan rajuk. Setiap harinya, kata dia, kian bertambah beberapa unit ponton oleh pekerja yang terus siap beroperasi.  
    
"Aktifitas penambangan mulai marak beroperasi sekitar dua bulan terakhir, seperti yang terlihat, operasi nampak lebih banyak berada ditepi kolong.Dipastikan itu kian memperlebar diameter kolong yang berfungsi sebagai penampung air sungai dikawasan koba dan sekitarnya," kata dia. 
  
Ia mengatakan, banyaknya aktifitas itu tidak sedikit ,bukan hanya puluhan melainkan telah ratusan unit. Sedangkan aktivitas baru berjalan 2 bulan, apalagi sudah 5 bulan lamanya, bisa lebih dari sini dan ditakutkan pendangkalan dibagian hulu sungai berok kian parah sehingga tatkala hujan mengguyur dapat berpotensi banjir.
    
Selain membikin resah dan khawatir, oknum yang terlibat egois karena lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada ketertiban umum karena aktivitas mesin dompeng menghasilkan suara yang membuat bising ditelinga saling bersahutan terdengar.  
    
"Hanya saja, aktifitas penambangan timah itu tidak sampai kemalam hari karena biasanya pada sore hari aktivitas dihentikan dan pekerja telah melakukan pencucian biji timah untuk dijual.Namun Itu kan ada perbatasan tempat tanaman sawit ditepian kolong, penambang saya lihat seakan tak bersalah memindahkan patok batasan yang tak boleh diganggu. Otomatis kan mereka tak memikirkan nasib masyarakat setempat, setiap hari makin bergeser kedarat itu patok, alhasil saya prakirakan mereka telah memakan lahan batas 10 meter lebih," bebernya.

Polres Bateng Akan Lakukan Penertiban 
Aparat Kepolisian Resor (Polres) Bateng akan siap menindaklanjuti laporan yang masuk ini karena berulang kali ditertibkan penambang masih saja melalukan kegiatan operasi tambang kembali. 
    
"Itu aktifitas TI mereka memang terindikasi ilegal, pasti kita akan lakukan penindakanlah. Kita akan turun nanti ke lapangan, lakukan penindakan berupa himbauan lagi, atau tindakan preventif serta represif," janji Kabag Ops Kompol Nursamsi seizin Kapolres Bateng. 

DLH Akan Koordinasi Bersama Pol PP Kabupaten 
Menanggapi maraknya TI Ilegal dan ratusan ponton beroperasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bateng, Ali Imron mengatakan pada dasarnya kabupaten cukup merasa kesulitan dalam menindaklanjuti aktifitas TI Ilegal pasca ranah wilayah pertambangan sudah diambil oleh provinsi. Namun pihaknya sesegera mungkin akan langsung mengambil langkah berkoordinasi dengan Pol PP Kabupaten guna menangani permasalahan tersebut. 
    
Menurut dia, penambang tidak masalah untuk meraup rezeki demi kebutuhan hidup dengan mengeksploitasi titik koordinat daerah yang masih banyak memiliki kandungan biji timah. Hanya saja, hendaknya eksploitasi itu tidak dilakukan secara berlebihan dengan tidak merusak alam karena apabila terjadi kerusakan alam semuanya dapat merasakan dampak negatifnya.
    
"Marilah bersahabat dengan alam, boleh eksploitasi, namun perhatikan kaidah lingkungan. Sekarang malahan eksploitasi semuanya, kalau tanggul jebol atau pendangkalan sungai terjadi, otomatis kan air meluap sewaktu terjadi musim hujan dengan kapasitas air yang tinggi.Kalau sudah banjir siapa yang dirugikan, kan semuanya kena dampak,  bukan hanya penambang saja," ungkap Ali Imron.
    
Beberapa titik daerah penampungan air telah ia tetapkan agar tidak terjadi eksploitasi aktivitas tambang secara liar seperti kolong Marbukh, Pungguk dan Kenari maupun Jongkong 12. Karena ketika pendangkalan kian parah, berapa kerugian negara yang ditotalkan keluar apabila banjir kembali melanda dengan melumpuhtotalkan banyaknya desa maupun kelurahan.Pihak terkait telah berapa kali diundang untuk disosialisasikan agar eksploitasi lahan tidak menyebabkan lahan menjadi kritis. 
    
"Kami tidak bisa menindak tegas kegiatan itu, melakukan penertiban.Kalau mau melakukan semua pihak harus terlibat , Pol PP nya, penegak hukum, pemerintah kecamatan, kelurahan atau desa serta jajaran dibawahnya.Jongkong 12  yang jebol kemarin, dan kolong marbukh, kenari dan pungguk juga meluap kemarin harusnya tidak ada lagi aktivitas disana. Makanya harus semua pihak bergerak, tentu harus melibatkan pihak kepolisian juga," ujarnya. (dev).





Berikan Komentar

Kamtibmas Lainnya
Sidang Afat Kolektor Timah Ditunda
Sidang Afat Kolektor Timah Ditunda
Jum'at, 24 November 2017 04:01 WIB
SUNGAILIAT - Sidang perdana perkara timah ilegal dengan terdakwa Tjen Sui Fat alias Afat, warga Jalan Kimjung Desa Puput, Kecamatan
Polres Bateng Sikat Habis Penambang Ilegal
Polres Bateng Sikat Habis Penambang Ilegal
Jum'at, 24 November 2017 03:57 WIB
KOBA - Sejumlah kegiatan pertambangan tanpa izin usaha pertambangan (IUP) yang berada dikawasan hutan lindung Bukit Ramai, Desa Batuberiga, Kecamatan
600 Ribu Ineks Buat Pesta Tahun Baru
600 Ribu Ineks Buat Pesta Tahun Baru
Jum'at, 24 November 2017 03:55 WIB
SERATUS dua puluh bungkus plastik berisi 600 ribu butir ekstasi asal Belanda yang dikirim melalui pengiriman udara, rencananya didistribusikan ke
Suami Istri Menangis Divonis 7 Tahun
Suami Istri Menangis Divonis 7 Tahun
Jum'at, 24 November 2017 03:53 WIB
Pasangan suami istri, Kuntum (32) dan Desi alias Nyai (25), warga Kelurahan Selapan Ilir, Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten OKI, bakal